5 Fakta Teror Penikaman Korsel: Warga Takut, Marak Ancaman Pembunuhan
CNN Indonesia
Senin, 07 Agu 2023 10:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tiga penikaman meneror Korea Selatan. Warga pun panik, sementara polisi berupaya mencegah puluhan ancaman pembunuhan yang muncul di jagat maya. ((Reuters/Yonhap News Agency)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga penikaman meneror Korea Selatan dalam dua pekan. Warga pun panik, sementara kepolisian berupaya mencegah puluhan ancaman pembunuhan yang muncul di jagat maya di tengah teror ini.
Teror ini membuat warga panik karena mereka tak pernah merasakan kengerian seperti ini sebelumnya. Selama ini, Korsel memang dianggap sebagai salah satu negara yang aman dengan tingkat kriminalitas termasuk rendah.
Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, pun langsung memerintahkan jajaran kepolisian untuk bergerak, menyelidiki insiden belakangan ini, sembari mencegah ancaman pembunuhan yang kian marak di jagat maya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut fakta-fakta soal teror penikaman di Korea Selatan tersebut.
Teror ini bermula pada 21 Juli lalu. Kala itu, seorang pria menikam setidaknya empat pejalan kaki di satu ruas jalan di dekat stasiun kereta bawah tanah di Seoul.
Satu orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat insiden tersebut. Associated Press melaporkan pelaku sebenarnya sempat ditahan, tapi kemudian meninggal dunia.
Sekitar dua pekan berselang, penikaman kembali terjadi di Seoul. Kali ini, insiden menyedot perhatian karena pelaku memulai aksinya dengan menabrakkan mobil ke trotoar penuh pejalan kaki di kawasan Seongnam.
Ia kemudian keluar dari mobil dan menikam sejumlah orang di dalam mal di dekat tempatnya menabrak trotoar. Pelaku akhirnya ditangkap, tapi 14 orang terluka dalam insiden tersebut.
Belum reda ketakutan warga, penikaman kembali terjadi di Korsel sehari kemudian, tepatnya Jumat. Kala itu, seorang pria menikam satu guru di Sekolah Menengah Atas Songchon di Dejeon, daerah yang berjarak 120 kilometer dari Seongnam.
Diberitakan Associated Press, sejumlah pejabat Badan Kepolisian Metropolitan Daejeon mengatakan pelaku menunggu guru itu keluar dari ruang kelas, lalu menikamnya. Pelaku sempat berupaya kabur, tapi kemudian ditangkap aparat.
Kepanikan terpancar jelas dari warga yang tinggal di lokasi dekat insiden penikaman di mal Seongnam pada pekan lalu.
"Saya selalu mengatakan kepada anak-anak saya agar berhati-hati ketika mereka pergi ke luar negeri karena takut kejahatan bersenjata, tapi saya sekarang lebih takut berada di Korea Selatan," ujar seorang wargaSeongnam, Lee Young Ja.
Seorang warga lainnya di daerah tersebut, Choi Jun Ho, mengaku kini lebih berhati-hati ketika berjalan ke tempatnya bekerja di dekat mal tersebut.
"Sangat mengerikan. Kejadian seperti ini dapat terjadi di dekat saya," ucap Choi, seperti dikutip Reuters.
Warga semakin waswas karena belakangan, semakin banyak muncul ancaman pembunuhan di jagat maya, di tengah teror penikaman ini.
"Saya meminta keluarga dan teman-teman saya untuk berdiam di rumah saja. Saya harap orang-orang yang mengunggah ancaman itu dilacak dan dihukum berat," kata seorang warga yang enggan diungkap identitasnya.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
3. Presiden buka suara
Di tengah kepanikan warga ini, Presiden Yoon Suk Yeol akhirnya buka suara. Yoon menganggap rentetan insiden ini sebagai tindakan terorisme terhadap warga yang tak bersalah.
Ia lantas memerintahkan kepolisian untuk mengerahkan semua sumber daya untuk meredam kekhawatiran warga.
Sejumlah ahli pun memperingatkan agar Korsel waspada akan kemungkinan serangan serupa terjadi di kemudian hari. Profesor ilmu kepolisian di Universitas Kyungnam, Kim Do Woo, mengatakan aparat harus cepat mendeteksi pola penikaman ini.
"Para pelaku yang tak punya motif jelas bukan berarti tak ada cara untuk mencegah kejahatan semacam ini," ucapnya, seperti dilansir Reuters.
Kim kemudian menarik contoh, polisi dapat memantau ketat dan secara proaktif melakukan pencegahan ketika mendeteksi laporan perilaku mencurigakan di tempat-tempat ramai, mengingat kejadian belakangan ini terjadi di dekat stasiun.
Kepolisian sendiri sudah mendeteksi setidaknya 54 ancaman pembunuhan yang diunggah di media sosial dalam beberapa hari belakangan.
The Korea Heraldmelaporkan kepolisian sudah melacak keberadaan para penebar teror tersebut. Menurut sejumlah pejabat kepolisian, beberapa dari puluhan orang itu masih anak-anak.
Saat ini, kepolisian sedang memeriksa kembali kasus masing-masing orang dan kemungkinan dakwaan yang bisa dijatuhkan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga penikaman meneror Korea Selatan dalam dua pekan. Warga pun panik, sementara kepolisian berupaya mencegah puluhan ancaman pembunuhan yang muncul di jagat maya di tengah teror ini.
Teror ini membuat warga panik karena mereka tak pernah merasakan kengerian seperti ini sebelumnya. Selama ini, Korsel memang dianggap sebagai salah satu negara yang aman dengan tingkat kriminalitas termasuk rendah.
Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, pun langsung memerintahkan jajaran kepolisian untuk bergerak, menyelidiki insiden belakangan ini, sembari mencegah ancaman pembunuhan yang kian marak di jagat maya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut fakta-fakta soal teror penikaman di Korea Selatan tersebut.
Teror ini bermula pada 21 Juli lalu. Kala itu, seorang pria menikam setidaknya empat pejalan kaki di satu ruas jalan di dekat stasiun kereta bawah tanah di Seoul.
Satu orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat insiden tersebut. Associated Press melaporkan pelaku sebenarnya sempat ditahan, tapi kemudian meninggal dunia.
Sekitar dua pekan berselang, penikaman kembali terjadi di Seoul. Kali ini, insiden menyedot perhatian karena pelaku memulai aksinya dengan menabrakkan mobil ke trotoar penuh pejalan kaki di kawasan Seongnam.
Ia kemudian keluar dari mobil dan menikam sejumlah orang di dalam mal di dekat tempatnya menabrak trotoar. Pelaku akhirnya ditangkap, tapi 14 orang terluka dalam insiden tersebut.
Belum reda ketakutan warga, penikaman kembali terjadi di Korsel sehari kemudian, tepatnya Jumat. Kala itu, seorang pria menikam satu guru di Sekolah Menengah Atas Songchon di Dejeon, daerah yang berjarak 120 kilometer dari Seongnam.
Diberitakan Associated Press, sejumlah pejabat Badan Kepolisian Metropolitan Daejeon mengatakan pelaku menunggu guru itu keluar dari ruang kelas, lalu menikamnya. Pelaku sempat berupaya kabur, tapi kemudian ditangkap aparat.
Kepanikan terpancar jelas dari warga yang tinggal di lokasi dekat insiden penikaman di mal Seongnam pada pekan lalu.
"Saya selalu mengatakan kepada anak-anak saya agar berhati-hati ketika mereka pergi ke luar negeri karena takut kejahatan bersenjata, tapi saya sekarang lebih takut berada di Korea Selatan," ujar seorang wargaSeongnam, Lee Young Ja.
Seorang warga lainnya di daerah tersebut, Choi Jun Ho, mengaku kini lebih berhati-hati ketika berjalan ke tempatnya bekerja di dekat mal tersebut.
"Sangat mengerikan. Kejadian seperti ini dapat terjadi di dekat saya," ucap Choi, seperti dikutip Reuters.
Warga semakin waswas karena belakangan, semakin banyak muncul ancaman pembunuhan di jagat maya, di tengah teror penikaman ini.
"Saya meminta keluarga dan teman-teman saya untuk berdiam di rumah saja. Saya harap orang-orang yang mengunggah ancaman itu dilacak dan dihukum berat," kata seorang warga yang enggan diungkap identitasnya.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
5 Fakta Teror Penikaman Korsel: Warga Takut, Ancaman Pembunuhan Naik
Tiga penikaman meneror Korea Selatan. Warga pun panik, sementara polisi berupaya mencegah puluhan ancaman pembunuhan yang muncul di jagat maya. (AP/Ahn Young-joon)
3. Presiden buka suara
Di tengah kepanikan warga ini, Presiden Yoon Suk Yeol akhirnya buka suara. Yoon menganggap rentetan insiden ini sebagai tindakan terorisme terhadap warga yang tak bersalah.
Ia lantas memerintahkan kepolisian untuk mengerahkan semua sumber daya untuk meredam kekhawatiran warga.
Sejumlah ahli pun memperingatkan agar Korsel waspada akan kemungkinan serangan serupa terjadi di kemudian hari. Profesor ilmu kepolisian di Universitas Kyungnam, Kim Do Woo, mengatakan aparat harus cepat mendeteksi pola penikaman ini.
"Para pelaku yang tak punya motif jelas bukan berarti tak ada cara untuk mencegah kejahatan semacam ini," ucapnya, seperti dilansir Reuters.
Kim kemudian menarik contoh, polisi dapat memantau ketat dan secara proaktif melakukan pencegahan ketika mendeteksi laporan perilaku mencurigakan di tempat-tempat ramai, mengingat kejadian belakangan ini terjadi di dekat stasiun.
Kepolisian sendiri sudah mendeteksi setidaknya 54 ancaman pembunuhan yang diunggah di media sosial dalam beberapa hari belakangan.
The Korea Heraldmelaporkan kepolisian sudah melacak keberadaan para penebar teror tersebut. Menurut sejumlah pejabat kepolisian, beberapa dari puluhan orang itu masih anak-anak.
Saat ini, kepolisian sedang memeriksa kembali kasus masing-masing orang dan kemungkinan dakwaan yang bisa dijatuhkan.