Banyak Warga Israel di Luar Negeri Putuskan Pulang Usai Serangan Hamas
CNN Indonesia
Sabtu, 14 Okt 2023 05:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kepanikan warga Israel kala mendapat serangan mendadak dari milisi Hamas pada Sabtu (7/10). (AP/Tsafrir Abayov)
Orang Israel lain yang kembali ke negaranya adalah Guy (30), yang bekerja di bidang keamanan siber dan telah tinggal di London selama lima tahun terakhir. CNN tidak menggunakan nama belakangnya untuk alasan keamanan. Guy melakukan perjalanan kembali ke Israel pada Rabu (11/10), usai mengetahui enam temannya hilang setelah menghadiri festival musik Supernova. Dua dari lima orang itu telah dipastikan tewas.
Guy mengatakan kepada CNN bahwa dia kembali untuk menjadi tentara cadangan dan untuk menghadiri pemakaman teman-temannya, yang merupakan bagian dari "lingkaran dekat" yang sering menghadiri festival musik trance seperti Supernova, yang juga dihadiri juga oleh warga Palestina.
"Generasi yang lahir sejak Perang Yom Kippur belum pernah melihat hal seperti ini," kata Guy. "Mereka memiliki kesempatan untuk percaya pada perdamaian dan solusi dua negar, kami tumbuh dengan hal itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang-orang yang menghadiri festival ini berpartisipasi sebagai warga dunia yang pada dasarnya hanya ingin merayakan kehidupan," lanjutnya.
Israel telah memanggil 300.000 tentara cadangan untuk berperang sekaligus membasmi Hamas di Gaza, yang merupakan balasan dari serangan mendadak kelompok militan Palestina itu akhir pekan lalu.
Meskipun ada beberapa pengecualian, setiap warga negara Israel yang berusia di atas 18 tahun diwajibkan untuk bertugas di Israel Defence Forces (IDF). Setelah menyelesaikan dinasnya, banyak yang melakukan perjalanan jauh ke luar negeri, semacam ritual peralihan pasca-dinas.
Sementara itu, warga Israel lainnya yang juga bernama Ben, yang nama belakangnya juga dirahasiakan, membatalkan rencana keliling Asia selama beberapa bulan saat mengetahui serangan Hamas terjadi pada Sabtu (7/10), di mana kala itu dia tengaha berada di sebuah desa pegunungan di Nepal.
Dia telah kembali ke Israel dan bersiaga sebagai tentara cadangan di unit pengintaian. Dia melakukan penerbangan kembali ke Israel pada Selasa (10/10). Ben memperkirakan ada lebih dari 100 orang Israel di Kathmandu yang mencoba untuk kembali.
Warga Israel lainnya, Ilan Fisher (29) sedang berlibur sekaligus menghadiri pernikahan temannya di Melbourne, Australia, pada hari serangan Hamas. Dia berencana untuk terbang ke Israel pada Minggu (15/10) dan berharap untuk direkrut kembali ke militer.
"Mengingat situasi di sana saat ini, betapa buruknya dan betapa mengerikannya hal itu, saya tidak punya pilihan lain selain kembali," ujar Fisher.
Beberapa warga Israel bergegas kembali ke negaranya karena alasan lain. Seperti Rachel Gold,(27), yang sedang berlibur di Toronto, Kanada dan mendapat ide untuk membawa perbekalan kembali ke Israel bersama temannya, Jessica Kane, yang sedang mengunjungi orang tuanya di New York, Amerika Serikat.
Setelah melakukan seruan di media sosial, mereka mengumpulkan US$15.000 untuk membeli perlengkapan dan terbang kembali pada Senin (9/10) malam bersama dua teman lainnya, membawa 13 box besar, empat tas jinjing, dan beberapa ransel. Bagasi tersebut berisi perbekalan termasuk senter, pakaian dalam, kaus kaki, sikat gigi, pengisi daya portabel, kantong hidrasi, dan protein batangan.
(wiw)
Jakarta, CNN Indonesia --
Peristiwa serangan besar kelompok militan Palestina Hamas ke Israel pada Sabtu (7/10) meninggalkan beragam cerita. Akibat kejadian itu, tidak sedikit warga Israel di luar negeri memutuskan kembali ke negara mereka dengan berbagai alasan.
Ben, salah satu warga Israel yang tinggal di London, Inggris, menceritakan bagaimana kekhawatiran dia tentang kondisi ibu dan adiknya yang sedang menghadiri festival musik di Israel, yang diserang kelompok militan Hamas.
"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berdoa: 'tolong bunuh dia (ibunya) saja karena itu lebih baik daripada diculik," kata Ben, yang nama belakangnya tidak digunakan CNN karena alasan keamanan, pada Rabu (11/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini mimpi buruk. Saya berkata: 'tolong bunuh dia, jangan bawa dia ke sana'," ucapnya.
Melalui WhatsApp, dia menyaksikan, tanpa daya, saat ibu dan adik laki-lakinya mengirimkan kabar terbaru selama delapan jam, memberitahunya bahwa mereka bersembunyi di semak-semak kecil, mendengar suara tembakan dan orang-orang yang lewat.
"(Setiap pesan) membutuhkan waktu sekitar dua menit untuk sampai dan di antara momen itu, keduanya tidak ada komunikasi," katanya. "Setiap dua menit Anda mengacak-acak rambut Anda untuk mendapatkan jawaban," tutur Ben, seperti dilansir CNN, Jumat (13/10).
Akhirnya, Ben mendengar tentang lokasi yang aman, lalu mengirimkan petanya kepada saudaranya dan mereka berhasil melarikan diri dari festival musik itu. Keesokan paginya, Ben terbang ke Israel dari London di mana dia tinggal bersama istri dan anak-anaknya yang berkebangsaan Inggris.
Ben adalah salah satu dari banyak warga Israel yang pulang dari luar negeri ketika konflik berkepanjangan antara negara mereka dengan Hamas meningkat menjadi perang yang belum pernah terjadi dalam skala sebesar ini selama satu generasi.
Menurut laporan Reuters, untuk mengatasi meningkatnya permintaan penerbangan, maskapai Israel El Al, Israir, dan Arkia menambahkan lebih banyak penerbangan pada Selasa (10/10) untuk memulangkan pasukan cadangan militer.
Dengan mempersingkat hari libur atau meninggalkan kehidupan sehari-hari mereka di luar negeri, orang-orang Israel ini kembali ke negaranya untuk menghadiri pemakaman, sebagai persiapan untuk dipanggil ke pasukan cadangan militer, membawa perbekalan, atau untuk membantu melindungi komunitas mereka.
Setidaknya 1.200 orang telah terbunuh di Israel setelah serangan mematikan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober lalu ketika milisinya menerobos perbatasan yang dijaga ketat. .
Segera setelah menemui keluarganya ketika dia mendarat di Israel, Ben pergi ke Lod, sebuah kota sekitar sembilan mil tenggara Tel Aviv, di mana sebelumnya terjadi ledakan kekerasan.
Di sana ia bergabung dengan teman-temannya dalam membentuk penjagaan lingkungan secara dadakan, untuk memastikan situasi tetap tenang. Sejak saat itu, dia membantu mengantarkan makanan sumbangan dan berencana untuk berkendara ke bagian selatan negara itu, karena tidak ada cukup pengemudi untuk mengantar orang ke keluarga mereka.
"Setidaknya ada sesuatu yang bisa saya lakukan. Saya tidak bisa tinggal di London dan hanya menonton semuanya terjadi di TV," kata Ben.
Pulang ke Israel untuk Menghadiri Pemakaman Teman yang Jadi Korban Hamas
Kepanikan warga Israel kala mendapat serangan mendadak dari milisi Hamas pada Sabtu (7/10). (AP/Tsafrir Abayov)
Orang Israel lain yang kembali ke negaranya adalah Guy (30), yang bekerja di bidang keamanan siber dan telah tinggal di London selama lima tahun terakhir. CNN tidak menggunakan nama belakangnya untuk alasan keamanan. Guy melakukan perjalanan kembali ke Israel pada Rabu (11/10), usai mengetahui enam temannya hilang setelah menghadiri festival musik Supernova. Dua dari lima orang itu telah dipastikan tewas.
Guy mengatakan kepada CNN bahwa dia kembali untuk menjadi tentara cadangan dan untuk menghadiri pemakaman teman-temannya, yang merupakan bagian dari "lingkaran dekat" yang sering menghadiri festival musik trance seperti Supernova, yang juga dihadiri juga oleh warga Palestina.
"Generasi yang lahir sejak Perang Yom Kippur belum pernah melihat hal seperti ini," kata Guy. "Mereka memiliki kesempatan untuk percaya pada perdamaian dan solusi dua negar, kami tumbuh dengan hal itu.
Orang-orang yang menghadiri festival ini berpartisipasi sebagai warga dunia yang pada dasarnya hanya ingin merayakan kehidupan," lanjutnya.
Israel telah memanggil 300.000 tentara cadangan untuk berperang sekaligus membasmi Hamas di Gaza, yang merupakan balasan dari serangan mendadak kelompok militan Palestina itu akhir pekan lalu.
Meskipun ada beberapa pengecualian, setiap warga negara Israel yang berusia di atas 18 tahun diwajibkan untuk bertugas di Israel Defence Forces (IDF). Setelah menyelesaikan dinasnya, banyak yang melakukan perjalanan jauh ke luar negeri, semacam ritual peralihan pasca-dinas.
Sementara itu, warga Israel lainnya yang juga bernama Ben, yang nama belakangnya juga dirahasiakan, membatalkan rencana keliling Asia selama beberapa bulan saat mengetahui serangan Hamas terjadi pada Sabtu (7/10), di mana kala itu dia tengaha berada di sebuah desa pegunungan di Nepal.
Dia telah kembali ke Israel dan bersiaga sebagai tentara cadangan di unit pengintaian. Dia melakukan penerbangan kembali ke Israel pada Selasa (10/10). Ben memperkirakan ada lebih dari 100 orang Israel di Kathmandu yang mencoba untuk kembali.
Warga Israel lainnya, Ilan Fisher (29) sedang berlibur sekaligus menghadiri pernikahan temannya di Melbourne, Australia, pada hari serangan Hamas. Dia berencana untuk terbang ke Israel pada Minggu (15/10) dan berharap untuk direkrut kembali ke militer.
"Mengingat situasi di sana saat ini, betapa buruknya dan betapa mengerikannya hal itu, saya tidak punya pilihan lain selain kembali," ujar Fisher.
Beberapa warga Israel bergegas kembali ke negaranya karena alasan lain. Seperti Rachel Gold,(27), yang sedang berlibur di Toronto, Kanada dan mendapat ide untuk membawa perbekalan kembali ke Israel bersama temannya, Jessica Kane, yang sedang mengunjungi orang tuanya di New York, Amerika Serikat.
Setelah melakukan seruan di media sosial, mereka mengumpulkan US$15.000 untuk membeli perlengkapan dan terbang kembali pada Senin (9/10) malam bersama dua teman lainnya, membawa 13 box besar, empat tas jinjing, dan beberapa ransel. Bagasi tersebut berisi perbekalan termasuk senter, pakaian dalam, kaus kaki, sikat gigi, pengisi daya portabel, kantong hidrasi, dan protein batangan.