Departemen Meteorologi India turut mengabarkan 48 stasiun cuacanya mencatat suhu lebih dari 42 derajat Celcius pada Selasa (18/4), dengan yang tertinggi yaitu 44,2 derajat Celcius di negara bagian timur Odisha.
Gelombang panas itu juga menyebabkan 13 orang meninggal dunia di negara bagian Maharashtra barat saat menghadiri upacara penghargaan negara pada 16 April.
Afghanistan hingga Nikaragua
Tak hanya itu, sejumlah wilayah juga mengalami kemungkinan gelombang panas berisiko tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian jurnal Nature Communication, gelombang panas berisiko tinggi terjadi di Afghanistan, Papua Nugini, Guatemala, Honduras, dan Nikaragua.
"Ada bukti di sana bahwa daerah-daerah itu mungkin akan mengalami gelombang panas yang besar dan mereka tidak siap untuk itu," kata profesor ilmu atmosfer di University of Bristol dan penulis laporan, Dann Mitchell, seperti dikutip dari CNN.
Afghanistan tengah berada dalam krisis ekonomi dan politik usai Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021.
Negara itu juga memiliki pertumbuhan populasi yang tak sedikit. Pada 2020 jumlah penduduk tercatat 38 juta, sementara pada 2022 jumlah penduduk mencapai 41 juta.
"Ketika gelombang panas yang sangat ekstrem akhirnya datang, maka akan segera ada banyak masalah," ujar Mitchell.
(isa/bac)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan ini, gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara di dunia, termasuk di kawasan Asia. Beberapa mengalami suhu yang lebih panas dari biasanya bahkan hingga 40 derajat Celsius.
Menurut studi, gelombang panas yang berbahaya dan memecahkan rekor akan meningkat seiring meningkatnya krisis iklim. Cuaca ekstrem ini juga akan sangat menghancurkan di negara dan wilayah yang paling tidak siap menghadapi gelombang panas.
Berikut daftar negara yang terpapar gelombang panas ekstrem.
China
Sejumlah wilayah di China, termasuk Beijing, juga berisiko tinggi mengalami gelombang panas.
Jutaan warga yang hidup di wilayah itu kemungkinan akan terdampak gelombang panas, bahkan jika pemerintah mengerahkan sumber daya untuk memitigasi kondisi semacam ini.
Pada 18 April lalu, Yuanyang melaporkan suhu 42,4 derajat celsius, demikian dikutip CNN.
Thailand diterpa gelombang panas hingga suhu udara di beberapa wilayah hingga Minggu (23/4), diperkirakan dapat mencapai 43 derajat Celsius.
Menurut Departemen Meteorologi Thailand, suhu udara dalam 24 jam sejak Sabtu (22/4) mencapai 43 derajat Celsius, terutama di kawasan utara Negara Gajah Putih itu.
Sedangkan suhu di ibu kota Thailand, Bangkok, juga disebut bisa mencapai 40 derajat Celsius.
Departemen Meteorologi India turut mengabarkan 48 stasiun cuacanya mencatat suhu lebih dari 42 derajat Celcius pada Selasa (18/4), dengan yang tertinggi yaitu 44,2 derajat Celcius di negara bagian timur Odisha.
Gelombang panas itu juga menyebabkan 13 orang meninggal dunia di negara bagian Maharashtra barat saat menghadiri upacara penghargaan negara pada 16 April.
Afghanistan hingga Nikaragua
Tak hanya itu, sejumlah wilayah juga mengalami kemungkinan gelombang panas berisiko tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian jurnal Nature Communication, gelombang panas berisiko tinggi terjadi di Afghanistan, Papua Nugini, Guatemala, Honduras, dan Nikaragua.
"Ada bukti di sana bahwa daerah-daerah itu mungkin akan mengalami gelombang panas yang besar dan mereka tidak siap untuk itu," kata profesor ilmu atmosfer di University of Bristol dan penulis laporan, Dann Mitchell, seperti dikutip dari CNN.
Afghanistan tengah berada dalam krisis ekonomi dan politik usai Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021.
Negara itu juga memiliki pertumbuhan populasi yang tak sedikit. Pada 2020 jumlah penduduk tercatat 38 juta, sementara pada 2022 jumlah penduduk mencapai 41 juta.
"Ketika gelombang panas yang sangat ekstrem akhirnya datang, maka akan segera ada banyak masalah," ujar Mitchell.