AUKUS Siap Melejit, Apakah Posisi Indonesia Terjepit?
CNN Indonesia
Kamis, 16 Mar 2023 07:16 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Kapal selam tenaga nuklir. (AFP/NICOLAS TUCAT)
Menurut Rezasyah, langkah baru AUKUS sebenarnya punya sisi positif bagi Indonesia. Salah satunya, Indonesia bisa membeli kapal konvensional milik Australia, dengan harga bersaing.
"Kalau Australia benar-benar punya kapal selam nuklir, mereka masih punya kapal-kapal konvensional. Itu bisa kita beli dengan harga bersaing," ujar Rezasyah.
Selain itu, Indonesia juga bisa mengajak Australia duduk bersama, untuk berdialog dan meminta penjelasan lebih dalam mengenai isu yang menyangkut kepentingan bersama.
"Di satu sisi kita bisa menyatakan ketidaksetujuan kepada AUKUS, tapi kita juga punya kesempatan untuk diberikan penjelasan oleh mereka bahwa apakah (kesepakatan pertahanan) ini adalah skenario perang atau untuk mengejar pengembangan teknologi?" imbuhnya.
Di sisi lain, kerja sama bilateral Indonesia dan Australia telah berlangsung lama dan mendalam. Sebut saja Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), hingga pertemuan 2+2 antara Menteri Pertahanan RI dan Menteri Pertahanan Australia.
RI Harus Memanfaatkan dengan Baik
Rezasyah menuturkan dari kuatnya hubungan bilateral ini, Indonesia cukup percaya diri Australia tidak akan mengarahkan nuklirnya ke arah Indonesia. Bahkan menurutnya, kapal selam nuklir ini nantinya bisa memberikan perlindungan tersendiri bagi Indonesia.
"Karena kapal selam ini ibaratnya hantu laut yang bergerak di bawah air yang menggetarkan, apalagi jika sudah berkekuatan nuklir. Kita yakin Australia tidak akan menggunakan kekuatannya ke Indonesia," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, AUKUS mengumumkan proyek pengadaan kapal selam bertenaga nuklir untuk Negeri Kanguru dengan biaya hingga A$368 miliar atau setara Rp3.758 triliun.
Dana raksasa ini bukan hanya untuk membeli dan membuat kapal selam bertenaga nuklir, namun juga untuk membangun infrastruktur dan membiayai pelatihan yang diperlukan.
Secara keseluruhan, proyek ini bisa menyerap lapangan pekerjaan bagi 200 ribu orang di Australia dalam kurun waktu tiga dekade ke depan.
(dna/bac)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia turut menyampaikan kekhawatiran atas kesepakatan pertahanan trilateral Australia, Inggris, Amerika Serikat (AUKUS), setelah Negeri Kanguru berencana membeli kapal selam bertenaga nuklir dari Negeri Paman Sam.
Dalam pernyataannya, Indonesia meminta agar Australia memenuhi kewajibannya mengenai Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir.
"Indonesia meminta Australia tetap konsisten memenuhi kewajibannya sesuai rezim non-proliferasi senjata nuklir dan IAEA Safeguards dan menyepakati mekanisme verifikasi oleh IAEA yang efektif, transparan dan tidak diskriminatif," tulis pernyataan Kemlu RI di Twitter.
Kekhawatiran RI ini memang cukup beralasan. Sebab peningkatan aktivitas negara-negara AUKUS berpotensi memicu ketegangan regional.
Terbukti hanya 24 jam sejak penandatanganan kesepakatan pertahanan para pemimpin AUKUS di California, China mengecam langkah tersebut sebagai tindakan berbahaya.
China menuduh AS, Inggris, dan Australia secara sengaja memicu eskalasi geopolitik di kawasan Indo-Pasifik dengan rencana tersebut. Negeri Tirai Bambu bahkan menuding tiga negara sekutu itu menghasut perlombaan senjata antar negara-negara di kawasan.
"Penjualan kapal selam memicu risiko proliferasi nuklir yang parah dan melanggar maksud dan tujuan Perjanjian non-Proliferasi Nuklir," kata juru bicara Kemlu China, Wang Wenbin, dikutip dari AFP.
Pengamat Hubungan Internasional, Teuku Rezasyah, mengatakan perkembangan yang terjadi belakangan ini memang sangat membahayakan. Sebab langkah AUKUS bisa menjadi pembenaran bagi pemerintah China untuk mempercepat proses militerisasinya.
"Xi Jinping (PM China) baru naik untuk ketiga kalinya. Ini adalah kesempatan baginya untuk mengatakan kepada khalayak China bahwa ancaman ini sudah ada di depan mata," kata Rezasyah kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/3).
Dia juga mengatakan, "Saya pikir, tidak sulit bagi Xi Jinping untuk mendapatkan persetujuan dari kekuatan politik dalam negeri China."
Lalu bagaimana posisi Indonesia terhadap potensi meningkatnya ketegangan di kawasan?
Posisi Indonesia terjepit atau malah diuntungkan? Baca di halaman berikutnya...
AUKUS Siap Melejit, Apakah Posisi Indonesia Terjepit?
Ilustrasi. Kapal selam tenaga nuklir. (AFP/NICOLAS TUCAT)
Menurut Rezasyah, langkah baru AUKUS sebenarnya punya sisi positif bagi Indonesia. Salah satunya, Indonesia bisa membeli kapal konvensional milik Australia, dengan harga bersaing.
"Kalau Australia benar-benar punya kapal selam nuklir, mereka masih punya kapal-kapal konvensional. Itu bisa kita beli dengan harga bersaing," ujar Rezasyah.
Selain itu, Indonesia juga bisa mengajak Australia duduk bersama, untuk berdialog dan meminta penjelasan lebih dalam mengenai isu yang menyangkut kepentingan bersama.
"Di satu sisi kita bisa menyatakan ketidaksetujuan kepada AUKUS, tapi kita juga punya kesempatan untuk diberikan penjelasan oleh mereka bahwa apakah (kesepakatan pertahanan) ini adalah skenario perang atau untuk mengejar pengembangan teknologi?" imbuhnya.
Di sisi lain, kerja sama bilateral Indonesia dan Australia telah berlangsung lama dan mendalam. Sebut saja Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), hingga pertemuan 2+2 antara Menteri Pertahanan RI dan Menteri Pertahanan Australia.
RI Harus Memanfaatkan dengan Baik
Rezasyah menuturkan dari kuatnya hubungan bilateral ini, Indonesia cukup percaya diri Australia tidak akan mengarahkan nuklirnya ke arah Indonesia. Bahkan menurutnya, kapal selam nuklir ini nantinya bisa memberikan perlindungan tersendiri bagi Indonesia.
"Karena kapal selam ini ibaratnya hantu laut yang bergerak di bawah air yang menggetarkan, apalagi jika sudah berkekuatan nuklir. Kita yakin Australia tidak akan menggunakan kekuatannya ke Indonesia," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, AUKUS mengumumkan proyek pengadaan kapal selam bertenaga nuklir untuk Negeri Kanguru dengan biaya hingga A$368 miliar atau setara Rp3.758 triliun.
Dana raksasa ini bukan hanya untuk membeli dan membuat kapal selam bertenaga nuklir, namun juga untuk membangun infrastruktur dan membiayai pelatihan yang diperlukan.
Secara keseluruhan, proyek ini bisa menyerap lapangan pekerjaan bagi 200 ribu orang di Australia dalam kurun waktu tiga dekade ke depan.