Jakarta, CNN Indonesia -- Warga kelas menengah atas atau biasa disebut kaum tajir bak Crazy Rich di Korea Utara memilih angkat kaki dari negaranya, menghindari pemerintahan Kim Jong Un.
Oh Hye Son mengambil keputusan tersebut lantaran merasa tak bahagia dan tak mendapat kebebasan yang ia impikan meski bergelimang harta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia selama ini merasa hidup dalam ketakutan. Kini, Oh tinggal di Seoul, Korea Selatan
"Saya tak pernah ingin kembali ke Korea Utara dan mempertanyakan mengapa warga Korut harus menjalani hidup yang begitu sulit," ujar Oh, seperti dikutip South China Morning Post (SCMP), Kamis (2/3).
Oh kemudian berujar, "Tak ada seorang pun kecuali Kim yang [benar-benar] punya hak istimewa. Saya menyadari bahwa tak ada masa depan bagi [anak-anak saya] di Korea Utara."
Perempuan itu masih memiliki ikatan dengan dinasti Kim Jong Un. Dia merupakan keturunan jenderal yang pernah berjuang bersama mantan pemimpin Korut, Kim Il Sung.
[Gambas:Video CNN]
Dalam kesempatan itu, Oh menceritakan anak sulungnya, Thae Ju Hyok, memiliki masalah kesehatan salah satunya sindrom nefrotik.
Nefrotik merupakan penyakit yang berkaitan dengan ginjal dan bisa menyebabkan masalah fatal jika tak diobati.
Ia merasa anaknya bakal sulit mendapat perawatan yang memadai jika tetap hidup di Korut.
Ketika Oh berhasil keluar dari negara pimpinan Kim, ia betul-betul girang. Perempuan tersebut dan keluarganya pernah tinggal di London pada 2004.
Thae kemudian mendapat perawatan gratis di salah satu fasilitas medis terbaik. London memiliki standar untuk layanan kesehatan nasional.
"Anak-anak tumbuh dengan sangat baik di Inggris, di tengah masyarakat yang menghormati mereka," ucap Oh.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Alasan 'Crazy Rich' Korea Utara Kabur dari Rezim Kim Jong Un
Kim Jong Un, anak perempuannya, dan beberapa pejabat tinggi Korea Utara. (REUTERS/KCNA)
Kemudian pada 2008, ia dan keluarganya kembali ke Korut. Di negara itu, Oh menyaksikan kehidupan yang kontras saat di Eropa.
Thae lalu kuliah di Universitas Kedokteran Pyongyang. Namun, alih-alih kuliah, dia justru diminta bekerja di lokasi konstruksi dan mengangkut semen.
Belakangan, Korut kekurangan tenaga kerja di seluruh sektor ekonomi mereka. Pemerintah kemudian memerintah mahasiswa, dan siswa, melakukan pekerjaan konstruksi dengan alasan loyalitas terhadap negara.
Jika tak patuh, pemerintah bakal menahan jatah makanan dan mengenakan pajak bagi mereka, demikian menurut Laporan Perdagangan Orang yang dirilis Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada 2022.
Oh kemudian sadar kondisi tersebut tak baik untuk keluarganya.
"Itu merupakan saat-saat saya mulai berpikir bahwa saya harus pergi ke luar negeri lagi. Saya tidak akan kembali," tutur dia.
Saat ini, Oh dan keluarganya resmi menjadi pembelot dari Korut. Dia kini tinggal di Seoul bersama keluarga kecilnya.
Meski berhasil angkat kaki dari Korut, Oh sering kepikiran kerabatnya yang masih tinggal di negara otoriter itu.
Ia bahkan tak bisa sekadar menanyakan kabar mereka karena akses dari Korsel ke Korut diblokir.
"Apakah mereka membenci saya? Apakah mereka iri pada saya? Atau mungkinkah mereka mendukung keputusan saya?" ucap dia sambil menitikkan air mata.