Lalu, apa saja faktor yang menghambat upaya damai Israel-Palestina?
1. Israel tak patuh aturan
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Riau Fahmi Salsabila menilai upaya damai kerap mentok karena Israel tak mematuhi aturan.
"Buntu karena pihak Israel selalu tidak mematuhi aturan. Dan, tidak ada itikad baik dari negara Barat, terutama Amerika Serikat sebagai mediator yang murni, di tengah-tengah, tidak pro terhadap penjajah Israel," kata Fahmi kepada CNNIndonesia.com, Senin (7/11).
Fahmi menilai Israel juga selalu melanggar perjanjian dan enggan mematuhi resolusi PBB atau hukum internasional.
Aturan yang dilanggar misalnya serangan terhadap warga dan objek sipil, serangan ke bantuan kemanusiaan, mengusir penduduk, hingga pendudukan Israel di Tepi Barat.
2. Tak ada sosok negarawan
Founder Foreign Policy Community of Indonesia Dino Patti Djalal mengatakan salah satu faktor yang menghambat upaya damai kedua Israel dan Palestina karena tak ada sosok negarawan.
Sosok negarawan itu harus muncul dari Israel dan Palestina. Mereka adalah orang-orang yang berani mengambil risiko di tengah konflik yang terus terjadi.
Solusi dua negara nyaris tercapai usai Perdana Menteri Israel Ehud Barak bertemu Otoritas Palestina Yasser Arafat di Kamp David.
Ketika itu, Amerika Serikat berperan sebagai mediator. Namun, solusi ini gagal karena ditentang berbagai pihak di masing-masing wilayah.
Perundingan solusi dua negara terakhir berlangsung pada 2013.
Bersambung ke halaman berikutnya...
3. Penolakan dari kelompok radikal
Situasi politik di dalam negeri masing-masing juga menjadi hambatan.
Di pemerintahan Benjamin Netanyahu, kelompok sayap kanan mendominasi Israel. Mereka, kata Dino, tak tertarik dengan solusi dua negara.
Lalu di Palestina, muncul kelompok yang lebih ingin menghancurkan Israel ketimbang menerima solusi dua negara.
Selain itu, di internal Palestina juga tak satu suara. Hamas dan Fatah berselisih sejak pemilihan umum 2006 hingga sekarang.
Keduanya memang ingin memerdekakan Palestina tetapi menempuh jalan masing-masing. Hamas menggunakan cara militer untuk mencapai tujuan, sementara Fatah mengandalkan upaya diplomasi dan negosiasi.
"Yang satu moderat, yang satunya lagi keras. Sampai sekarang perseteruan internal ini tidak pernah diakhiri," ujar Dino, dalam video yang diunggah di Instagram.
Ia kemudian berkata, "Tanpa persatuan dan kerja sama soal antara faksi Palestina kemerdekaan Palestina mustahil tercapai."
Solusi dua negara memang disepakati masyarakat internasional, tetapi banyak negara yang tak berperan aktif lebih jauh membawa isu Palestina.
Dino menilai Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutters bahkan tak memainkan peran lebih banyak. AS dan Uni Eropa juga tak tertarik mendorong perundingan solusi dua negara.
Lalu, apa saja faktor yang menghambat upaya damai Israel-Palestina?
1. Israel tak patuh aturan
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Riau Fahmi Salsabila menilai upaya damai kerap mentok karena Israel tak mematuhi aturan.
"Buntu karena pihak Israel selalu tidak mematuhi aturan. Dan, tidak ada itikad baik dari negara Barat, terutama Amerika Serikat sebagai mediator yang murni, di tengah-tengah, tidak pro terhadap penjajah Israel," kata Fahmi kepada CNNIndonesia.com, Senin (7/11).
Fahmi menilai Israel juga selalu melanggar perjanjian dan enggan mematuhi resolusi PBB atau hukum internasional.
Aturan yang dilanggar misalnya serangan terhadap warga dan objek sipil, serangan ke bantuan kemanusiaan, mengusir penduduk, hingga pendudukan Israel di Tepi Barat.
2. Tak ada sosok negarawan
Founder Foreign Policy Community of Indonesia Dino Patti Djalal mengatakan salah satu faktor yang menghambat upaya damai kedua Israel dan Palestina karena tak ada sosok negarawan.
Sosok negarawan itu harus muncul dari Israel dan Palestina. Mereka adalah orang-orang yang berani mengambil risiko di tengah konflik yang terus terjadi.
Solusi dua negara nyaris tercapai usai Perdana Menteri Israel Ehud Barak bertemu Otoritas Palestina Yasser Arafat di Kamp David.
Ketika itu, Amerika Serikat berperan sebagai mediator. Namun, solusi ini gagal karena ditentang berbagai pihak di masing-masing wilayah.
Perundingan solusi dua negara terakhir berlangsung pada 2013.
Bersambung ke halaman berikutnya...
4 Batu Sandungan Konflik Israel-Palestina Berakhir
Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir saat memasuki Al Aqsa bersama para pendukungnya dari sayap kanan. (REUTERS/RONEN ZVULUN)
3. Penolakan dari kelompok radikal
Situasi politik di dalam negeri masing-masing juga menjadi hambatan.
Di pemerintahan Benjamin Netanyahu, kelompok sayap kanan mendominasi Israel. Mereka, kata Dino, tak tertarik dengan solusi dua negara.
Lalu di Palestina, muncul kelompok yang lebih ingin menghancurkan Israel ketimbang menerima solusi dua negara.
Selain itu, di internal Palestina juga tak satu suara. Hamas dan Fatah berselisih sejak pemilihan umum 2006 hingga sekarang.
Keduanya memang ingin memerdekakan Palestina tetapi menempuh jalan masing-masing. Hamas menggunakan cara militer untuk mencapai tujuan, sementara Fatah mengandalkan upaya diplomasi dan negosiasi.
"Yang satu moderat, yang satunya lagi keras. Sampai sekarang perseteruan internal ini tidak pernah diakhiri," ujar Dino, dalam video yang diunggah di Instagram.
Ia kemudian berkata, "Tanpa persatuan dan kerja sama soal antara faksi Palestina kemerdekaan Palestina mustahil tercapai."
Solusi dua negara memang disepakati masyarakat internasional, tetapi banyak negara yang tak berperan aktif lebih jauh membawa isu Palestina.
Dino menilai Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutters bahkan tak memainkan peran lebih banyak. AS dan Uni Eropa juga tak tertarik mendorong perundingan solusi dua negara.