4 Eksekusi di Korut, Warga Dipaksa Tonton Terpidana Ditembak Mati
CNN Indonesia
Rabu, 07 Des 2022 07:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Korea Utara gempar karena pemerintah memaksa warganya untuk menonton eksekusi mati di depan mata mereka. (iStockphoto/narvikk)
Jakarta, CNN Indonesia --
Korea Utara gempar karena pemerintah memaksa warganya untuk menonton eksekusi mati di depan mata mereka.
Seorang sumber mengatakan kepada Daily NK bahwa Korut sengaja melakukan eksekusi mati ini di hadapan publik untuk menimbulkan efek takut di tengah masyarakat.
"Mereka mencoba membungkam ketidakpuasan meluas terhadap rezim dengan menciptakan ketakutan bahwa semua orang bisa menghadapi eksekusi jika tak mematuhi perintah Partai Buruh," ujar sumber itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Korut memang mengetatkan kekang terhadap warganya sepanjang tahun ini, dalam rangka 10 tahun kepemimpinan Kim Jong Un.
Hingga saat ini, tak diketahui pasti jumlah eksekusi mati yang dilakukan Korut sepanjang 2022.
Namun, setidaknya empat eksekusi mati yang dilakukan di depan publik bocor ke sejumlah media, termasuk hukuman terhadap dua remaja pengedar film Korea Selatan.
1. Dokter 'Bapak A' di Kota Wonsan
Pada November lalu, Kota Wonsan gempar ketika seorang dokter yang dikenal dengan sebutan "Bapak A" dieksekusi mati di hadapan publik.
Bapak A diadili karena menjual obat racikan sendiri dengan bahan dasar penisilin dan streptomycin yang ia beli dari China secara ilegal.
Ia mulai menjual obat tersebut karena Korut saat ini sedang mengalami kelangkaan obat-obatan.
2. Tentara 'Bapak B' ditembak mati di depan rekan-rekan
Tak hanya warga sipil, anggota militer juga bisa menjadi sasaran eksekusi mati di depan umum.
Seorang sumber di Provinsi Hamgyong bercerita bahwa kejadian itu menimpa salah satu temannya yang merupakan anggota brigade Komando Penjaga Utama.
Komando itu bertugas mengawal Kim Jong Un dan keluarganya. Saat kejadian, tim pimpinan Bapak B sedang ditugaskan melindungi salah satu vila Kim di Kyongsong County.
Namun, Bapak B malah memerintahkan sejumlah personelnya untuk membangun rumahnya sendiri.
Selain itu, Bapak B juga menerima suap dari bawahannya. Sang pemberi suap bakal dipermudah ketika meminta dokumen perjalanan dan boleh mengambil cuti kapan pun.
Setelah Bapak B dieksekusi, timnya benar-benar dibubarkan. Pasukan baru kemudian ditunjuk untuk menjaga vila Kim di Kyongsong.
3. Dua remaja ditembak mati gegara tonton film Korea Selatan
Di Kota Hyesan, warga juga ketakutan ketika dipaksa menyaksikan eksekusi mati terhadap dua remaja yang ketahuan menonton dan mengedarkan film Korsel.
Seorang sumber mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa eksekusi itu dilaksanakan di salah satu pangkalan udara di Hyesan pada Oktober lalu.
"Penduduk Hyesan dikumpulkan di landasan pacu
Saat eksekusi berlangsung, pihak berwenang mengingatkan warga bahwa para remaja yang diperkirakan berusia 16-17 tahun itu sama-sama jahat.
"Mereka bilang, 'Mereka yang menonton atau mengedarkan film-film dan drama Korea Selatan tidak akan dimaafkan dan akan dihukum maksimal hukuman mati," tutur salah satu warga Hyesan.
Di tempat eksekusi yang sama, Korut juga menembak mati seorang remaja terpidana kasus pembunuhan ibunya sendiri.
Menurut pihak berwenang di lokasi kejadian, pembunuh ibu itu sama bejat dengan kedua remaja yang mengedarkan konten Korsel.
Jakarta, CNN Indonesia --
Korea Utara gempar karena pemerintah memaksa warganya untuk menonton eksekusi mati di depan mata mereka.
Seorang sumber mengatakan kepada Daily NK bahwa Korut sengaja melakukan eksekusi mati ini di hadapan publik untuk menimbulkan efek takut di tengah masyarakat.
"Mereka mencoba membungkam ketidakpuasan meluas terhadap rezim dengan menciptakan ketakutan bahwa semua orang bisa menghadapi eksekusi jika tak mematuhi perintah Partai Buruh," ujar sumber itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Korut memang mengetatkan kekang terhadap warganya sepanjang tahun ini, dalam rangka 10 tahun kepemimpinan Kim Jong Un.
Hingga saat ini, tak diketahui pasti jumlah eksekusi mati yang dilakukan Korut sepanjang 2022.
Namun, setidaknya empat eksekusi mati yang dilakukan di depan publik bocor ke sejumlah media, termasuk hukuman terhadap dua remaja pengedar film Korea Selatan.
1. Dokter 'Bapak A' di Kota Wonsan
Pada November lalu, Kota Wonsan gempar ketika seorang dokter yang dikenal dengan sebutan "Bapak A" dieksekusi mati di hadapan publik.
Bapak A diadili karena menjual obat racikan sendiri dengan bahan dasar penisilin dan streptomycin yang ia beli dari China secara ilegal.
Ia mulai menjual obat tersebut karena Korut saat ini sedang mengalami kelangkaan obat-obatan.
2. Tentara 'Bapak B' ditembak mati di depan rekan-rekan
Tak hanya warga sipil, anggota militer juga bisa menjadi sasaran eksekusi mati di depan umum.
Seorang sumber di Provinsi Hamgyong bercerita bahwa kejadian itu menimpa salah satu temannya yang merupakan anggota brigade Komando Penjaga Utama.
Komando itu bertugas mengawal Kim Jong Un dan keluarganya. Saat kejadian, tim pimpinan Bapak B sedang ditugaskan melindungi salah satu vila Kim di Kyongsong County.
Namun, Bapak B malah memerintahkan sejumlah personelnya untuk membangun rumahnya sendiri.
Selain itu, Bapak B juga menerima suap dari bawahannya. Sang pemberi suap bakal dipermudah ketika meminta dokumen perjalanan dan boleh mengambil cuti kapan pun.
Setelah Bapak B dieksekusi, timnya benar-benar dibubarkan. Pasukan baru kemudian ditunjuk untuk menjaga vila Kim di Kyongsong.
4 Eksekusi Korut di 2022, Warga Dipaksa Tonton Terpidana Ditembak Mati
Ilustrasi. Korea Utara gempar karena pemerintah memaksa warganya untuk menonton eksekusi mati di depan mata mereka. (iStockphoto)
3. Dua remaja ditembak mati gegara tonton film Korea Selatan
Di Kota Hyesan, warga juga ketakutan ketika dipaksa menyaksikan eksekusi mati terhadap dua remaja yang ketahuan menonton dan mengedarkan film Korsel.
Seorang sumber mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa eksekusi itu dilaksanakan di salah satu pangkalan udara di Hyesan pada Oktober lalu.
"Penduduk Hyesan dikumpulkan di landasan pacu
Saat eksekusi berlangsung, pihak berwenang mengingatkan warga bahwa para remaja yang diperkirakan berusia 16-17 tahun itu sama-sama jahat.
"Mereka bilang, 'Mereka yang menonton atau mengedarkan film-film dan drama Korea Selatan tidak akan dimaafkan dan akan dihukum maksimal hukuman mati," tutur salah satu warga Hyesan.