Pertempuran di kota ini sempat memicu keretakan antara Wagner dan Kementerian Pertahanan Rusia. Saat itu, Wagner mengklaim berhasil menguasai Soledar, dan menilai pasukan Rusia tak banyak berbuat.
Namun, Kemenhan Rusia justru tak menganggap peran Wagner di Ukraina, demikian laporan Institut Studi Perang (Institute for The Study of War/ISW).
Mengapa Putin mengirim tentara bayaran ke Ukraina?
Pada akhir Maret 2022, nyaris sebulan usai invasi, Putin disebut mengirim tentara Wagner ke Ukraina. Pengerahan ini dilakukan karena Rusia mengalami kekalahan dan kehilangan kendali atas beberapa wilayah.
Selain itu, banyak tentara Rusia yang tewas di medan perang.
Atase militer Inggris di Washington, Mick Smeath, sempat mengatakan Rusia bakal mengirim lebih dari seribu tentara bayaran, termasuk para komandan dari Wagner Group ke Ukraina.
"Karena kekalahan dan invasi yang mandek, Rusia diperkirakan akan memprioritaskan pengiriman personel Wagner Group di Ukraina seperti di Afrika dan Suriah," kata Smeath, seperti dikutip CNN.
Selain itu, tentara Wagner terjun ke medan perang juga disebut karena moral yang rendah di antara pasukan Rusia.
Saat Rusia semakin kewalahan, mereka memanfaatkan tentara Wagner untuk menyerang wilayah Donbas. Kedua pihak ini saling berkoordinasi dan mengatur ulang fokus serangan untuk Ukraina.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Hampir satu tahun invasi Rusia, tentara Wagner masih bercokol di Ukraina. Mereka bertempur dengan ganas.
Seorang personel Ukraina, Andry, bahkan menganggap perang melawan tentara Wagner sama seperti melihat adegan menegangkan di film zombie.
Andry mengatakan baku tembak pasukan Ukraina dengan Wagner seolah tiada henti.
"Kami bertarung selama sekitar 10 jam berturut-turut. Dan, itu tak seperti gelombang saja, itu benar-benar tak berkesudahan, seperti mereka tak habis-habisnya datang," ujar dia, seperti dikutip dari CNN, Rabu (1/2).
Lebih lanjut, Andry menceritakan jumlah tentara di pihaknya tak sebanding dengan pasukan Wagner. Saat itu, ia dan yang lain hanya berjumlah 20, sementara tentara bayaran Rusia mencapai 200 personel.
Berdasarkan pengamatan dia di medan perang, tentara Wagner tak pandai soal taktik perang. Mereka juga dilengkapi persenjataan yang buruk.
Wagner merekrut banyak pasukan yang merupakan narapidana. Mereka dikerahkan untuk mencapai 30 meter di wilayah musuh.
Usai mereka tewas, Wagner baru akan mengirim pasukan yang berpengalaman.
Wagner memang dikenal keras dengan prajuritnya. Mereka tak akan mengizinkan personel yang terluka keluar dari arena perang tanpa komando.
"Infanteri serbu tak boleh membawa yang terluka keluar dari medan perang sendirian. Karena tugas mereka yakni melanjutkan serangan sampai tujuan tercapai," demikian laporan militer Ukraina pada Desember 2022 lalu, yang dikutip CNN.
Pertempuran di kota ini sempat memicu keretakan antara Wagner dan Kementerian Pertahanan Rusia. Saat itu, Wagner mengklaim berhasil menguasai Soledar, dan menilai pasukan Rusia tak banyak berbuat.
Namun, Kemenhan Rusia justru tak menganggap peran Wagner di Ukraina, demikian laporan Institut Studi Perang (Institute for The Study of War/ISW).
Mengapa Putin mengirim tentara bayaran ke Ukraina?
Pada akhir Maret 2022, nyaris sebulan usai invasi, Putin disebut mengirim tentara Wagner ke Ukraina. Pengerahan ini dilakukan karena Rusia mengalami kekalahan dan kehilangan kendali atas beberapa wilayah.
Selain itu, banyak tentara Rusia yang tewas di medan perang.
Atase militer Inggris di Washington, Mick Smeath, sempat mengatakan Rusia bakal mengirim lebih dari seribu tentara bayaran, termasuk para komandan dari Wagner Group ke Ukraina.
"Karena kekalahan dan invasi yang mandek, Rusia diperkirakan akan memprioritaskan pengiriman personel Wagner Group di Ukraina seperti di Afrika dan Suriah," kata Smeath, seperti dikutip CNN.
Selain itu, tentara Wagner terjun ke medan perang juga disebut karena moral yang rendah di antara pasukan Rusia.
Saat Rusia semakin kewalahan, mereka memanfaatkan tentara Wagner untuk menyerang wilayah Donbas. Kedua pihak ini saling berkoordinasi dan mengatur ulang fokus serangan untuk Ukraina.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Wagner Group Masih Bercokol di Ukraina
Tentara bayaran Rusia Wagner Group ikut berperang di Ukraina. (AFP/OLGA MALTSEVA)
Hampir satu tahun invasi Rusia, tentara Wagner masih bercokol di Ukraina. Mereka bertempur dengan ganas.
Seorang personel Ukraina, Andry, bahkan menganggap perang melawan tentara Wagner sama seperti melihat adegan menegangkan di film zombie.
Andry mengatakan baku tembak pasukan Ukraina dengan Wagner seolah tiada henti.
"Kami bertarung selama sekitar 10 jam berturut-turut. Dan, itu tak seperti gelombang saja, itu benar-benar tak berkesudahan, seperti mereka tak habis-habisnya datang," ujar dia, seperti dikutip dari CNN, Rabu (1/2).
Lebih lanjut, Andry menceritakan jumlah tentara di pihaknya tak sebanding dengan pasukan Wagner. Saat itu, ia dan yang lain hanya berjumlah 20, sementara tentara bayaran Rusia mencapai 200 personel.
Berdasarkan pengamatan dia di medan perang, tentara Wagner tak pandai soal taktik perang. Mereka juga dilengkapi persenjataan yang buruk.
Wagner merekrut banyak pasukan yang merupakan narapidana. Mereka dikerahkan untuk mencapai 30 meter di wilayah musuh.
Usai mereka tewas, Wagner baru akan mengirim pasukan yang berpengalaman.
Wagner memang dikenal keras dengan prajuritnya. Mereka tak akan mengizinkan personel yang terluka keluar dari arena perang tanpa komando.
"Infanteri serbu tak boleh membawa yang terluka keluar dari medan perang sendirian. Karena tugas mereka yakni melanjutkan serangan sampai tujuan tercapai," demikian laporan militer Ukraina pada Desember 2022 lalu, yang dikutip CNN.