Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pengamat menilai respons tegas China atas kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat, Nancy Pelosi, ke Taiwan merupakan cerminan rasa malu dan tak percaya diri.
Para pengamat melihat gelagat ini setelah melihat respons besar-besaran China, seperti latihan militer hingga mengerahkan puluhan jet tempur ke zona identifikasi udara Taiwan (ADIZ) ketika Pelosi berkunjung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hu Xijin, mantan pemimpin redaksi media pemerintah China, Global Times, bahkan menyatakan bahwa Beijing bakal mengusir pesawat Pelosi atau mungkin menembaknya.
Sejumlah pengamat menganggap reaksi besar ini merupakan cerminan China tak percaya diri karena terancam melihat AS dan sekutunya terus memperkuat relasi dengan Taiwan.
Seorang profesor hubungan internasional di Universitas Teknologi Nanyang, Li Mingjiang, menilai relasi Taiwan dan negara-negara Barat mengancam kepentingan nasional China dalam beberapa tahun terakhir.
Willy Lam, analis politik China di Hong Kong, juga menyoroti bahwa belakangan, diplomat Beijing kerap mengeluhkan sikap AS yang tak lagi menjunjung kebijakan "satu China", terlihat dari sejumlah kesepakatan senjata dengan Taipei.
Sementara hubungan AS dan Taiwan menguat, sejumlah politikus kawasan Eropa juga kian sering mengunjungi Taipei.
"[Presiden China Xi Jinping] merasa kesal dan tak sabar dengan fakta bahwa pemimpin senior, tak hanya dari AS, tetapi juga Jepang, Uni Eropa, dan lainnya, berkunjung ke Taiwan dalam setahun terakhir," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Di waktu bersamaan, generasi muda Taiwan juga merasakan identitas mereka sebagai warga negara Taiwan yang merdeka juga lebih kuat. Menurut Li, semua ini membuat situasi di Taiwan tak begitu positif untuk China.
Li juga menuturkan tindakan tegas Beijing atas kunjungan Pelosi dilakukan untuk "menekan perkembangan hubungan lintas selat dan hubungan AS-Taiwan agar tak lebih mengancam China."
Profesor ilmu politik di Universitas Nasional Sun Yat-Sen di Taiwan, Titus Chen, mengatakan bahwa provokasi militer saat kedatangan Pelosi ini pun bukan berarti China siap bertempur atau menyulut perang.
Mengapa China tak mungkin menyulut perang? Baca di halaman berikutnya >>>
China Tak Mungkin Kobarkan Perang dengan AS
Ilustrasi jet Shenyang. (U.S. Navy/Wikimedia CC-PD-Mark)
Profesor ilmu politik di Universitas Nasional Sun Yat-Sen di Taiwan, Titus Chen, mengatakan bahwa provokasi militer saat kedatangan Pelosi ini pun bukan berarti China siap bertempur atau menyulut perang.
"Hal terakhir yang diinginkan Xi adalah tersulutnya perang secara tak disengaja," kata Chen kepada AFP.
"Rencana B Xi adalah untuk menjelaskan lewat propaganda [Partai Komunis China] dan sistem pengendalian pikirannya, rasa memalukan dan terhina yang dirasakan Beijing kala Pelosi berkunjung ke Taiwan."
Mantan perwira Angkatan Udara Amerika Serikat, Guermantes Lailari, juga mengatakan bahwa Xi melakukan kesalahan bodoh jika memulai perang dengan Taiwan saat ini, apalagi dengan kemampuan militer di bawah Paman Sam.
"Presiden Xi akan melakukan kesalahan bodoh jika memulai perang saat ini, khususnya saat AS dan sekutunya berada di tingkat kewaspadaan tinggi," ujar Lailari, dikutip Taiwan News.
"Dia [Xi] mungkin meluncurkan sejumlah rudal, meluncurkan pesawat militer dalam jumlah besar, dan beberapa aksi simbolik lain, tetapi bukan perang. Dia bakal melanggar dekrit Mao [Zedong] untuk menipu sebanyak mungkin."