Poin-poin Debat Sengit Israel vs Negara Arab di Markas PBB soal Gaza
CNN Indonesia
Jumat, 27 Okt 2023 13:23 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi Sidang Majelis Umum PBB. (Getty Images via AFP/EDUARDO MUNOZ ALVAREZ)
Jakarta, CNN Indonesia --
Israel dan negara-negara Arab saling melemparkan tuduhan tajam saat Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hari pertama, Kamis (26/10), di New York.
Saling tuding dan lempar kritik itu terjadi saat Majelis Umum PBB membuka sidang khusus membahas perang Israel vs milisi Hamas Palestina, menyusul kegagalan Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan.
DK PBB gagal mengadopsi resolusi setelah berulang kali usulan teks itu ditolak maupun diveto. Sejauh ini sudah ada tiga usulan resolusi yang gagal, yakni dari Rusia, Brasil, hingga Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari itu, berikut beberapa poin debat panas antara Israel dan negara-negara Arab di Sidang Majelis Umum PBB.
Wakil Perdana Menteri Yordania Ayman Safadi menuding Israel menjadikan Jalur Gaza, Palestina, sebagai neraka abadi di bumi imbas serangan-serangan Tel Aviv di daerah kantong tersebut.
"Israel menjadikan Gaza sebagai neraka di bumi. Trauma ini akan menghantui hingga ke generasi berikutnya," kata Safadi.
Safadi mengatakan Israel mengabaikan warga tak berdosa Palestina yang hilang nyawa akibat perang. Seiring dengan ini, ia pun menyampaikan niatnya mengajukan resolusi.
Teks resolusi yang telah diedarkan itu sebagian besar berfokus pada situasi kemanusiaan, menyerukan gencatan senjata segera, dan akses kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.
Pernyataan tersebut juga menyerukan semua pihak untuk mematuhi "perlindungan warga sipil". Kendati begitu, tak ada penyebutan soal serangan Hamas ke Israel.
Palestina emosional kala minta PBB vote hentikan perang
Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour emosional kala meminta Majelis Umum PBB mendesak Israel menghentikan manuver-manuvernya yang telah menewaskan lebih dari 7 ribu warga Palestina.
"Saya mengimbau kepada Anda semua untuk memilih menghentikan pembunuhan. Pilih bantuan kemanusiaan untuk mencapai mereka yang kelangsungan hidupnya bergantung pada itu. Pilih untuk menghentikan kegilaan ini," katanya seraya menahan tangis.
Dia juga menyampaikan ada beberapa negara yang menerapkan standar ganda atas konflik ini. Dia mempertanyakan negara-negara tersebut yang merasa marah atas terbunuhnya orang Israel namun tidak merasa apa-apa saat orang Palestina yang tewas.
"Bagaimana bisa perwakilan negara menjelaskan betapa mengerikannya seribu warga Israel terbunuh namun tidak merasakan yang sama saat seribu warga Palestina terbunuh setiap hari?" ucapnya.
"Mengapa tidak merasakan urgensi untuk menghentikan pembunuhan terhadap mereka?" lanjut dia.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan mengecam teks usulan Yordania. Menurutnya, resolusi itu mengabaikan serangan Hamas yang ia nilai menjadi pemicu sesungguhnya atas kondisi di Gaza saat ini.
"Para perumus resolusi mengaku prihatin terhadap perdamaian. Namun para pembunuh bejat yang memulai perang ini bahkan tidak disebutkan dalam resolusi tersebut," kata Gilad Erdan.
"Satu-satunya tempat yang pantas untuk resolusi ini adalah di tong sampah sejarah," timpalnya.
Palestina emosional kala minta PBB vote hentikan perang
Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour emosional kala meminta Majelis Umum PBB mendesak Israel menghentikan manuver-manuvernya yang telah menewaskan lebih dari 7 ribu warga Palestina.
"Saya mengimbau kepada Anda semua untuk memilih menghentikan pembunuhan. Pilih bantuan kemanusiaan untuk mencapai mereka yang kelangsungan hidupnya bergantung pada itu. Pilih untuk menghentikan kegilaan ini," katanya seraya menahan tangis.
Dia juga menyampaikan ada beberapa negara yang menerapkan standar ganda atas konflik ini. Dia mempertanyakan negara-negara tersebut yang merasa marah atas terbunuhnya orang Israel namun tidak merasa apa-apa saat orang Palestina yang tewas.
"Bagaimana bisa perwakilan negara menjelaskan betapa mengerikannya seribu warga Israel terbunuh namun tidak merasakan yang sama saat seribu warga Palestina terbunuh setiap hari?" ucapnya.
"Mengapa tidak merasakan urgensi untuk menghentikan pembunuhan terhadap mereka?" lanjut dia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Israel dan negara-negara Arab saling melemparkan tuduhan tajam saat Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hari pertama, Kamis (26/10), di New York.
Saling tuding dan lempar kritik itu terjadi saat Majelis Umum PBB membuka sidang khusus membahas perang Israel vs milisi Hamas Palestina, menyusul kegagalan Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan.
DK PBB gagal mengadopsi resolusi setelah berulang kali usulan teks itu ditolak maupun diveto. Sejauh ini sudah ada tiga usulan resolusi yang gagal, yakni dari Rusia, Brasil, hingga Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari itu, berikut beberapa poin debat panas antara Israel dan negara-negara Arab di Sidang Majelis Umum PBB.
Wakil Perdana Menteri Yordania Ayman Safadi menuding Israel menjadikan Jalur Gaza, Palestina, sebagai neraka abadi di bumi imbas serangan-serangan Tel Aviv di daerah kantong tersebut.
"Israel menjadikan Gaza sebagai neraka di bumi. Trauma ini akan menghantui hingga ke generasi berikutnya," kata Safadi.
Safadi mengatakan Israel mengabaikan warga tak berdosa Palestina yang hilang nyawa akibat perang. Seiring dengan ini, ia pun menyampaikan niatnya mengajukan resolusi.
Teks resolusi yang telah diedarkan itu sebagian besar berfokus pada situasi kemanusiaan, menyerukan gencatan senjata segera, dan akses kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.
Pernyataan tersebut juga menyerukan semua pihak untuk mematuhi "perlindungan warga sipil". Kendati begitu, tak ada penyebutan soal serangan Hamas ke Israel.
Palestina emosional kala minta PBB vote hentikan perang
Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour emosional kala meminta Majelis Umum PBB mendesak Israel menghentikan manuver-manuvernya yang telah menewaskan lebih dari 7 ribu warga Palestina.
"Saya mengimbau kepada Anda semua untuk memilih menghentikan pembunuhan. Pilih bantuan kemanusiaan untuk mencapai mereka yang kelangsungan hidupnya bergantung pada itu. Pilih untuk menghentikan kegilaan ini," katanya seraya menahan tangis.
Dia juga menyampaikan ada beberapa negara yang menerapkan standar ganda atas konflik ini. Dia mempertanyakan negara-negara tersebut yang merasa marah atas terbunuhnya orang Israel namun tidak merasa apa-apa saat orang Palestina yang tewas.
"Bagaimana bisa perwakilan negara menjelaskan betapa mengerikannya seribu warga Israel terbunuh namun tidak merasakan yang sama saat seribu warga Palestina terbunuh setiap hari?" ucapnya.
"Mengapa tidak merasakan urgensi untuk menghentikan pembunuhan terhadap mereka?" lanjut dia.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Israel Sebut Usulan Yordania Pantas di tong sampah
Jalur Gaza porak poranda digempur pasukan Israel. (AP/Hatem Moussa)
Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan mengecam teks usulan Yordania. Menurutnya, resolusi itu mengabaikan serangan Hamas yang ia nilai menjadi pemicu sesungguhnya atas kondisi di Gaza saat ini.
"Para perumus resolusi mengaku prihatin terhadap perdamaian. Namun para pembunuh bejat yang memulai perang ini bahkan tidak disebutkan dalam resolusi tersebut," kata Gilad Erdan.
"Satu-satunya tempat yang pantas untuk resolusi ini adalah di tong sampah sejarah," timpalnya.
Palestina emosional kala minta PBB vote hentikan perang
Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour emosional kala meminta Majelis Umum PBB mendesak Israel menghentikan manuver-manuvernya yang telah menewaskan lebih dari 7 ribu warga Palestina.
"Saya mengimbau kepada Anda semua untuk memilih menghentikan pembunuhan. Pilih bantuan kemanusiaan untuk mencapai mereka yang kelangsungan hidupnya bergantung pada itu. Pilih untuk menghentikan kegilaan ini," katanya seraya menahan tangis.
Dia juga menyampaikan ada beberapa negara yang menerapkan standar ganda atas konflik ini. Dia mempertanyakan negara-negara tersebut yang merasa marah atas terbunuhnya orang Israel namun tidak merasa apa-apa saat orang Palestina yang tewas.
"Bagaimana bisa perwakilan negara menjelaskan betapa mengerikannya seribu warga Israel terbunuh namun tidak merasakan yang sama saat seribu warga Palestina terbunuh setiap hari?" ucapnya.
"Mengapa tidak merasakan urgensi untuk menghentikan pembunuhan terhadap mereka?" lanjut dia.