Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah penelitian menyebutkan sejumlah desa di China diprediksi mengalami gelombang 'tsunami' Covid-19 usai tren kasus di banyak kota dilaporkan menurun.
Perkiraan itu muncul berdasarkan hasil penelitian dari sejumlah pakar kesehatan di China. Tim itu dipimpin ahli biologi molekuler dari Universitas Jiao Tong Shanghai, Chen Saijuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti itu menggunakan model matematis untuk memprediksi kasus Covid-19 dari awal Oktober hingga 29 November 2022.
Mereka kemudian merilis hasil temuan di sebuah jurnal medis yang disponsori Kementerian Pendidikan China, Frontiers of Medicine pada pekan lalu.
Para peneliti menjadikan pinggiran kota Chongqing sebagai salah satu sampel proyeksi keterlambatan penularan Covid-19 di kota dan di desa.
Mereka memperkirakan pada pertengahan Januari lonjakan Covid-19 akan melanda daerah pedesaan seperti di Gansu, Qinghai, dan Shaanxi.
Meski demikian, para peneliti mengatakan kondisi dunia nyata jauh lebih rumit daripada model yang sudah mereka buat.
Mereka menilai wabah Omicron yang mungkin muncul dalam beberapa gelombang adalah dugaan yang "masuk akal." Terlebih, lonjakan lokal baru yang mungkin terjadi pada akhir 2023 karena efikasi vaksin menurun.
Para ilmuwan juga menggarisbawahi betapa penting melakukan pemantauan rutin terhadap varian dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.
"Secara keseluruhan, data awal ini menyoroti kebutuhan mengalokasikan sumber daya untuk mendiagnosis lebih dini dan pengobatan yang efektif untuk kasus yang parah dan perlindungan populasi yang rentan," demikian menurut hasil laporan para peneliti itu, seperti dikutip South China Morning Post, Minggu (1/1).
Mereka kemudian menyatakan, "Terutama di daerah pedesaan, untuk memastikan keluarnya negara dari pandemi dan pemulihan sosial-ekonomi dengan mulus."
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Rekomendasi Pemerintah China Ambil Tindakan Darurat
Pasiien Covid menumpuk di sejumlah rumah sakit di China. (AFP/HECTOR RETAMAL)
Selain itu, para peneliti menyatakan pemerintah harus mengarahkan tindakan darurat dengan memberikan obat kepada pasien berisiko rendah dan pengobatan tepat untuk pasien berisiko tinggi.
Obat yang bisa digunakan beberapa di antaranya Paxlovid atau VV116, antivirus eksperimental yang dikembangkan Junshi Biosciences dan Vigonvita Life Science.
Langkah-langkah lain seperti memakai masker N95 dan jarak sosial juga harus tetap diterapkan untuk mengurangi tekanan terhadap sistem perawatan kesehatan.
Sebagai antisipasi terhadap gelombang Covid-19 di pedesaan, para peneliti juga meminta pihak berwenang memastikan ketersediaan pasokan obat pereda.
Para peneliti juga mengatakan "penting" mencatat jumlah kematian berlebih, termasuk mereka yang meninggal karena atau dengan Covid-19.
"Ketepatan waktu dan keakuratan data ini diperlukan untuk evaluasi dan prediksi terkini dari tren pandemi yang sedang berlangsung untuk memastikan pembuatan kebijakan berbasis bukti," tulis mereka.
Hasil penelitian itu juga menyoroti kasus di wilayah urban atau pedesaan di Beijing, Shanghai, Chongqing kemungkinan memuncak pada akhir 2022.
Sementara itu puncak infeksi di Guangzhou berlalu pada akhir November.
Kasus Covid-19 di Beijing dan Guangzhou didominasi BF.& dan BA.5.2. Sementara itu kasus di Shanghai disebut lebih beragam. Banyak kasus di wilayah ini didominasi BQ.1 dan XBB, yang dilaporkan berasal dari wisatawan.