Cerita Pria Korsel di Dekat Pelaku Buka Pintu Pesawat sebelum Mendarat
CNN Indonesia
Sabtu, 10 Jun 2023 05:18 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Petugas segera mengevakuasi para penumpang yang syok akibat pintu darurat dibuka pelaku sesaat sebelum mendarat. (AP/)
Lee berujar dia kemudian mengamankan pria tersebut dengan dibantu oleh penumpang lain saat pramugari meminta bantuan. Saat itu Lee baru menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi.
Setelah pesawat tiba di bandara, polisi langsung menangkap pria berusia 30 tahun itu atas tuduhan melanggar undang-undang keamanan penerbangan.
Polisi mengatakan pria tersebut dalam kondisi mental yang buruk. Orang itu disebut merasa tercekik dan ingin segera turun dari pesawat.
Menurut Lee, setelah mengingatnya kembali, dia pun sejak awal sudah merasa tidak nyaman dengan penumpang di sebelahnya itu.
"Dari saat dia naik pesawat, dia tampak pucat dan mengeluarkan suasana buruk. Dia tampak agak gelap, terus-menerus gelisah, melihat sekeliling dan bersikap aneh," ujar Lee.
Dari 200 orang yang dibawa pesawat itu, syukurnya tak ada satu pun yang terluka parah. Meski begitu, sembilan di antaranya mengalami hiperventilasi, kondisi yang relatif wajar mengingat parahnya situasi.
Investigasi insiden tersebut hingga kini terus berlanjut. Menurut Asiana Airlines, polisi sedang menyelidiki bagaimana pria itu bisa membuka pintu pesawat yang mengudara.
Produsen pesawat, Airbus, menyebut pintu pesawat tak bisa dibuka kecuali jika sudah mendarat.
Sejauh ini, menurut Lee, belum ada kabar dari Asiana Airlines sejak insiden terjadi. Meski begitu, dia merasa bersyukur telah diberi kesempatan kedua untuk hidup.
"Rasanya seperti saya telah dilahirkan kembali, saya hanya mencoba untuk bersenang-senang dan hidup lebih menarik. Saya menikmatinya," kata Lee, yang mengaku menikmati dianggap sebagai pahlawan karena menghentikan penumpang yang hendak melompat dari pesawat.
"Saya tiba-tiba menjadi selebriti dadakan. Setiap kali saya bersama teman-teman saya, saya bercanda menyebut diri saya sebagai selebriti."
(blq/bac)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pria Korea Selatan Lee Yoon Jun yang duduk di sebelah pelaku pembuka pintu pesawat Asiana Airlines, membagikan pengalaman menegangkannya selama terpapar angin dahsyat usai pintu darurat dibuka.
Ia mengatakan saat itu dirinya merasa hampir mau mati. Dia pun bertanya-tanya apa kesalahan yang pernah dia perbuat selama hidup sampai dia harus mengalami hal tersebut.
"Saya hanya merasakan kengerian akan kematian. Saya kira saya akan mati. (Saya merasa) ini dia, ini akhir bagi saya," kata Lee seperti dikutip dari CNN, Jumat (9/6).
"Di film-film bencana, semua orang sepertinya selalu mati ketika pintu terbuka di udara. Saya bertanya-tanya apa kesalahan yang telah saya lakukan dalam hidup saya. Itu hanya sesaat, tapi saya punya banyak sekali pikiran."
Pria yang hendak bepergian dari Jeju ke Daegu itu mengaku kala itu sedang menonton siaran Youtube di ponsel. Sejurus kemudian, ia merasakan tamparan angin kencang meniup topi dan headphone-nya hingga membuat sulit bernapas.
Saat menoleh, dia mendapati awan di area yang mestinya tertutup pintu darurat. Saat itu, pesawat yang dia tumpangi bersiap mendarat, namun masih berada 700 kaki atau sekitar 213 meter di udara.
Bagi Lee, malapetaka tampak sangat nyata waktu itu.
Tapi, begitu roda pesawat menyentuh tanah, pria tersebut tampak mencoba melompat dari pesawat yang masih bergerak cepat. Lee meyakini pria itu mengalami serangan panik.
"Ketika saya sedang melihat pramugari, saya dengar suara seseorang di sebelah saya membuka sabuk pengamannya, saya menyadari orang ini sedang bersandar ke pintu darurat," kata dia.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Langsung Mengamankan Pelaku
Petugas segera mengevakuasi para penumpang yang syok akibat pintu darurat dibuka pelaku sesaat sebelum mendarat. (AP/)
Lee berujar dia kemudian mengamankan pria tersebut dengan dibantu oleh penumpang lain saat pramugari meminta bantuan. Saat itu Lee baru menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi.
Setelah pesawat tiba di bandara, polisi langsung menangkap pria berusia 30 tahun itu atas tuduhan melanggar undang-undang keamanan penerbangan.
Polisi mengatakan pria tersebut dalam kondisi mental yang buruk. Orang itu disebut merasa tercekik dan ingin segera turun dari pesawat.
Menurut Lee, setelah mengingatnya kembali, dia pun sejak awal sudah merasa tidak nyaman dengan penumpang di sebelahnya itu.
"Dari saat dia naik pesawat, dia tampak pucat dan mengeluarkan suasana buruk. Dia tampak agak gelap, terus-menerus gelisah, melihat sekeliling dan bersikap aneh," ujar Lee.
Dari 200 orang yang dibawa pesawat itu, syukurnya tak ada satu pun yang terluka parah. Meski begitu, sembilan di antaranya mengalami hiperventilasi, kondisi yang relatif wajar mengingat parahnya situasi.
Investigasi insiden tersebut hingga kini terus berlanjut. Menurut Asiana Airlines, polisi sedang menyelidiki bagaimana pria itu bisa membuka pintu pesawat yang mengudara.
Produsen pesawat, Airbus, menyebut pintu pesawat tak bisa dibuka kecuali jika sudah mendarat.
Sejauh ini, menurut Lee, belum ada kabar dari Asiana Airlines sejak insiden terjadi. Meski begitu, dia merasa bersyukur telah diberi kesempatan kedua untuk hidup.
"Rasanya seperti saya telah dilahirkan kembali, saya hanya mencoba untuk bersenang-senang dan hidup lebih menarik. Saya menikmatinya," kata Lee, yang mengaku menikmati dianggap sebagai pahlawan karena menghentikan penumpang yang hendak melompat dari pesawat.
"Saya tiba-tiba menjadi selebriti dadakan. Setiap kali saya bersama teman-teman saya, saya bercanda menyebut diri saya sebagai selebriti."