Jurnalis Yahudi Ini Pernah Mualaf & Pro-Iran, Kini Malah Dukung Israel
CNN Indonesia
Rabu, 16 Jul 2025 11:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. (iStockphoto/narvikk)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang jurnalis keturunan Yahudi, Catherine Perez-Shakdam, menjadi sorotan media Iran setelah mengungkap identitas aslinya dan pandangan barunya yang kini mendukung Israel.
Sikapnya itu ia sampaikan usai bertahun-tahun dikenal sebagai figur pro-Iran yang aktif di media pemerintah Teheran.
Perez-Shakdam, warga negara Prancis yang sempat menjadi mualaf dan pengikut Islam Syiah, pernah mewawancarai Presiden Iran Ebrahim Raisi pada 2017 dan muncul secara rutin di berbagai saluran media pemerintah seperti Press TV.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menghadiri konferensi besar yang dibuka langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai salah satu suara asing yang sering membela narasi Iran terhadap isu-isu regional.
Ia menjadi kontributor tetap di berbagai media pemerintah dan sering tampil sebagai komentator pro-Iran di televisi pemerintah, termasuk dalam program-program yang mendukung kelompok seperti Hezbollah dan Hamas.
Sempat mualaf dan kini tinggalkan Islam
Salah satu artikelnya yang paling kontroversial di rilis di 2014 di media Iran dengan judul provokatif, "Zionists are planning to annihilate Islam (Zionis berencana untuk memusnahkan Islam)."
Dalam tulisan tersebut, ia menyebut warga Yahudi religius yang naik ke Temple Mount sebagai "anjing gila."
"Saya benar-benar masuk ke dalam lingkaran itu. Saya tampil di televisi sepanjang waktu. Saya rasa saya pernah menulis untuk hampir semua media mereka, dan saya juga bertemu banyak tokoh penting," ujarnya dalam wawancara dengan Times of Israel.
Namun, setelah bertahun-tahun menjadi juru bicara tidak resmi rezim Iran dan menulis puluhan artikel bernada anti-Israel, Perez-Shakdam kini justru membuka kembali identitasnya sebagai seorang Yahudi dan menyatakan telah meninggalkan Islam.
Dalam wawancara dengan Times of Israel, ia mengaku sempat termotivasi oleh "rasa benci terhadap diri sendiri" yang membuatnya menolak asal-usul Yahudinya. Namun, kini ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus menghindari siapa dirinya sebenarnya.
"Saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya bermain dalam tangan orang-orang yang ingin kami lenyapkan," katanya.
Pernyataan dan tulisan-tulisannya yang baru ini memicu badai kemarahan media-media di Iran dan Timur Tengah.
Tulisan blog miliknya yang terbit di Times of Israel pada November lalu, yang menceritakan pengalamannya mewawancarai Raisi, awalnya tidak banyak diperhatikan.
Tetapi mulai viral tiga bulan kemudian, memicu badai reaksi dari media berbahasa Persia dan Arab.
Media pemerintah Iran hapus jejak digitalnya
Media pemerintah Iran buru-buru menghapus sebagian besar jejak digitalnya, sementara tokoh-tokoh yang pernah tampil bersamanya terpaksa mengeluarkan klarifikasi.
Bahkan, tuduhan bahwa dirinya adalah mata-mata Mossad pun muncul.
Kantor Ayatollah Khamenei juga secara resmi menyatakan tidak memiliki hubungan apapun dengannya, sebagai bentuk penolakan terhadap keterlibatan masa lalunya.
"Ketika mereka tidak suka dengan apa yang Anda katakan, mereka akan menyerang karakter Anda. Tapi saya tidak menyangka akan sebesar ini," ujarnya.
"Yang paling mengganggu mereka adalah fakta bahwa mereka baru sadar saya Yahudi setelah saya sudah masuk ke lingkaran dalam mereka."
Kehidupan Perez-Shakdam
Lahir di Paris dari keluarga Yahudi yang melarikan diri dari Nazi, Perez-Shakdam mengaku dibesarkan dalam lingkungan sekuler dan tanpa identitas keagamaan yang kuat.
Perempuan keturunan Yahudi itu memeluk Islam setelah menikah dengan pria asal Yaman, dan akhirnya tertarik pada Syiah.
Ia bahkan pernah mengikuti Arba'een di Karbala dan menggambarkannya sebagai pengalaman spiritual yang mendalam.
Perez-Shakdam dikenal sangat mendalami aspek spiritual Syiah, termasuk pengagungan terhadap Imam Hussein.
Dalam salah satu videonya, ia menggambarkan kekaguman mendalam terhadap semangat para peziarah Arba'een yang menempuh perjalanan jauh sebagai bentuk cinta dan pengorbanan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Setelah bercerai pada 2014, ia mulai aktif di media Iran.
"Iran sangat haus dengan dukungan dari Barat sehingga mereka akan berbicara dengan siapa pun yang punya paspor Barat," ujarnya.
Saat menghadiri konferensi di Teheran pada 2017 yang dihadiri Khaled Mashal dan Qassem Soleimani, Perez-Shakdam mendengarkan langsung pidato Ayatollah Khamenei yang mengutuk Israel sebagai "tumor kanker."
Ia merasa saat itu pandangannya setara dengan semangat "perlawanan" yang dibawa Iran.
Dalam sebuah wawancara di Press TV pada 2018, ia bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak Palestina.
"Dalam kasus Palestina, saya rasa satu-satunya jalan adalah lewat perlawanan bersenjata," katanya saat itu.
Meski sempat mendukung kelompok seperti Hamas dan Hezbollah sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan, Perez-Shakdam mengaku selalu terganggu dengan sentimen antisemit yang ia temui di Iran, bahkan di kalangan terdidik.
"Orang-orang terpelajar di Iran mengatakan pada saya bahwa orang Yahudi punya tanduk dan ekor. Itu sangat menakutkan," katanya.
Perubahan sikapnya mulai terjadi ketika anak perempuannya yang kini berusia 17 tahun mulai mempertanyakan pandangan ibunya soal Israel, setelah dilihat secara terbuka dari konten pro-Israel di YouTube.
Pertanyaan-pertanyaan dari sang anak mendorongnya untuk mempertimbangkan ulang semua keyakinannya.
"Saya merasa bersalah dan malu dengan latar belakang saya. Tapi setelah banyak membaca, saya sadar bahwa saya benar-benar salah," katanya.
Kini, anak perempuannya bahkan menyatakan keinginan untuk bergabung dengan militer Israel.
Perez-Shakdam menegaskan bahwa niatnya bukan untuk mencemarkan siapa pun, melainkan untuk memberikan perspektif dari seseorang yang pernah berada "di sisi lain."
"Saya tidak ingin jadi gadis poster untuk Israel. Tapi penting untuk mematahkan narasi kebencian," ujarnya.
Menurutnya, ini adalah bagian dari proses mea culpa, sebuah bentuk pertanggungjawaban moral atas apa yang ia dukung dan sampaikan di masa lalu.
"Saya merasa penting untuk mengakui kesalahan saya, untuk menunjukkan bahwa saya pernah salah. Tapi juga untuk menyampaikan bahwa saya punya perspektif yang lebih utuh sekarang."
Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang jurnalis keturunan Yahudi, Catherine Perez-Shakdam, menjadi sorotan media Iran setelah mengungkap identitas aslinya dan pandangan barunya yang kini mendukung Israel.
Sikapnya itu ia sampaikan usai bertahun-tahun dikenal sebagai figur pro-Iran yang aktif di media pemerintah Teheran.
Perez-Shakdam, warga negara Prancis yang sempat menjadi mualaf dan pengikut Islam Syiah, pernah mewawancarai Presiden Iran Ebrahim Raisi pada 2017 dan muncul secara rutin di berbagai saluran media pemerintah seperti Press TV.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menghadiri konferensi besar yang dibuka langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai salah satu suara asing yang sering membela narasi Iran terhadap isu-isu regional.
Ia menjadi kontributor tetap di berbagai media pemerintah dan sering tampil sebagai komentator pro-Iran di televisi pemerintah, termasuk dalam program-program yang mendukung kelompok seperti Hezbollah dan Hamas.
Sempat mualaf dan kini tinggalkan Islam
Salah satu artikelnya yang paling kontroversial di rilis di 2014 di media Iran dengan judul provokatif, "Zionists are planning to annihilate Islam (Zionis berencana untuk memusnahkan Islam)."
Dalam tulisan tersebut, ia menyebut warga Yahudi religius yang naik ke Temple Mount sebagai "anjing gila."
"Saya benar-benar masuk ke dalam lingkaran itu. Saya tampil di televisi sepanjang waktu. Saya rasa saya pernah menulis untuk hampir semua media mereka, dan saya juga bertemu banyak tokoh penting," ujarnya dalam wawancara dengan Times of Israel.
Namun, setelah bertahun-tahun menjadi juru bicara tidak resmi rezim Iran dan menulis puluhan artikel bernada anti-Israel, Perez-Shakdam kini justru membuka kembali identitasnya sebagai seorang Yahudi dan menyatakan telah meninggalkan Islam.
Dalam wawancara dengan Times of Israel, ia mengaku sempat termotivasi oleh "rasa benci terhadap diri sendiri" yang membuatnya menolak asal-usul Yahudinya. Namun, kini ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus menghindari siapa dirinya sebenarnya.
"Saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya bermain dalam tangan orang-orang yang ingin kami lenyapkan," katanya.
Pernyataan dan tulisan-tulisannya yang baru ini memicu badai kemarahan media-media di Iran dan Timur Tengah.
Tulisan blog miliknya yang terbit di Times of Israel pada November lalu, yang menceritakan pengalamannya mewawancarai Raisi, awalnya tidak banyak diperhatikan.
Tetapi mulai viral tiga bulan kemudian, memicu badai reaksi dari media berbahasa Persia dan Arab.
Media pemerintah Iran hapus jejak digitalnya
Media pemerintah Iran buru-buru menghapus sebagian besar jejak digitalnya, sementara tokoh-tokoh yang pernah tampil bersamanya terpaksa mengeluarkan klarifikasi.
Bahkan, tuduhan bahwa dirinya adalah mata-mata Mossad pun muncul.
Kantor Ayatollah Khamenei juga secara resmi menyatakan tidak memiliki hubungan apapun dengannya, sebagai bentuk penolakan terhadap keterlibatan masa lalunya.
"Ketika mereka tidak suka dengan apa yang Anda katakan, mereka akan menyerang karakter Anda. Tapi saya tidak menyangka akan sebesar ini," ujarnya.
"Yang paling mengganggu mereka adalah fakta bahwa mereka baru sadar saya Yahudi setelah saya sudah masuk ke lingkaran dalam mereka."
Kehidupan Perez-Shakdam
Lahir di Paris dari keluarga Yahudi yang melarikan diri dari Nazi, Perez-Shakdam mengaku dibesarkan dalam lingkungan sekuler dan tanpa identitas keagamaan yang kuat.
Perempuan keturunan Yahudi itu memeluk Islam setelah menikah dengan pria asal Yaman, dan akhirnya tertarik pada Syiah.
Ia bahkan pernah mengikuti Arba'een di Karbala dan menggambarkannya sebagai pengalaman spiritual yang mendalam.
Perez-Shakdam dikenal sangat mendalami aspek spiritual Syiah, termasuk pengagungan terhadap Imam Hussein.
Dalam salah satu videonya, ia menggambarkan kekaguman mendalam terhadap semangat para peziarah Arba'een yang menempuh perjalanan jauh sebagai bentuk cinta dan pengorbanan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Pernah Aktif di Media Iran ejak 2014
Mendiang mantan Presiden Iran Ebrahim Raisi pernah mewawancarai Catherine Perez-Shakdam. (via REUTERS/Iran's Presidency/WANA)
Setelah bercerai pada 2014, ia mulai aktif di media Iran.
"Iran sangat haus dengan dukungan dari Barat sehingga mereka akan berbicara dengan siapa pun yang punya paspor Barat," ujarnya.
Saat menghadiri konferensi di Teheran pada 2017 yang dihadiri Khaled Mashal dan Qassem Soleimani, Perez-Shakdam mendengarkan langsung pidato Ayatollah Khamenei yang mengutuk Israel sebagai "tumor kanker."
Ia merasa saat itu pandangannya setara dengan semangat "perlawanan" yang dibawa Iran.
Dalam sebuah wawancara di Press TV pada 2018, ia bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak Palestina.
"Dalam kasus Palestina, saya rasa satu-satunya jalan adalah lewat perlawanan bersenjata," katanya saat itu.
Meski sempat mendukung kelompok seperti Hamas dan Hezbollah sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan, Perez-Shakdam mengaku selalu terganggu dengan sentimen antisemit yang ia temui di Iran, bahkan di kalangan terdidik.
"Orang-orang terpelajar di Iran mengatakan pada saya bahwa orang Yahudi punya tanduk dan ekor. Itu sangat menakutkan," katanya.
Perubahan sikapnya mulai terjadi ketika anak perempuannya yang kini berusia 17 tahun mulai mempertanyakan pandangan ibunya soal Israel, setelah dilihat secara terbuka dari konten pro-Israel di YouTube.
Pertanyaan-pertanyaan dari sang anak mendorongnya untuk mempertimbangkan ulang semua keyakinannya.
"Saya merasa bersalah dan malu dengan latar belakang saya. Tapi setelah banyak membaca, saya sadar bahwa saya benar-benar salah," katanya.
Kini, anak perempuannya bahkan menyatakan keinginan untuk bergabung dengan militer Israel.
Perez-Shakdam menegaskan bahwa niatnya bukan untuk mencemarkan siapa pun, melainkan untuk memberikan perspektif dari seseorang yang pernah berada "di sisi lain."
"Saya tidak ingin jadi gadis poster untuk Israel. Tapi penting untuk mematahkan narasi kebencian," ujarnya.
Menurutnya, ini adalah bagian dari proses mea culpa, sebuah bentuk pertanggungjawaban moral atas apa yang ia dukung dan sampaikan di masa lalu.
"Saya merasa penting untuk mengakui kesalahan saya, untuk menunjukkan bahwa saya pernah salah. Tapi juga untuk menyampaikan bahwa saya punya perspektif yang lebih utuh sekarang."