Jakarta, CNN Indonesia -- Raja Yordania Abdullah II blak-blakan berani mengangkat senjata melawan Israel jika Tel Aviv mengubah statusnya sebagai wali pelindung situs suci di Yerusalem, termasuk Masjid Al-Aqsa.
Ultimatum Raja Abdullah II itu diutarakannya menyusul laporan bahwa sejumlah pejabat di Israel terus mendorong perubahan status atas kontrol situs-situs suci bagi umat Islam, Yahudi, hingga Kristen di Yerusalem.
Kerajaan Hashemite Yordania telah menjadi penjaga situs suci Yerusalem sejak 1924 dan mengklaim sebagai penjamin hak beragama Muslim dan Kristen di kota itu. Raja Yordania bahkan secara resmi mendapat gelar Custodian of Holy Sites in Jerusalem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebetulnya, bagaimana peran Yordania sebagai wali pelindung Masjid Al-Aqsa dan situs suci lainnya di Yerusalem?
Yordania dianggap sangat penting untuk menjaga keseimbangan antar bangsa dan agama di Yerusalem, termasuk melindungi Masjid Al-Aqsa atau Haram Al-Sharif.
Jauh sebelum Kerajaan Al-Saud di Arab Saudi berkuasa, Kerajaan Hashemite Yordania lah yang memegang kendali atas Mekah, Madinah, Yerusalem, hingga Tepi Barat Palestina. Karena itu, Yordania sangat terikat dengan situs-situs suci umat Islam.
[Gambas:Video CNN]
Raja Abdullah II sendiri bahkan merupakan generasi ke-41 keturunan langsung Nabi Muhammad, menurut The Royal Islamic Strategic Studies Centre.
Selain itu, Yordania juga sangat berhubungan dengan bangsa Palestina karena pernah menguasai Tepi Barat dan sekitarnya. Lebih dari setengah penduduk Yordania juga merupakan keturunan Palestina. Yordania kini juga menjadi salah satu negara paling banyak menampung pengungsi Palestina akibat pendudukan Israel.
"Yordania sangat terlibat dalam banyak hal di Yerusalem. [Karena warga Palestina di Yerusalem adalah] anak yatim piatu politik, sebab tak ada yang merawat mereka," kata jurnalis keturunan Palestina-Yordania, Daoud Kuttab, seperti dikutip The National.
Secara historis, Kerajaan Hashemites telah mempertahankan kedudukan Yerusalem dan menjauhkannya dari pertengkaran politik sejak kota itu menjadi kiblat pertama umat Islam di dunia.
Namun, pada 1967, perang berkobar antara Israel, Mesir, Suriah dan Yordania.
Dalam perang ini, Israel berhasil menguasai sejumlah wilayah, termasuk Yerusalem Timur.
Kemudian pada 1994, Israel dan Yordania menandatangani perjanjian damai. Dalam perjanjian tersebut, Israel secara resmi mengakui peran khusus Yordania untuk melindungi tempat-tempat suci di Yerusalem, mencakup Masjid Al-Aqsa.
Peran Yordania di Yerusalem dan statusnya sebagai pelindung situs suci di sana, baca di halaman berikutnya >>>
Bagaimana Peran Yordania Jadi Wali Pelindung Al-Aqsa di Yerusalem?
Polisi Israel Bentrok Kembali dengan Warga Palestina di Al-Aqsa. (Foto: AP/Mahmoud Illean)
Sejumlah pihak kerap mengkritik dan mempertanyakan peran Yordania selama sebagai Wali Pelindung/Penjaga situs suci di Yerusalem lantaran Israel yang terlihat lebih dominan dan agresif mengatur aktivitas warga di kota suci bagi tiga umat agama itu.
Israel bahkan kerap secara sepihak menerapkan aturan dan larangan warga beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa atau yang dikenal umat Yahudi sebagai situs suci Tembok Ratapan (Temple Mount).
Tindakan Israel pun tak jarang membuat situasi di Al-Aqsa kerap memanas hingga sering memicu bentrokan antara aparat Israel, umat Muslim terutama warga Palestina sampai menelan korban.
Tak sedikit pula warga di Yerusalem secara terbuka merasa frustrasi karena Yordania dianggap tidak berbuat banyak untuk memperjuangkan Masjid Al-Aqsa dan Palestina.
Amman juga dianggap tak mengambil tindakan signifikan untuk mengakhiri pendudukan Israel yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Yordania semakin jadi sorotan setelah Amerika Serikat memindahkan Kedutaan Besar mereka untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem pada 2018 di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Langkah itu dilakukan Trump sebagai sikapnya mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, sebuah langkah yang memicu konflik Israel-Palestina memanas.
Sebab, selama setengah abad lebih, Israel-Palestina saling berebut klaim atas kota itu yang dianggap keduanya merupakan ibu kota masing-masing.
"Di satu sisi ada apresiasi [di kalangan Palestina Yerusalem] atas peran Yordania dalam menahan kebijakan Israel. Dan di sisi lain, ada ketidakpuasan bahwa Yordania tak berbuat lebih banyak," kata analis senior International Crisis Group untuk Israel/Palestina Ofer Zalzberg.
Namun, di sisi lain, Yordania adalah perantara penting bagi Israel dengan Palestina selama masa ketegangan di kota tersebut, khususnya di Yerusalem.
"Ini bukan hanya hubungan bilateral antara Israel dan Palestina. Anda harus melakukan triangulasi dan selalu menyertakan orang Yordania," ujar pakar Israel di Yerusalem Daniel Seidemann.
Pengamat lain bahkan menilai status penjaga kota suci Yordania hanya sebagai simbol.
"Karena masjid berada di wilayah pendudukan, di mana Israel memutuskan dan mengontrol segalanya, dan itulah sumber masalahnya," ujat peneliti dari Stimson Center yang berbasis di Washington DC, Amer Al Sabaileh, demikian dikutip CNN.
Ia menilai model perwalian perlu direvisi sebelum menjadi masalah besar bagi Yordania. Terutama, saat Israel menormalisasi hubungan dengan negara Arab.