Habib Umar bin Hafidz, Ulama Yaman yang Junjung Tinggi Toleransi
CNN Indonesia
Jumat, 31 Mar 2023 17:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Profil ulama Yaman Habib Umar bin Hafidz. (Nabawi TV via Wikimedia Commons (CC-BY-3.0)
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama ulama asal Yaman Habib Umar bin Hafidz cukup familier bagi masyarakat Indonesia. Ia bahkan dikenal sebagai sosok yang ramah dan menjunjung tinggi toleransi.
Umar kerap melakukan dakwah ke Indonesia sejak 1994. Selain itu, ia menginisiasi Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama.
Saat berada di Jakarta pada 2018 lalu, Umar sempat mengomentari tindakan anarkis oknum yang mengatasnamakan Islam.
Umar memang memiliki pandangan yang berorientasi kepada kemanusiaan. Ia juga mengajarkan nilai-nilai sunni tradisional Syafi'i, Asy'ari, dan tarekat Sufi Ba'alawi.
"Seandainya ada umat agama lain yang terganggu oleh oknum agama Islam, saya katakan bahwa mereka orang yang tidak paham ajaran Islam, atau mereka tak menjalankan ajaran agama Islam dengan baik," ujar dia, seperti dikutip media yang dikelola Nahdlatul Ulama.
Selain itu, Umar juga turut menandatangani dokumen yang menjembatani Muslim dan Kristen "A Common Word Between Us and You." Dokumen itu menyerukan perdamaian dan mencoba bekerja sama untuk memahami kedua agama.
Saat berbicara di Universitas Cambridge, dia menegaskan dunia perlu dialog semacam itu.
Ulama tersebut juga bermitra dengan Muslim Aid Australia. Yayasan ini mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di Yaman, Al Rafah Charitable Society.
LSM itu fokus terhadap masalah kemiskinan, kelaparan dan akses perawatan kesehatan di wilayah Tarim.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Keturunan Nabi
Umar menjadi salah satu ulama yang paling berpengaruh di dunia hari ini. Ia juga memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW.
Dalam laporan yang dirilis The Muslim 500, Umar menduduki posisi ke-11 sebagai Muslim yang paling berpengaruh di dunia.
Umar juga membangun pesantren Dar Al Mustafa, menyediakan beasiswa dan menyampaikan dakwah di kawasan Timur Tengah, Afrika Timur, dan sejumlah negara di Asia. Program ini menarik minat banyak murid asing.
Kebanyakan awardee itu menjadi tokoh terkemuka di seluruh dunia.
Kehidupan personal
Umar lahir di Tarim, Yaman Selatan, pada 1963 dari pasangan mufti . Sejak kecil, ia akrab dengan Al Quran, Fiqih, dan berbagai ilmu keagamaan lain.
Ia pernah mengalami masa sulit saat Yaman berada di bawah pemerintahan komunis pada 1967. Ketika itu, pihak berwenang Yaman Selatan berupaya menghapus ajaran Islam dari masyarakat.
Mereka merepresi para ulama dan menutup secara paksa institusi keagamaan. Di tengah gejolak ini, ayah Umar, Habib Muhammad, tak gentar mengajarkan Islam, demikian dikutip Muwasala.
Aktivitas itu membuat dia dipantau ketat pasukan keamanan. Hingga suatu ketika, Umar menyaksikan sang ayah diculik segerombolan orang setelah salat Jumat.
Sejak saat itu, ia tak pernah lagi melihat ayahnya. Kondisi ini, membuat Umar ingin menggantikan ayahnya untuk berdakwah.
Umar juga pindah ke Kota Al Bayda di sebelah Yaman utara. Di sana, dia kembali mempelajari ilmu agama dari Habib Muhammad bin Abdullah Al Haddar, Habib Zain bin Ibrahim, dan uang lain.
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama ulama asal Yaman Habib Umar bin Hafidz cukup familier bagi masyarakat Indonesia. Ia bahkan dikenal sebagai sosok yang ramah dan menjunjung tinggi toleransi.
Umar kerap melakukan dakwah ke Indonesia sejak 1994. Selain itu, ia menginisiasi Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama.
Saat berada di Jakarta pada 2018 lalu, Umar sempat mengomentari tindakan anarkis oknum yang mengatasnamakan Islam.
Umar memang memiliki pandangan yang berorientasi kepada kemanusiaan. Ia juga mengajarkan nilai-nilai sunni tradisional Syafi'i, Asy'ari, dan tarekat Sufi Ba'alawi.
"Seandainya ada umat agama lain yang terganggu oleh oknum agama Islam, saya katakan bahwa mereka orang yang tidak paham ajaran Islam, atau mereka tak menjalankan ajaran agama Islam dengan baik," ujar dia, seperti dikutip media yang dikelola Nahdlatul Ulama.
Selain itu, Umar juga turut menandatangani dokumen yang menjembatani Muslim dan Kristen "A Common Word Between Us and You." Dokumen itu menyerukan perdamaian dan mencoba bekerja sama untuk memahami kedua agama.
Saat berbicara di Universitas Cambridge, dia menegaskan dunia perlu dialog semacam itu.
Ulama tersebut juga bermitra dengan Muslim Aid Australia. Yayasan ini mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di Yaman, Al Rafah Charitable Society.
LSM itu fokus terhadap masalah kemiskinan, kelaparan dan akses perawatan kesehatan di wilayah Tarim.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Profil Ulama Yaman Habib Umar bin Hafidz
Habib Umar bin Hafidz saat menerima Rizieq Shihab. (Dok. Tim Advokasi GNPF-MUI/Kapitra Ampera)
Keturunan Nabi
Umar menjadi salah satu ulama yang paling berpengaruh di dunia hari ini. Ia juga memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW.
Dalam laporan yang dirilis The Muslim 500, Umar menduduki posisi ke-11 sebagai Muslim yang paling berpengaruh di dunia.
Umar juga membangun pesantren Dar Al Mustafa, menyediakan beasiswa dan menyampaikan dakwah di kawasan Timur Tengah, Afrika Timur, dan sejumlah negara di Asia. Program ini menarik minat banyak murid asing.
Kebanyakan awardee itu menjadi tokoh terkemuka di seluruh dunia.
Kehidupan personal
Umar lahir di Tarim, Yaman Selatan, pada 1963 dari pasangan mufti . Sejak kecil, ia akrab dengan Al Quran, Fiqih, dan berbagai ilmu keagamaan lain.
Ia pernah mengalami masa sulit saat Yaman berada di bawah pemerintahan komunis pada 1967. Ketika itu, pihak berwenang Yaman Selatan berupaya menghapus ajaran Islam dari masyarakat.
Mereka merepresi para ulama dan menutup secara paksa institusi keagamaan. Di tengah gejolak ini, ayah Umar, Habib Muhammad, tak gentar mengajarkan Islam, demikian dikutip Muwasala.
Aktivitas itu membuat dia dipantau ketat pasukan keamanan. Hingga suatu ketika, Umar menyaksikan sang ayah diculik segerombolan orang setelah salat Jumat.
Sejak saat itu, ia tak pernah lagi melihat ayahnya. Kondisi ini, membuat Umar ingin menggantikan ayahnya untuk berdakwah.
Umar juga pindah ke Kota Al Bayda di sebelah Yaman utara. Di sana, dia kembali mempelajari ilmu agama dari Habib Muhammad bin Abdullah Al Haddar, Habib Zain bin Ibrahim, dan uang lain.