Kenapa Yordania Bisa Jadi Wali Penjaga Masjid Al-Aqsa di Yerusalem?
CNN Indonesia
Jumat, 30 Des 2022 12:42 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Raja Yordania Abdullah II memperingatkan Israel negaranya tak segan angkat senjata jika Tel Aviv berani mengubah statusnya sebagai wali penjaga Masjid Al-Aqsa. (AP/Mahmoud Illean)
Jakarta, CNN Indonesia --
Yordania menjadi perhatian usai Raja Abdullah IIsiap mengangkat senjata jika Israel berani mengubah statusnya sebagai wali pelindung Masjid Al-Aqsa.
Abdullah II khawatir terhadap sejumlah pihak Israel yang punya motif tertentu. Beberapa pejabat Israel disebut ingin mendorong perubahan status Yordania sebagai wali atau penjaga situs umat Muslim dan Kristen di Yerusalem Timur, termasuk Masjid Al-Aqsa.
"Jika orang ingin terlibat konflik dengan kami, kami cukup siap. Jika orang ingin mendorong batasan itu, maka kami akan menghadapinya," kata Raja Abdullah II, seperti dikutip CNN, Rabu (28/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari seruan raja, bagaimana awal mula Yordania bisa menjadi wali atau penjaga situs suci di Yerusalem terutama Masjid Al-Aqsa?
Kerajaan Hashemites Yordania telah menjadi penjaga situs suci Yerusalem sejak 1924. Dinasti ini dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad.
Dengan kebangkitan negara Yordania, upaya untuk melindungi tempat-tempat suci Yerusalem berlanjut dengan sungguh-sungguh di bawah payung kepemimpinan Kerajaan Hashemites.
Dalam menjaga situs suci, mereka mengklaim sebagai penjamin hak beragama Muslim dan Kristen di kota itu.
Kerajaan Hashemites sempat menguasai kota suci Mekah selama berabad-abad sebelum ditaklukkan House of Saud atau yang sekarang dikenal Kerajaan Arab Saudi pada 1924.
Kota lain yang tak kalah penting, Madina, juga berhasil direbut Saudi. Sementara itu, Al-Aqsa masih di bawah kendali Kerajaan Hashim Yordania, demikian dikutip The Guardian.
Pada 1948 hingga 1967, Yordania juga sempat memerintah Tepi Barat dan Yerusalem Palestina. Beberapa undang-undang hingga kini bahkan masih merujuk pasal-pasal Yordania, demikian dikutipThe National.
Karena itu, Palestina dan Yordania sangat berhubungan secara sejarah dan geografis.
Secara historis, Kerajaan Hashemites secara agama dan moral terhubung dengan Mekah dan tempat-tempat suci Islamnya. Kerajaan Hashemites telah mempertahankan kedudukan Yerusalem dan menjauhkannya dari pertengkaran politik sejak kota itu menjadi kiblat pertama umat Islam di dunia.
Lebih dari setengah warga Yordania juga merupakan keturunan Palestina.
Namun, pada 1967 Israel mengobarkan perang selama enam hari melawan Mesir, Yordania, dan Suriah, yang kemudian dikenal Perang 1967.
Dalam perang ini, Israel berhasil menguasai Sinai, Jalur gaza, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Yerusalem Timur. Namun, kota terakhir itu tak secara resmi mencaplok, tetapi terintegrasi dalam pemerintahan.
Kemudian pada 1994, Israel dan Yordania menandatangani perjanjian damai. Dalam kesepakatan itu, Israel secara resmi mengakui peran khusus Yordania untuk melindungi tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Al-Aqsa.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Meski status pelindung situs suci di Yerusalem telah disepakati Israel-Yordania, Tel-Aviv dan Amman kerap bertikai. Yordania menuduh Israel melanggar perjanjian karena mengatur aktivitas warga beribadah di Yerusalem, kota suci bagi tiga agama: Islam, Kristen, dan Yahudi.
Pasukan Israel juga kerap membatasi dan melakukan kekerasan terhadap umat Muslim yang tengah beribadah di Masjid Al-Aqsa.
Tindakan keras Israel, bagaimanapun, memicu pertanyaan di mana Yordania selaku penjaga situs suci.
Menurut laporan CNN, meski menyandang status perwalian, Yordania tak memberi kendali atas pergerakan di dalam dan sekitar situs di Yerusalem. Kota itu tetap berada di bawah kendali Israel dan kerajaan Yordania tak punya pasukan di sana.
Beberapa ahli menilai peran pelindung yang dipegang Yordania hanya simbolis.
"Karena masjid berada di wilayah pendudukan, di mana Israel memutuskan dan mengontrol segalanya, dan itulah sumber masalahnya," ujat peneliti dari Stimson Center yang berbasis di Washington DC, Amer Al Sabaileh.
Ia menilai model perwalian perlu direvisi sebelum menjadi masalah besar bagi Yordania. Terutama, saat Israel menormalisasi hubungan dengan negara Arab.
Pertanyaan soal peran dalam menjaga tempat suci Yerusalem mungkin muncul, dan Yordania perlu memanfaatkan nilai statusnya di sana.
Israel sejauh ini berusaha mendekat Saudi agar bersedia normalisasi. Tel Aviv disebut-sebut memberikan tawaran penjaga Yerusalem, jika Riyadh mau membangun hubungan dengan Negara Yahudi itu.
Namun, bagi Yordania menjadi penjaga merupakan perang signifikan.
Mantan Menteri Luar Negeri Yordania sekaligus eks Duta Besar pertama untuk Israel, Marwan Muasher, mengatakan perwalian penting bagi Yordania karena berakar pada sejarah dan sebagai sumber legitimasi.
Yordania menjadi perhatian usai Raja Abdullah IIsiap mengangkat senjata jika Israel berani mengubah statusnya sebagai wali pelindung Masjid Al-Aqsa.
Abdullah II khawatir terhadap sejumlah pihak Israel yang punya motif tertentu. Beberapa pejabat Israel disebut ingin mendorong perubahan status Yordania sebagai wali atau penjaga situs umat Muslim dan Kristen di Yerusalem Timur, termasuk Masjid Al-Aqsa.
"Jika orang ingin terlibat konflik dengan kami, kami cukup siap. Jika orang ingin mendorong batasan itu, maka kami akan menghadapinya," kata Raja Abdullah II, seperti dikutip CNN, Rabu (28/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari seruan raja, bagaimana awal mula Yordania bisa menjadi wali atau penjaga situs suci di Yerusalem terutama Masjid Al-Aqsa?
Kerajaan Hashemites Yordania telah menjadi penjaga situs suci Yerusalem sejak 1924. Dinasti ini dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad.
Dengan kebangkitan negara Yordania, upaya untuk melindungi tempat-tempat suci Yerusalem berlanjut dengan sungguh-sungguh di bawah payung kepemimpinan Kerajaan Hashemites.
Dalam menjaga situs suci, mereka mengklaim sebagai penjamin hak beragama Muslim dan Kristen di kota itu.
Kerajaan Hashemites sempat menguasai kota suci Mekah selama berabad-abad sebelum ditaklukkan House of Saud atau yang sekarang dikenal Kerajaan Arab Saudi pada 1924.
Kota lain yang tak kalah penting, Madina, juga berhasil direbut Saudi. Sementara itu, Al-Aqsa masih di bawah kendali Kerajaan Hashim Yordania, demikian dikutip The Guardian.
Pada 1948 hingga 1967, Yordania juga sempat memerintah Tepi Barat dan Yerusalem Palestina. Beberapa undang-undang hingga kini bahkan masih merujuk pasal-pasal Yordania, demikian dikutipThe National.
Karena itu, Palestina dan Yordania sangat berhubungan secara sejarah dan geografis.
Secara historis, Kerajaan Hashemites secara agama dan moral terhubung dengan Mekah dan tempat-tempat suci Islamnya. Kerajaan Hashemites telah mempertahankan kedudukan Yerusalem dan menjauhkannya dari pertengkaran politik sejak kota itu menjadi kiblat pertama umat Islam di dunia.
Lebih dari setengah warga Yordania juga merupakan keturunan Palestina.
Namun, pada 1967 Israel mengobarkan perang selama enam hari melawan Mesir, Yordania, dan Suriah, yang kemudian dikenal Perang 1967.
Dalam perang ini, Israel berhasil menguasai Sinai, Jalur gaza, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Yerusalem Timur. Namun, kota terakhir itu tak secara resmi mencaplok, tetapi terintegrasi dalam pemerintahan.
Kemudian pada 1994, Israel dan Yordania menandatangani perjanjian damai. Dalam kesepakatan itu, Israel secara resmi mengakui peran khusus Yordania untuk melindungi tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Al-Aqsa.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Kenapa Yordania Bisa Jadi Wali Penjaga Masjid Al-Aqsa di Yerusalem?
Raja Yordania Abdullah II memperingatkan Israel negaranya tak segan angkat senjata jika Tel Aviv berani mengubah statusnya sebagai wali penjaga Masjid Al-Aqsa. (Foto: AFP)
Meski status pelindung situs suci di Yerusalem telah disepakati Israel-Yordania, Tel-Aviv dan Amman kerap bertikai. Yordania menuduh Israel melanggar perjanjian karena mengatur aktivitas warga beribadah di Yerusalem, kota suci bagi tiga agama: Islam, Kristen, dan Yahudi.
Pasukan Israel juga kerap membatasi dan melakukan kekerasan terhadap umat Muslim yang tengah beribadah di Masjid Al-Aqsa.
Tindakan keras Israel, bagaimanapun, memicu pertanyaan di mana Yordania selaku penjaga situs suci.
Menurut laporan CNN, meski menyandang status perwalian, Yordania tak memberi kendali atas pergerakan di dalam dan sekitar situs di Yerusalem. Kota itu tetap berada di bawah kendali Israel dan kerajaan Yordania tak punya pasukan di sana.
Beberapa ahli menilai peran pelindung yang dipegang Yordania hanya simbolis.
"Karena masjid berada di wilayah pendudukan, di mana Israel memutuskan dan mengontrol segalanya, dan itulah sumber masalahnya," ujat peneliti dari Stimson Center yang berbasis di Washington DC, Amer Al Sabaileh.
Ia menilai model perwalian perlu direvisi sebelum menjadi masalah besar bagi Yordania. Terutama, saat Israel menormalisasi hubungan dengan negara Arab.
Pertanyaan soal peran dalam menjaga tempat suci Yerusalem mungkin muncul, dan Yordania perlu memanfaatkan nilai statusnya di sana.
Israel sejauh ini berusaha mendekat Saudi agar bersedia normalisasi. Tel Aviv disebut-sebut memberikan tawaran penjaga Yerusalem, jika Riyadh mau membangun hubungan dengan Negara Yahudi itu.
Namun, bagi Yordania menjadi penjaga merupakan perang signifikan.
Mantan Menteri Luar Negeri Yordania sekaligus eks Duta Besar pertama untuk Israel, Marwan Muasher, mengatakan perwalian penting bagi Yordania karena berakar pada sejarah dan sebagai sumber legitimasi.