Mengenal Lebih Jauh Kehebatan Diplomasi Nabi Muhammad
CNN Indonesia
Kamis, 06 Apr 2023 17:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. (iStockphoto/mvcreation)
Jakarta, CNN Indonesia --
Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang ahli berdiplomasi. Semasa hidupnya, ia banyak melakukan upaya untuk menjalin persatuan dan hubungan baik dengan berbagai bangsa, termasuk internasional.
Rasulullah memang berusaha menjamin perdamaian dan stabilitas dalam pemerintahannya.
Salah satu keunggulan diplomasi yang pernah dilakukan Nabi Muhammad yaitu saat peristiwa Hajar Aswad, kala beliau berusia sekitar 35 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, suku Quraisy, selaku penjaga Ka'bah, ingin memugarkan rumah Allah tersebut. Berbagai kabilah dari suku itu pun bahu membahu membantu pembangunan kembali Ka'bah.
Suatu ketika, saat Ka'bah sudah hampir selesai dibangun, tinggal batu Hajar Aswad yang belum diletakkan ke tempat semula.
Berbagai kabilah itu lantas saling tunjuk diri, ingin mendapat kehormatan mengangkat Hajar Aswad. Perselisihan pun terjadi selama empat atau lima hari, seperti ditulis Martin Lings dalam Muhammad.
Ketegangan itu memuncak sampai muncul kubu-kubu dan nyaris terjadi pertumpahan darah.
Salah seorang yang tertua di antara orang Quraisy menyarankan agar mereka menjadikan orang pertama yang memasuki kompleks sekitar Ka'bah untuk menjadi penengah. Ternyata, Nabi Muhammad yang menjadi orang pertama tersebut.
Kaum Quraisy senang karena selama ini menganggap Rasulullah sebagai orang yang dapat dipercaya atau Al Amin. Mereka menyatakan menerima segala keputusan Nabi Muhammad.
Setelah mendengar kondisi yang sebenarnya, Nabi Muhammad kemudian meminta mereka memberinya selembar kain. Kain itu dibentang di atas tanah dan batu Hajar ditaruh di tengahnya.
"Silakan setiap kabilah memegang ujung kain itu," kata Rasulullah.
Kaum Quraisy secara serentak mengangkat batu itu bersamaan. Setibanya di tempat penyimpanan Hajar Aswad, Nabi Muhammad mengambil batu itu lalu meletakkannya di pojok. Pemugaran Ka'bah pun dilanjutkan hingga rampung.
Berbagai diplomasi lain
Selain peristiwa Hajar Aswad, Nabi Muhammad juga pernah melakukan diplomasi di awal masa hijrah ke Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah. Saat itu, Nabi menyadari perlunya menjalin hubungan baik dengan berbagai suku Arab yang belum memeluk Islam.
Nabi pun berinisiatif membuat kesepakatan damai dengan kabilah-kabilah yang berada di sekitar Kota Madinah. Di antara mereka yang menandatangani perjanjian antara lain Bani Damrah, Bani Ghifar, Bani Mudlij, Banji Abd Ibn Adiy, Juhannah, Muzainah, dan Amir Ibn Ikramah.
Rasulullah nyatanya tak cuma meraih tetangga dekat Madinah. Beliau juga menjalin persahabatan dengan suku-suku di Najd, Yammah, Oman, Hadramut, Bahrain, Yaman, Jarbah, Azrah, Aylah, Qadaaha, dan Dumat Al Jandal, seperti dikutip Institut Kefahaman Islam Malaysia.
Di tengah upaya diplomasinya, Nabi Muhammad juga menulis surat kepada berbagai pemimpin kekuatan asing di sekitar Hijaz (Arab Saudi). Setiap surat dibawa secara pribadi oleh sahabat yang bertindak sebagai utusan khusus Nabi, seperti dikutip dari situs Institut Kefahaman Islam Malaysia.
Berbagai tanggapan pun diterima Rasulullah. Ada yang tersentuh hingga memeluk Islam seperti Raja Negus Al Asham, Al Munzir, Houza ibn Ali dan Marwa ibn Amr Khaza'i.
Ada pula yang memperlakukan utusan Nabi secara hormat dan mengirim hadiah niat baik kepada Rasulullah, meski tidak memeluk Islam seperti Muqauqis dari Mesir.
Kemudian, ada pula yang marah karena dikirimi surat, tapi masih memperlakukan utusan khusus dengan baik dan mengirim mereka pulang dengan selamat seperti yang dilakukan Munzir dari Damaskus.
Respons yang paling buruk yakni ditunjukkan oleh Raja Khusroe dari Persia yang menolak surat-surat itu, memperlakukan utusan dengan buruk, dan menyewa pemburu untuk menangkap Nabi.
Terlepas dari tanggapan yang diterima Nabi, beliau terus menjalin hubungan diplomatik dengan para pemimpin lain karena Nabi percaya bahwa stabilitas di Hijaz sangat penting dalam memastikan perdamaian dan harmoni.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Perjanjian Hudaibiyah
Selain peristiwa-peristiwa itu, ada pula peristiwa diplomasi Rasulullah yang cukup terkenal sepanjang masa. Diplomasi itu terjadi dalam catatan Perjanjian Hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy yang menduduki Mekkah. Perjanjian itu dibuat pada 628 M kala pasukan Rasulullah menuju kota suci itu untuk umrah bersama 1.500 pengikutnya.
Martin Lings dalam bukunya mengisahkan Nabi Muhammad berniat melaksanakan umrah setelah mendapat mimpi dari Allah. Karena ingin beribadah, Rasulullah tidak membawa senjata selain perlengkapan bepergiannya.
Sesampainya di perbatasan Mekkah, Nabi dan rombongan tidak diperbolehkan masuk oleh kaum Quraisy. Nabi pun mengutus Utsman bin Affan untuk mempertegas misi kedatangan umat Muslim yang ingin berziarah ke Baitullah.
Pemilihan Utsman sebagai utusan kala itu berdasarkan pertimbangan bahwa Utsman merupakan sosok yang punya pengaruh kuat di Mekkah. Utsman adalah orang yang kaya dan punya kedudukan di antara kerabatnya.
Saat Utsman datang, ia disambut baik oleh kaumnya dari Abd Al-Syams dan lainnya. Namun, hanya Utsman yang diperkenankan melakukan tawaf, sedangkan yang lain tidak.
Utsman lantas menolak tawaran tersebut dan menegaskan bahwa dirinya tidak akan bertawaf sampai Rasulullah melakukannya.
Sementara itu, Nabi yang berada di perbatasan setia menunggu kabar dari Utsman. Namun, karena sahabatnya itu tak kunjung kembali, tersiar kabar burung bahwa Utsman telah dibunuh.
Dalam kondisi demikian, Rasulullah pun bersabda untuk tak akan pulang sebelum memerangi kaum Quraisy. Nabi mengajak pengikutnya berbaiat untuk berjihad dan syahid di jalan Allah, demikian dikisahkan buku Sirah Nabawiyah karya Musthafa As-Siba'i.
Quraisy yang mengetahui baiat itu kemudian gentar dan menawarkan perdamaian kepada Rasulullah. Quraisy mengutus Suhail bin Amr untuk membuat perjanjian.
Tawaran yang diberikan Quraisy sendiri dinilai para sahabat sangat tidak menguntungkan bagi umat Islam.
Tawaran itu antara lain keluarnya Nabi dari Mekkah dan boleh kembali di tahun berikutnya, menginap selama tiga hari dengan peralatan seadanya, serta larangan membawa tombak dan pedang ke Mekkah.
Setelah sempat melalui beberapa perdebatan, akhirnya perjanjian damai itu diputuskan sesuai dengan yang diinginkan suku Quraisy.
Namun, ditambah dengan aturan gencatan senjata selama 10 tahun, orang-orang Muslim yang datang ke Mekkah harus ditawan, dan orang-orang Mekkah yang datang ke wilayah Muslim harus dikembalikan.
Banyak sahabat yang kecewa dengan perjanjian ini. Meski begitu, dengan Perjanjian Hudaibiyah, Muslim kini bisa menginjakkan kaki di Mekkah dan beribadah di sana.
Jakarta, CNN Indonesia --
Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang ahli berdiplomasi. Semasa hidupnya, ia banyak melakukan upaya untuk menjalin persatuan dan hubungan baik dengan berbagai bangsa, termasuk internasional.
Rasulullah memang berusaha menjamin perdamaian dan stabilitas dalam pemerintahannya.
Salah satu keunggulan diplomasi yang pernah dilakukan Nabi Muhammad yaitu saat peristiwa Hajar Aswad, kala beliau berusia sekitar 35 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, suku Quraisy, selaku penjaga Ka'bah, ingin memugarkan rumah Allah tersebut. Berbagai kabilah dari suku itu pun bahu membahu membantu pembangunan kembali Ka'bah.
Suatu ketika, saat Ka'bah sudah hampir selesai dibangun, tinggal batu Hajar Aswad yang belum diletakkan ke tempat semula.
Berbagai kabilah itu lantas saling tunjuk diri, ingin mendapat kehormatan mengangkat Hajar Aswad. Perselisihan pun terjadi selama empat atau lima hari, seperti ditulis Martin Lings dalam Muhammad.
Ketegangan itu memuncak sampai muncul kubu-kubu dan nyaris terjadi pertumpahan darah.
Salah seorang yang tertua di antara orang Quraisy menyarankan agar mereka menjadikan orang pertama yang memasuki kompleks sekitar Ka'bah untuk menjadi penengah. Ternyata, Nabi Muhammad yang menjadi orang pertama tersebut.
Kaum Quraisy senang karena selama ini menganggap Rasulullah sebagai orang yang dapat dipercaya atau Al Amin. Mereka menyatakan menerima segala keputusan Nabi Muhammad.
Setelah mendengar kondisi yang sebenarnya, Nabi Muhammad kemudian meminta mereka memberinya selembar kain. Kain itu dibentang di atas tanah dan batu Hajar ditaruh di tengahnya.
"Silakan setiap kabilah memegang ujung kain itu," kata Rasulullah.
Kaum Quraisy secara serentak mengangkat batu itu bersamaan. Setibanya di tempat penyimpanan Hajar Aswad, Nabi Muhammad mengambil batu itu lalu meletakkannya di pojok. Pemugaran Ka'bah pun dilanjutkan hingga rampung.
Berbagai diplomasi lain
Selain peristiwa Hajar Aswad, Nabi Muhammad juga pernah melakukan diplomasi di awal masa hijrah ke Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah. Saat itu, Nabi menyadari perlunya menjalin hubungan baik dengan berbagai suku Arab yang belum memeluk Islam.
Nabi pun berinisiatif membuat kesepakatan damai dengan kabilah-kabilah yang berada di sekitar Kota Madinah. Di antara mereka yang menandatangani perjanjian antara lain Bani Damrah, Bani Ghifar, Bani Mudlij, Banji Abd Ibn Adiy, Juhannah, Muzainah, dan Amir Ibn Ikramah.
Rasulullah nyatanya tak cuma meraih tetangga dekat Madinah. Beliau juga menjalin persahabatan dengan suku-suku di Najd, Yammah, Oman, Hadramut, Bahrain, Yaman, Jarbah, Azrah, Aylah, Qadaaha, dan Dumat Al Jandal, seperti dikutip Institut Kefahaman Islam Malaysia.
Di tengah upaya diplomasinya, Nabi Muhammad juga menulis surat kepada berbagai pemimpin kekuatan asing di sekitar Hijaz (Arab Saudi). Setiap surat dibawa secara pribadi oleh sahabat yang bertindak sebagai utusan khusus Nabi, seperti dikutip dari situs Institut Kefahaman Islam Malaysia.
Berbagai tanggapan pun diterima Rasulullah. Ada yang tersentuh hingga memeluk Islam seperti Raja Negus Al Asham, Al Munzir, Houza ibn Ali dan Marwa ibn Amr Khaza'i.
Ada pula yang memperlakukan utusan Nabi secara hormat dan mengirim hadiah niat baik kepada Rasulullah, meski tidak memeluk Islam seperti Muqauqis dari Mesir.
Kemudian, ada pula yang marah karena dikirimi surat, tapi masih memperlakukan utusan khusus dengan baik dan mengirim mereka pulang dengan selamat seperti yang dilakukan Munzir dari Damaskus.
Respons yang paling buruk yakni ditunjukkan oleh Raja Khusroe dari Persia yang menolak surat-surat itu, memperlakukan utusan dengan buruk, dan menyewa pemburu untuk menangkap Nabi.
Terlepas dari tanggapan yang diterima Nabi, beliau terus menjalin hubungan diplomatik dengan para pemimpin lain karena Nabi percaya bahwa stabilitas di Hijaz sangat penting dalam memastikan perdamaian dan harmoni.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Perjanjian Hudaibiyah
Masjid Nabawi yang dibangun Nabi Muhammad dan para sahabat di Madinah. (iStockphoto/Ayman Zaid)
Perjanjian Hudaibiyah
Selain peristiwa-peristiwa itu, ada pula peristiwa diplomasi Rasulullah yang cukup terkenal sepanjang masa. Diplomasi itu terjadi dalam catatan Perjanjian Hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Nabi Muhammad dengan kaum Quraisy yang menduduki Mekkah. Perjanjian itu dibuat pada 628 M kala pasukan Rasulullah menuju kota suci itu untuk umrah bersama 1.500 pengikutnya.
Martin Lings dalam bukunya mengisahkan Nabi Muhammad berniat melaksanakan umrah setelah mendapat mimpi dari Allah. Karena ingin beribadah, Rasulullah tidak membawa senjata selain perlengkapan bepergiannya.
Sesampainya di perbatasan Mekkah, Nabi dan rombongan tidak diperbolehkan masuk oleh kaum Quraisy. Nabi pun mengutus Utsman bin Affan untuk mempertegas misi kedatangan umat Muslim yang ingin berziarah ke Baitullah.
Pemilihan Utsman sebagai utusan kala itu berdasarkan pertimbangan bahwa Utsman merupakan sosok yang punya pengaruh kuat di Mekkah. Utsman adalah orang yang kaya dan punya kedudukan di antara kerabatnya.
Saat Utsman datang, ia disambut baik oleh kaumnya dari Abd Al-Syams dan lainnya. Namun, hanya Utsman yang diperkenankan melakukan tawaf, sedangkan yang lain tidak.
Utsman lantas menolak tawaran tersebut dan menegaskan bahwa dirinya tidak akan bertawaf sampai Rasulullah melakukannya.
Sementara itu, Nabi yang berada di perbatasan setia menunggu kabar dari Utsman. Namun, karena sahabatnya itu tak kunjung kembali, tersiar kabar burung bahwa Utsman telah dibunuh.
Dalam kondisi demikian, Rasulullah pun bersabda untuk tak akan pulang sebelum memerangi kaum Quraisy. Nabi mengajak pengikutnya berbaiat untuk berjihad dan syahid di jalan Allah, demikian dikisahkan buku Sirah Nabawiyah karya Musthafa As-Siba'i.
Quraisy yang mengetahui baiat itu kemudian gentar dan menawarkan perdamaian kepada Rasulullah. Quraisy mengutus Suhail bin Amr untuk membuat perjanjian.
Tawaran yang diberikan Quraisy sendiri dinilai para sahabat sangat tidak menguntungkan bagi umat Islam.
Tawaran itu antara lain keluarnya Nabi dari Mekkah dan boleh kembali di tahun berikutnya, menginap selama tiga hari dengan peralatan seadanya, serta larangan membawa tombak dan pedang ke Mekkah.
Setelah sempat melalui beberapa perdebatan, akhirnya perjanjian damai itu diputuskan sesuai dengan yang diinginkan suku Quraisy.
Namun, ditambah dengan aturan gencatan senjata selama 10 tahun, orang-orang Muslim yang datang ke Mekkah harus ditawan, dan orang-orang Mekkah yang datang ke wilayah Muslim harus dikembalikan.
Banyak sahabat yang kecewa dengan perjanjian ini. Meski begitu, dengan Perjanjian Hudaibiyah, Muslim kini bisa menginjakkan kaki di Mekkah dan beribadah di sana.