Menurut informasi publik yang dirilis Selasa (6/7), Kim Kum Sun (43) dan Park Kwon Ju (15) terakhir terlihat pada Minggu (4/6) kala meninggalkan konsulat Korea Utara di Vladivostok, kota di timur Rusia. Sejak itu, keberadaan keduanya tak diketahui.
Menurut sumber di Vladivostok kepada Radio Free Asia (RFA), Kim dan Park merupakan istri dan putra dari seorang perwakilan perdagangan Korut berusia 60-an tahun bermarga Park. Park merupakan diplomat yang kembali ke Korut pada 2019.
Park dan keluarganya dikirim ke Rusia sebelum pandemi Covid-19. Mereka ditugaskan untuk mendapatkan mata uang asing bagi rezim Pyongyang dengan menjalankan restoran Koryo dan Sungai Tumen di Vladivostok.
Menurut warga Rusia keturunan Korea yang tahu insiden itu, Kim merupakan manajer pelaksana tugas (Plt) dari kedua restoran tersebut.
Naik taksi
Pada hari saat Kim dan Park hilang, ibu dan anak itu naik taksi dan turun di Jalan Nevskaya, kawasan yang tak jauh dari konsulat Korut.
"[Ibu dan anak itu] telah ditahan di konsulat Korea Utara di Vladivostok selama beberapa bulan dan kini menghilang saat waktu bebas seminggu sekali yang mereka miliki," kata warga Rusia keturunan Korea tersebut.
Sumber itu mengatakan Kim mulai menjadi Plt Manajer setelah Park tak bisa kembali ke Rusia karena perbatasan ditutup saat pandemi merebak. Masa sulit itu pun tampaknya juga cukup berdampak buruk bagi restoran Park. Bisnisnya jadi tak lancar.
"Pada Oktober tahun lalu, seorang asisten manajer yang mengawasi personel melarikan diri," ujarnya.
Dia membeberkan asisten manajer di restoran Koryo itu bernama Kim Pyong Chol (51). Ia kabur karena berusaha mencari suaka namun nahasnya ditangkap.
Karena insiden itu, konsulat pun menutup restoran tak lama kemudian lantaran takut ada orang lain yang juga berusaha kabur.
"Plt manajer dan putranya kemudian ditempatkan di bawah kurungan di dalam konsulat di Vladivostok," katanya.
"Mereka diizinkan keluar hanya satu hari dalam seminggu karena mereka tidak melakukan kejahatan khusus. Mereka hanya melakukan tugas-tugas di dalam konsulat dan dipantau."
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Desas-desus mengenai kemungkinan pembukaan kembali perbatasan antara Korut dan Rusia memang membuat warga Pyongyang di Kremlin cemas bakal dipulangkan.
"Mereka takut bahwa ketika mereka kembali ke Korea Utara, mereka akan kembali ke kehidupan di mana mereka terisolasi dari dunia luar," kata seorang sumber anonim.
Menurut profesor di Universitas Dong-A Busan, Kang Dong Wan, ketakutan untuk kembali ke salah satu negara paling terisolasi di dunia itu sudah terlihat jelas di antara komunitas pekerja dan pejabat Korut di Vladivostok.
"Para pekerja Korut yang saya temui di Vladivostok berada dalam situasi yang keras dan cukup gelisah," ujar Kang.
"Jika [pembukaan kembali perbatasan Rusia dan Korut] terjadi, ada banyak kemungkinan bahwa keluarga pekerja dan diplomat Korut akan kembali ke Korut. Jadi, mereka mungkin menilai satu-satunya kesempatan untuk melarikan diri dari Korut adalah sekarang."
Menurut surat kabar Dong-A Ilbo Korea Selatan, kantor kepresidenan di Seoul telah mengonfirmasi bahwa ibu dan anak itu hilang dan agen-agen di Korsel terkait kini tengah mencari mereka. Sejauh ini, mereka belum melakukan kontak dengan otoritas Korea Selatan.
Seorang pejabat di kantor terkait mengatakan kepada Dong-A bahwa kasus ini "belum pada tahap di mana mereka mencoba mencari suaka di Korea Selatan, sejauh yang saya tahu."
Jakarta, CNN Indonesia --
Anak dan istri seorang diplomat Korea Utara hilang di Rusia hingga pihak berwenang mengeluarkan peringatan orang hilang.
Hilangnya kedua orang ini diduga sebagai salah satu upaya pembelotan.
Menurut informasi publik yang dirilis Selasa (6/7), Kim Kum Sun (43) dan Park Kwon Ju (15) terakhir terlihat pada Minggu (4/6) kala meninggalkan konsulat Korea Utara di Vladivostok, kota di timur Rusia. Sejak itu, keberadaan keduanya tak diketahui.
Menurut sumber di Vladivostok kepada Radio Free Asia (RFA), Kim dan Park merupakan istri dan putra dari seorang perwakilan perdagangan Korut berusia 60-an tahun bermarga Park. Park merupakan diplomat yang kembali ke Korut pada 2019.
Park dan keluarganya dikirim ke Rusia sebelum pandemi Covid-19. Mereka ditugaskan untuk mendapatkan mata uang asing bagi rezim Pyongyang dengan menjalankan restoran Koryo dan Sungai Tumen di Vladivostok.
Menurut warga Rusia keturunan Korea yang tahu insiden itu, Kim merupakan manajer pelaksana tugas (Plt) dari kedua restoran tersebut.
Naik taksi
Pada hari saat Kim dan Park hilang, ibu dan anak itu naik taksi dan turun di Jalan Nevskaya, kawasan yang tak jauh dari konsulat Korut.
"[Ibu dan anak itu] telah ditahan di konsulat Korea Utara di Vladivostok selama beberapa bulan dan kini menghilang saat waktu bebas seminggu sekali yang mereka miliki," kata warga Rusia keturunan Korea tersebut.
Sumber itu mengatakan Kim mulai menjadi Plt Manajer setelah Park tak bisa kembali ke Rusia karena perbatasan ditutup saat pandemi merebak. Masa sulit itu pun tampaknya juga cukup berdampak buruk bagi restoran Park. Bisnisnya jadi tak lancar.
"Pada Oktober tahun lalu, seorang asisten manajer yang mengawasi personel melarikan diri," ujarnya.
Dia membeberkan asisten manajer di restoran Koryo itu bernama Kim Pyong Chol (51). Ia kabur karena berusaha mencari suaka namun nahasnya ditangkap.
Karena insiden itu, konsulat pun menutup restoran tak lama kemudian lantaran takut ada orang lain yang juga berusaha kabur.
"Plt manajer dan putranya kemudian ditempatkan di bawah kurungan di dalam konsulat di Vladivostok," katanya.
"Mereka diizinkan keluar hanya satu hari dalam seminggu karena mereka tidak melakukan kejahatan khusus. Mereka hanya melakukan tugas-tugas di dalam konsulat dan dipantau."
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Takut kembali
Pembelot dari Korut semakin banyak sejak rezim Kim Jong Un. (iStockphoto/narvikk)
Desas-desus mengenai kemungkinan pembukaan kembali perbatasan antara Korut dan Rusia memang membuat warga Pyongyang di Kremlin cemas bakal dipulangkan.
"Mereka takut bahwa ketika mereka kembali ke Korea Utara, mereka akan kembali ke kehidupan di mana mereka terisolasi dari dunia luar," kata seorang sumber anonim.
Menurut profesor di Universitas Dong-A Busan, Kang Dong Wan, ketakutan untuk kembali ke salah satu negara paling terisolasi di dunia itu sudah terlihat jelas di antara komunitas pekerja dan pejabat Korut di Vladivostok.
"Para pekerja Korut yang saya temui di Vladivostok berada dalam situasi yang keras dan cukup gelisah," ujar Kang.
"Jika [pembukaan kembali perbatasan Rusia dan Korut] terjadi, ada banyak kemungkinan bahwa keluarga pekerja dan diplomat Korut akan kembali ke Korut. Jadi, mereka mungkin menilai satu-satunya kesempatan untuk melarikan diri dari Korut adalah sekarang."
Menurut surat kabar Dong-A Ilbo Korea Selatan, kantor kepresidenan di Seoul telah mengonfirmasi bahwa ibu dan anak itu hilang dan agen-agen di Korsel terkait kini tengah mencari mereka. Sejauh ini, mereka belum melakukan kontak dengan otoritas Korea Selatan.
Seorang pejabat di kantor terkait mengatakan kepada Dong-A bahwa kasus ini "belum pada tahap di mana mereka mencoba mencari suaka di Korea Selatan, sejauh yang saya tahu."