Staf media Unifikasi Federasi Keluarga dan Perdamaian Dunia (FFWPU) yang menjadi nama resmi Gereja Unifikasi, Demian Dunkley, membantah pihaknya memaksa jemaat untuk berdonasi.
"Penilaian kami bahwa semua sumbangan sebelum [ke] Surga harus diberikan secara cuma-cuma," kata Dunkley kepada AFP, dikutip Kamis (28/7).
Ia kemudian berujar, "FFWPU terkadang meminta sumbangan, tetapi anggota FFWPU memilih apakah, kapan, dan berapa banyak yang akan mereka berikan."
Donasi di Gereja Unifikasi jadi sorotan tajam usai insiden penembakan Shinzo Abe. Pelaku pembunuh Abe, Tetsuya Yamagami, mengaku dendam terhadap organisasi ini lantaran membuat bangkrut sang ibu.
Ibu Yamagami disebut telah menyumbang ke Gereja Unifikasi sebesar 100 juta yen atau sekitar Rp10,8 miliar.
Sang ibu sempat menjadi organisasi ini pada 1998 usai suaminya meninggal. Kemudian pada Juni 1999, ia menjual tanah warisan kakeknya dan rumah di Nara.
Salah satu mantan jemaat Gereja Unifikasi, Hiroshi Yamaguchi, buka suara soal donasi jemaat di sekte ini.
"Anggota dalam tekanan setiap hari untuk donasi," kata Yamaguchi.
Ia kemudian bercerita bahwa sekte ini memberi tahu ke anggota karma melekat pada uang dan donasi menjadi jalan penyelamat.
"[Donasi] adalah satu-satunya cara menyelamatkan diri Anda sendiri. Jadi Anda pikir Anda harus melakukannya," terang Yamaguchi.
Lanjut baca halaman berikutnya...
Pengakuan Mantan Anggota Gereja Unifikasi
Mantan anggota yang lain juga punya kisah kelam saat menjadi jemaah sekte ini.
Salah satu perempuan Jepang menceritakan bahwa ibunya meminta dia untuk tetap tinggal dengan suami yang kasar karena pilihan Gereja. Perceraian, bagi organisasi ini, tabu dan hanya membuat senang para setan.
"Apa yang dilakukan Yamagami tak bisa dibenarkan. Tapi, begitu parahnya gereja menghancurkan kehidupan," kata dia pada Juni lalu.
Pengamat menilai Gereja Unifikasi mencampuradukkan budaya dan imperialisme.
Pengamat Korea Selatan sekaligus anggota Gereja Anglikan, Reverend Tahk, mengatakan kesuksesan Gereja Unifikasi di Jepang terhadap pemujaan leluhur tradisional, memberi lahan subur bagi sekte ini.
"Budaya dan tradisi agama Jepang, yang berfokus mendoakan kesejahteraan leluhur yang sudah meninggal dan berkah mereka untuk keturunannya, ternyata menjadi ladang yang subur bagi gereja ini yang mencampuradukkan agama dan imperialisme," ujar Reverend Tahk kepada This Week in Asia yang dikutip South China Morning Post.
Gereja Unifikasi di Jepang meraup jutaan dolar setiap tahun. Mereka menjual rosario, patung Buddha, dan jus ginseng dengan harga selangit yang konon membawa roh pengembara ke surga. Patung misalnya dibanderol dengan harga 43 juta yen atau sekitar Rp4,8 miliar.
Gereja juga mendorong para anggota untuk memberi donasi khusus untuk kematian, bahkan dengan mengambil pinjaman.
Staf media Unifikasi Federasi Keluarga dan Perdamaian Dunia (FFWPU) yang menjadi nama resmi Gereja Unifikasi, Demian Dunkley, membantah pihaknya memaksa jemaat untuk berdonasi.
"Penilaian kami bahwa semua sumbangan sebelum [ke] Surga harus diberikan secara cuma-cuma," kata Dunkley kepada AFP, dikutip Kamis (28/7).
Ia kemudian berujar, "FFWPU terkadang meminta sumbangan, tetapi anggota FFWPU memilih apakah, kapan, dan berapa banyak yang akan mereka berikan."
Donasi di Gereja Unifikasi jadi sorotan tajam usai insiden penembakan Shinzo Abe. Pelaku pembunuh Abe, Tetsuya Yamagami, mengaku dendam terhadap organisasi ini lantaran membuat bangkrut sang ibu.
Ibu Yamagami disebut telah menyumbang ke Gereja Unifikasi sebesar 100 juta yen atau sekitar Rp10,8 miliar.
Sang ibu sempat menjadi organisasi ini pada 1998 usai suaminya meninggal. Kemudian pada Juni 1999, ia menjual tanah warisan kakeknya dan rumah di Nara.
Salah satu mantan jemaat Gereja Unifikasi, Hiroshi Yamaguchi, buka suara soal donasi jemaat di sekte ini.
"Anggota dalam tekanan setiap hari untuk donasi," kata Yamaguchi.
Ia kemudian bercerita bahwa sekte ini memberi tahu ke anggota karma melekat pada uang dan donasi menjadi jalan penyelamat.
"[Donasi] adalah satu-satunya cara menyelamatkan diri Anda sendiri. Jadi Anda pikir Anda harus melakukannya," terang Yamaguchi.
Lanjut baca halaman berikutnya...
Pengakuan Mantan Anggota Gereja Unifikasi
Bendera Gereja Unifikasi. (AFP/KIM JAE-HWAN)
Pengakuan Mantan Anggota Gereja Unifikasi
Mantan anggota yang lain juga punya kisah kelam saat menjadi jemaah sekte ini.
Salah satu perempuan Jepang menceritakan bahwa ibunya meminta dia untuk tetap tinggal dengan suami yang kasar karena pilihan Gereja. Perceraian, bagi organisasi ini, tabu dan hanya membuat senang para setan.
"Apa yang dilakukan Yamagami tak bisa dibenarkan. Tapi, begitu parahnya gereja menghancurkan kehidupan," kata dia pada Juni lalu.
Pengamat menilai Gereja Unifikasi mencampuradukkan budaya dan imperialisme.
Pengamat Korea Selatan sekaligus anggota Gereja Anglikan, Reverend Tahk, mengatakan kesuksesan Gereja Unifikasi di Jepang terhadap pemujaan leluhur tradisional, memberi lahan subur bagi sekte ini.
"Budaya dan tradisi agama Jepang, yang berfokus mendoakan kesejahteraan leluhur yang sudah meninggal dan berkah mereka untuk keturunannya, ternyata menjadi ladang yang subur bagi gereja ini yang mencampuradukkan agama dan imperialisme," ujar Reverend Tahk kepada This Week in Asia yang dikutip South China Morning Post.
Gereja Unifikasi di Jepang meraup jutaan dolar setiap tahun. Mereka menjual rosario, patung Buddha, dan jus ginseng dengan harga selangit yang konon membawa roh pengembara ke surga. Patung misalnya dibanderol dengan harga 43 juta yen atau sekitar Rp4,8 miliar.
Gereja juga mendorong para anggota untuk memberi donasi khusus untuk kematian, bahkan dengan mengambil pinjaman.