Jakarta, CNN Indonesia -- Tokoh pro-Rusia berpeluang menduduki kursi perdana menteri salah satu negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Slovakia.
Partai oposisi salah satu simpatisan Kremlin yang dipimpin Robert Fico saat ini berada di posisi teratas penghitungan suara sementara pemilu di Slovakia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slovakia merupakan salah satu sekutu dekat Ukraina saat Rusia melancarkan invasi ke negara tersebut pada Februari tahun lalu.
Kedua negara berbagi perbatasan. Slovakia bahkan jadi negara pertama yang mengirimkan pertahanan udara ke Ukraina dan menampung puluhan ribu pengungsi dari negara tetangganya itu.
[Gambas:Video CNN]
Meski demikian, kedekatan kedua negara bisa berakhir jika Fico memimpin Slovakia. Pria yang pernah menjabat sebagai perdana menteri pun secara terbuka mendukung Rusia dan menyalahkan "Nazi dan fasis Ukraina" yang telah memprovokasi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ia mendukung narasi yang digunakan Putin untuk melakukan invasi di Ukraina.
Fico bahkan secara gamblang menyerukan pemerintah Slovakia menyetop bantuan persenjataan ke Kyiv.
Fico mengatakan bahwa jika ia jadi perdana menteri, Slovakia tidak akan mengirimkan bantuan amunisi lagi ke Ukraina. Ia juga menentang rencana Ukraina menjadi anggota NATO.
Analis politik dari Institut Urusan Publik Slovakia, Grigorij Meseznikov mengatakan bahwa Fico dan sejumlah simpatisan Rusia lainnya menggiring opini atas dukungannya ke Moskow sebagai upaya damai.
"Dia dan pendukungnya berargumen bahwa 'kita jangan lagi mengirim persenjataan ke Ukraina' karena akan membuat perang makin lama. Mereka mengatakan 'kedamaian tercipta jika kita menyetop menyuplai senjata ke Ukraina' sehingga bisa mengakhiri konflik. Jadi dalam hal ini, dia bukan pro-perdamaian, tapi pro-Rusia," tutur Meseznikov seperti dikutip dari CNN.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Panas Dinamika Politik Slovakia
Mantan Perdana Menteri Slovakia Igor Matovic. (AFP/VLADIMIR SIMICEK)
Fico pernah menjadi Perdana Menteri Slovakia selama lebih dari satu dekade. Periode pertama kepemimpinannya antara 2006 hingga 2010, berlanjut lagi pada 2012 hingga 2018.
Ia dipaksa lengser pada Maret 2018 setelah aksi protes besar-besaran terkait pembunuhan seorang jurnalis investigatif Jan Kuciak dan tunangannya, Martina Kusnirova.
Saat itu Kuciak membongkar korupsi di antara para elite negara itu, termasuk orang-orang terkait Fico dan partainya, SMER.
Kasus itu membuat elektabilitas SMER jeblok pada 2020 dan mengerek popularitas Partai Rakyat Kanan Tengah dan Kepribadian Mandiri (OLaNO) sehingga memenangkan pemilu.
Sempat membawa angin segar perubahan, OLaNO dan pemimpinnya, Ogor Matovic, juga mengecewakan para pemilih. Matovic yang merupakan konglomerat sempat melontarkan janji untuk membersihkan Slovakia dari korupsi.
Namun, kebijakan anti-korupsinya itu mengalami beberapa pukulan sejak awal. Ia didesak mengakui telah menjiplak tesis gelar masternya dan membuat Slovakia dipenuhi dengan pertikaian selama kepemimpinannya.
Ia terpaksa mundur lantaran perpecahan di koalisi pemerintahannya karena kebijakan membeli vaksin Covid-19 dari Rusia.
Prahara politik Slovakia itu pun dimanfaatkan dengan baik oleh Partai SMER untuk mengembalikan popularitas mereka di negara itu.