"Akan sulit menyeimbangkan hubungan dengan Rusia. Tak peduli, kedua negara saling ketergantungan secara ekonomi," ujar Alemdar.
Perdagangan antara kedua negara mencapai US$62 miliar pada 2022. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah perdagangan antara AS dan Turki.
Turki juga memberi perlindungan kepada oligarki Rusia pro-Putin. Negara ini terus meraup keuntungan dari kesepakatan mereka dengan Kremlin.
Erdogan juga mengoordinasikan aktivitas militer mereka di Suriah dengan pasukan Putin untuk menangani kelompok Kurdi di Suriah. Kurdi dianggap sebagai organisasi teror bagi Ankara.
Di waktu yang sama, Turki terus berselisih dengan Amerika Serikat karena dukungan mereka untuk Kurdi Suriah.
Bagaimana jika saingan Erdogan yang menang?
Sementara itu, Putin bakal ketar-ketir jika saingan kuat Erdogan, Kemal Kilicdaroglu, menang di Pemilu Turki.
Jika menang, Kilicdaroglu menyatakan akan meratifikasi keanggotaan Swedia untuk bergabung dengan NATO.
Ia juga bakal membawa kembali proyek produksi pesawat F-35 ke Turki, dan mengikuti jalan Barat untuk melancarkan sanksi ke Rusia.
Kilicdaroglu juga berharap AS menyetujui kesepakatan pembuatan F-15 senilai US$20 miliar.
Rencana Kilicdaroglu itu dianggap tak ada yang menguntungkan Rusia.
(isa/bac)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kemenangan calon presiden petahana Recep Tayyip Erdogan di pemilihan umum (Pemilu) Turki disebut-sebut menjadi harapan bagi Rusia.
Namun, Rusia disebut mulai waswas usai Komisi Pemilihan Umum Turki menyatakan pemilu berlanjut ke putaran kedua. Di pemilu yang berlangsung pada akhir pekan lalu, Erdogan hanya mencapai suara 49,51 persen.
Selama ini, Turki dan Negeri Beruang Merah memang memiliki hubungan diplomatik yang hangat.
Saat awal invasi Rusia di Ukraina, Turki tak mengikuti negara Barat yang melancarkan sanksi ke Rusia. Ankara malah berusaha mempertahankan hubungan dengan Moskow.
Turki juga berusaha menjadi mediator untuk Rusia dan Ukraina. Negara ini bahkan beberapa kali menjadi tuan rumah dalam pembicaraan damai kedua negara yang berkonflik itu.
Profesor dan pakar sejarah Rusia dari Universitas Bonn, Zaur Gasimov, mengatakan Kremlin menilai kebijakan luar negeri Erdogan sebagai aset.
"Itu tidak dianggap Moskow sebagai bentuk pro-Rusia. Itu dianggap sebagai pro-Turki, tapi itu juga tidak dianggap sebagai pro-Barat. Saya rasa itulah aspek utama yang cocok dengan agenda di Moskow, " kata Gasimov pada April lalu, seperti dikutip Radio France Internationale (RFI).
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Ketergantungan Ekonomi Turki-Rusia
Gempita Pemilu Turki. (REUTERS/DILARA SENKAYA)
Dari sisi ekonomi, Turki juga bergantung pada minyak dan gas Rusia serta pendapatan dari ekspor pertanian ke negara itu.
Pengamat politik dari Universitas Okan di Istanbul, Zeynep Alemdar, menduga jika kedua negara putus hubungan maka Turki bakal kesulitan.
"Akan sulit menyeimbangkan hubungan dengan Rusia. Tak peduli, kedua negara saling ketergantungan secara ekonomi," ujar Alemdar.
Perdagangan antara kedua negara mencapai US$62 miliar pada 2022. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah perdagangan antara AS dan Turki.
Turki juga memberi perlindungan kepada oligarki Rusia pro-Putin. Negara ini terus meraup keuntungan dari kesepakatan mereka dengan Kremlin.
Erdogan juga mengoordinasikan aktivitas militer mereka di Suriah dengan pasukan Putin untuk menangani kelompok Kurdi di Suriah. Kurdi dianggap sebagai organisasi teror bagi Ankara.
Di waktu yang sama, Turki terus berselisih dengan Amerika Serikat karena dukungan mereka untuk Kurdi Suriah.
Bagaimana jika saingan Erdogan yang menang?
Sementara itu, Putin bakal ketar-ketir jika saingan kuat Erdogan, Kemal Kilicdaroglu, menang di Pemilu Turki.