Perdana, Eks Gerilyawan dan Tokoh Kiri jadi Presiden Kolombia

CNN Indonesia
Senin, 20 Jun 2022 08:11 WIB
Pertama dalam sejarah, Kolombia bakal dipimpin oleh tokoh kiri sekaligus mantan gerilyawan sebagai presiden negara itu, Gustavo Petro. Pertama dalam sejarah, tokoh kiri dan eks gerilyawan Gustavo Petro terpilih jadi Presiden Kolombia. (AP/Fernando Vergara)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertama dalam sejarah, Kolombia bakal dipimpin oleh tokoh kiri sekaligus mantan gerilyawan sebagai presiden negara itu, Gustavo Petro.

Petro menang tipis atas pesaingnya, Rodolfo Hernandez, dengan meraup lebih dari 50 persen suara pada pemilihan presiden tahun ini, seperti dikutip dari CNN.


Petro akan didampingi Francia Marquez sebagai Wakil Presiden Kolombia. Terpilihnya Marquez juga mencatatkan sejarah sebagai wanita Afro-Kolombia yang akan berada di kursi eksekutif negara itu.

"Mari kita merayakan kemenangan bersama ini. Semoga begitu banyak penderitaan [rakyat] terbalut dalam kegembiraan yang hari ini membanjiri jantung negara ini," demikian tulis Petro dalam akun Twitter, menyambut kemenangannya.

Presiden Kolombia saat ini, Ivan Duque, juga menyampaikan ucapan selamat kepada Petro atas kemenangan tersebut. Mereka juga sepakat bakal mengadakan pertemuan dalam beberapa hari ke depan untuk memulai transisi pemerintahan yang damai, konstitusional, dan transparan.

[Gambas:Video CNN]

Hernandez yang merupakan pesaing terberatnya juga telah memberikan pidato menerima hasil pemilihan presiden.

"Saya menerima kemenangan seperti seharusnya jika kita ingin institusi kita kuat. Secara tulus saya berharap hasil ini membawa manfaat bagi semua dan Kolombia tengah menuju ke arah perubahan," tutur pria 77 tahun itu.

Hernandez juga berharap bahwa Petro mengetahui yang harus ia lakukan untuk memimpin Kolombia. Ia juga mengharapkan bahwa Petro setia dengan pidatonya memerangi korupsi dan tidak mengecewakan rakyat yang telah memilihnya.

Petro maupun Hernandez mengusung misi perubahan, mengambil momentum atas rakyat Kolombia yang muak terhadap Duque. Sang Presiden saat ini dianggap menjalankan pemerintahan dengan represif, menguatkan ketidaksetaraan, dan membiarkan bentrok antarkelompok kriminal di Kolombia.

Petro sudah dua kalo mengalami kegagalan mencalonkan sebagai presiden pada 2010 dan 2018. Namun, kemenangannya pada putaran kedua pilpres 2022 ini membuktikan ia mampu menebus keraguan pemilih yang pernah mencapnya sebagai tokoh sayap kiri radikal.

Tentu saja kemenangannya itu disebut sebagai sesuatu yang luar biasa lantaran mayoritas warga Kolombia merupakan konservatif di Amerika Selatan.

Kemenangan Petro pun tak lepas dari situasi sosial-ekonomi Kolombia yang terus memburuk. Kondisi itu diperburuk oleh pandemi Covid-19 dan krisis akibat perang Ukraina vs Rusia.

Berdasarkan jajak pendapat dari lembaga riset Gallup, Kolombia disebut berada dalam arah ekonomi yang salah. Pertumbuhan ekonomi yang mengesankan berbarengan dengan kesenjangan yang semakin menganga antara si kaya dan si miskin.

Lahir di desa Cienage de Oro wilayah utara Kolombia, Petro menjalani masa mudanya dalam gerakan kiri dan turut serta dalam Gerakan 19 April (M19) pada 1970.

Ia juga terlibat dalam kelompok gerilya di negaranya yang terinspirasi dari Revolusi Kuba.

Gerakan M19 juga sempat dituding oleh pemerintah saat itu sebagai aktivitas ilegal, termasuk melakukan penculikan untuk tebusan. Namun, Petro menepis tudingan itu.

Ia menegaskan gerakannya merupakan legal untuk menggerakkan orang-orang melawan sistem uang disebutnya sebagai 'demokrasi palsu'.

Petro juga pernah ditangkap polisi pada 1985 karena menyimpan senjata api. 

(bac/bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER