Macron Singgung Pemimpin Politik Libanon di Tengah Krisis

Associated Press, CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 02:53 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan HIzbullah dan seluruh kelas politik Libanon terkait potensi terjadinya perang saudara. Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: AFP PHOTO / Benjamin CREMEL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, memperingatkan Hizbullah dan seluruh kelas politik Libanon terkait potensi kemunculan perang saudara baru.

Macron memperingatkan hal itu bisa terjadi jika mereka tidak dapat mengesampingkan kepentingan pribadi dan agama untuk membuka bantuan internasional dan menyelamatkan Libanon dari keruntuhan ekonomi.
 
"Saya malu dengan para pemimpin politik Libanon. Malu," kata Macron seperti dikutip Associated Press, Minggu (27/9).
 
Macron memberikan penilaian brutal terhadap para perantara kekuasaan Libanon. Dia menuduh mereka melakukan "pengkhianatan kolektif" dan memilih "untuk mendukung kepentingan partisan dan individu mereka sehingga merugikan negara secara umum".

Dua partai utama Syiah Libanon, Hizbullah dan sekutunya, Amala yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Nabih Berri bersikeras mempertahankan Kementerian Keuangan dalam pemerintahan baru dan menunjuk semua menteri kabinet Syiah.
 
Perdana menteri yang ditunjuk, Moustapha Adib, menolak persyaratan itu dan mengundurkan diri pada Sabtu. Perdebatan itu membuat arah politik Libanon semakin tidak pasti dan menunda bantuan luar negeri.
 
Macron tidak mengusulkan langkah konkret apa pun yang mungkin diambil Prancis jika cadangan Bank Sentral Libanon mongering dan pemerintah tidak lagi dapat mensubsidi barang-barang pokok seperti bahan bakar, obat-obatan, dan gandum.
 
Tapi dia telah mendesak politisi Libanon untuk membentuk kabinet yang terdiri dari para spesialis non-partisan, yang dapat bekerja pada reformasi mendesak untuk mengeluarkan Libanon dari krisis keuangan yang diperburuk oleh ledakan di Beirut pada 4 Agustus lalu. Macron telah melakukan perjalanan ke Beirut sebanyak dua kali.
 
Banyak orang di Libanon berpikir bahwa sanksi adalah satu-satunya cara efektif untuk menangani politisi yang mengutamakan kepentingan pribadi dan keserakahan mereka di atas kepentingan negara. Tapi itu akan menempatkan Prancis dalam konfrontasi dengan seluruh kelas politik.
 
"Bagi saya, sanksi tampaknya bukan alat terbaik, (setidaknya) pada tahap ini," kata Macron seperti mengutip Associated Press.


Macron mengkritik keputusan untuk membagi-bagi kementerian tertentu di antara berbagai kelompok agama di Libanon, "seolah-olah kompetensi berhubungan dengan pengakuan agama".
 
Dia juga mengulangi rencananya untuk mengadakan konferensi internasional pada akhir Oktober. Konferensi itu dimaksudkan untuk memobilisasi lebih banyak bantuan agar disalurkan ke badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kelompok bantuan non-pemerintah yang bekerja untuk membangun kembali Beirut setelah ledakan.

(ans/evn)

[Gambas:Video CNN]