Swedia Kian Panas Gegara Pembakaran Al Quran, Mungkinkah Disabotase?
CNN Indonesia
Kamis, 10 Agu 2023 13:33 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Aksi Salwan Momika berdemo dan membakar Al Quran. (AFP/JONATHAN NACKSTRAND)
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sampai-sampai menggelar pertemuan khusus membahas situasi di Swedia. Ini membuat Stockholm tertekan di tengah upaya mereka masuk aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
"Kecaman dan tekanan terhadap Swedia semakin kuat dan ada upaya Swedia mengalihkan isu lama ini dengan sabotase Rusia," terang Yon lagi.
Sementara itu, pengamat hubungan internasional lain dari Universitas Muhammadiyah, Fahmi Salsabila, juga punya pandangan serupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memandang perlu bukti nyata terkait tuduhan Swedia terhadap Rusia.
"Rusia sendiri sedang fokus dalam konflik melawan Ukraina yang didukung negara Barat," kata Fahmi.
Rusia selama ini memang cemas jika ada negara, terutama bekas eks Uni Soviet, yang ingin bergabung dengan NATO. Namun, kata Fahmi, bukan berarti Kremlin ikut andil di urusan internal negara lain.
"Bukan berarti Rusia mengintimidasi jauh ke dalam negeri Swedia," ujar dia.
Fahmi lalu memberi contoh upaya Ukraina masuk NATO. Di kasus ini, lanjut dia, Rusia melakukan pendekatan bertahap dengan pendekatan diplomatik, terbuka, dan memberi tekanan.
Rusia menyatakan keberatan soal ekspansi NATO menyangkut keamanan nasionalnya. Namun, Barat mengabaikan pandangan Kremlin.
"Hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan serangan ke Ukraina karena jika Ukraina masuk NATO maka menjadi ancaman besar bagi kedaulatan Rusia," lanjut Fahmi.
Rusia juga melakukan tindakan serupa saat Georgia ingin masuk NATO.
Pada Agustus 2008, Rusia melancarkan serangan ke Ossetia Selatan, Georgia. Wilayah itu dikuasai kelompok separatis yang pro-Rusia.
Pertempuran berakhir setelah berlangsung selama lima hari. Rusia dan Georgia sepakat gencatan senjata, sebuah langkah yang dimediasi Uni Eropa.
Setelah itu, Rusia mengakui Ossetia Selatan dan wilayah separatis lain, Abkhazia, sebagai negara merdeka. Kremlin juga membangun pangkalan militer di wilayah tersebut.
(isa/rds/bac)
Jakarta, CNN Indonesia --
Swedia terus menjadi sorotan usai serangkaian insidenpembakaran Al Quran yang berlangsung di negara Nordik itu belakangan ini.
Menteri Pertahanan Swedia Carl Oskar Bohlin menuding Rusia ingin 'menyabotase' Swedia melalui aksi pembakaran kitab suci.
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson juga mengutarakan komentar yang nyaris serupa. Ia menyebut terdapat aktor negara yang memanfaatkan situasi di Swedia.
Terlepas dari itu, mungkinkah pembakaran Al Quran di Swedia sabotase Rusia?
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, memandang aksi pembakaran kitab suci bukan sabotase Negeri Beruang Merah.
"Saya meragukan menguatnya isu pembakaran Al Quran di Swedia berkaitan dengan Rusia. Saya kira ini lebih dari posisi Swedia yang memberikan kebebasan dalam aksi pembakaran kitab suci sebagai hak asasi," ujar Yon kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/8).
Menurut dia, aturan hukum soal kebebasan ekspresi di Swedia mengganggu perasaan dunia Islam termasuk Indonesia dan negara-negara Timur Tengah. Stockholm kerap mengklaim aksi tersebut bagian dari kebebasan berpendapat dan berada di bawah pengawasan polisi.
Insiden pembakaran Al Quran itu membuat negara Muslim semakin kuat untuk mendesak Swedia agar mengadopsi kebijakan yang inklusif bagi penganut agama lain.
"Bisa dijadikan tekanan kepada Swedia agar dapat mengadopsi kebijakan yang lebih ramah terhadap penghormatan penganut agama terhadap kitab suci, terutama umat Islam," ucap Yon.
Setiap aksi pembakaran Al Quran di Swedia, negara Muslim atau mayoritas Muslim ramai-ramai mengecam tindakan tersebut. Mereka juga menuntut Stockholm bersikap tegas terhadap pelaku.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Apakah Rusia Mungkin Terkait?
Aksi Salwan Momika berdemo dan membakar Al Quran. (AFP/JONATHAN NACKSTRAND)
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sampai-sampai menggelar pertemuan khusus membahas situasi di Swedia. Ini membuat Stockholm tertekan di tengah upaya mereka masuk aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
"Kecaman dan tekanan terhadap Swedia semakin kuat dan ada upaya Swedia mengalihkan isu lama ini dengan sabotase Rusia," terang Yon lagi.
Sementara itu, pengamat hubungan internasional lain dari Universitas Muhammadiyah, Fahmi Salsabila, juga punya pandangan serupa.
Ia memandang perlu bukti nyata terkait tuduhan Swedia terhadap Rusia.
"Rusia sendiri sedang fokus dalam konflik melawan Ukraina yang didukung negara Barat," kata Fahmi.
Rusia selama ini memang cemas jika ada negara, terutama bekas eks Uni Soviet, yang ingin bergabung dengan NATO. Namun, kata Fahmi, bukan berarti Kremlin ikut andil di urusan internal negara lain.
"Bukan berarti Rusia mengintimidasi jauh ke dalam negeri Swedia," ujar dia.
Fahmi lalu memberi contoh upaya Ukraina masuk NATO. Di kasus ini, lanjut dia, Rusia melakukan pendekatan bertahap dengan pendekatan diplomatik, terbuka, dan memberi tekanan.
Rusia menyatakan keberatan soal ekspansi NATO menyangkut keamanan nasionalnya. Namun, Barat mengabaikan pandangan Kremlin.
"Hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan serangan ke Ukraina karena jika Ukraina masuk NATO maka menjadi ancaman besar bagi kedaulatan Rusia," lanjut Fahmi.
Rusia juga melakukan tindakan serupa saat Georgia ingin masuk NATO.
Pada Agustus 2008, Rusia melancarkan serangan ke Ossetia Selatan, Georgia. Wilayah itu dikuasai kelompok separatis yang pro-Rusia.
Pertempuran berakhir setelah berlangsung selama lima hari. Rusia dan Georgia sepakat gencatan senjata, sebuah langkah yang dimediasi Uni Eropa.
Setelah itu, Rusia mengakui Ossetia Selatan dan wilayah separatis lain, Abkhazia, sebagai negara merdeka. Kremlin juga membangun pangkalan militer di wilayah tersebut.