Pengamat: Kunjungan Jokowi Bukan Tanda Rusia-Ukraina bakal Berdamai

CNN Indonesia
Sabtu, 02 Jul 2022 19:35 WIB
Pengamat menyebut kunjungan Jokowi tidak bisa dilihat sebagai solusi damai Rusia-Ukraina Presiden Jokowi saat bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja menilai pertemuan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin belum berdampak signifikan terhadap tujuan perdamaian.

Menurut Dinna, kunjungan perdana Jokowi ke kedua negara yang sedang berkonflik itu tidak bisa dimaknai sebagai solusi.

"Ya, sumber masalahnya kan besar, ada masalah internal Ukraina, Ukraina-Rusia, internal NATO, perluasan NATO, jadi memang jangan dilihat kunjungan satu kali jadi solusi dong," ujar Dinna kepada CNNIndonesia.com melalui pesan tertulis, Sabtu (2/7).

"Situasi di NATO masih panas sekali, jadi memang kita di Asia perlu lebih gencar menyuarakan antiperang," lanjut dia.

Dinna yang juga merupakan pendiri Synergy Policies ini mengatakan Jokowi berperan untuk menyuarakan aspirasi Indonesia dan kawasan sembari menjamin kepentingan Indonesia tercapai dalam pertemuan dimaksud.

"PR [Pekerjaan Rumah] lanjutan masih perlu dilakukan," ucap Dinna.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menilai Jokowi sangat cerdas untuk menghadirkan gencatan senjata dengan memberi gambaran akan terjadi krisis pangan di negara-negara berkembang.

Sebab, menurut dia, perang berdampak pada rantai pasokan gandum dan pupuk.

"Tentu gencatan senjata tidak akan dirasakan langsung tetapi perlahan-lahan akan berkurang. Nanti kita akan lihat Ukraina bisa lakukan ekspor gandum dan Rusia juga bisa ekspor pupuk ke negara-negara berkembang," kata Hikmahanto kepada CNNIndonesia.com melalui pesan tertulis.

Hikmahanto lantas menyoroti sejumlah serangan ataupun ledakan yang terjadi bertepatan dengan agenda misi perdamaian yang diemban Jokowi.

Menurut dia, serangan tersebut kemungkinan dipicu oleh sikap para pemimpin negara anggota G7 yang mengejek Putin.

"Harusnya negara-negara tersebut tidak mengolok-olok fisik Putin. Sebagai negara yang beradab dan selalu menceramahi penghormatan HAM, tidak seharusnya mereka mengolok-olok," ucap dia.

"Jadi, runyam apa yang sedang dirajut oleh Presiden Jokowi," pungkasnya.

Sebelumnya, Jokowi menemui Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 29-30 Juni waktu setempat.

Sebelum Jokowi dan Zelensky berdialog, ledakan terjadi di wilayah Ukraina selatan, Mykolaiv, pada pagi waktu setempat. Ledakan membuat dua orang tewas.

Sementara itu, sesaat Jokowi meninggalkan Rusia, tepatnya pada Jumat (1/7), rudal menghantam gedung apartemen sembilan lantai dan tempat rekreasi di Odessa.

Sebagian gedung hancur dan tercatat 21 orang meninggal dunia.

Jokowi melawat ke Ukraina dan Rusia dengan tujuan membawa misi damai. Dalam pertemuan itu, Jokowi turut membahas pasokan pangan yang terdampak akibat perang dan menekankan agar rantai pangan dan pupuk global kembali normal.

[Gambas:Video CNN]

(ryn/lth)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER