Jakarta, CNN Indonesia -- Suku Arab Badui di Suriah tengah menjadi sorotan setelah berperang dengan Suku Arab Druze yang dibekingi Israel.
Arab Badui merupakan salah satu suku terbesar yang tersebar di sejumlah negara di wilayah Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sejumlah riwayat Islam, suku Badui rupanya punya tempat spesial karena pernah turut merawat dan membesarkan Nabi Muhammad SAW.
Berdasarkan tradisi masyarakat Arab, terutama keluarga-keluarga terpandang seperti masyarakat Quraisy di lembah Makkah, adalah hal yang lazim mengirim bayi mereka ke tengah gurun untuk diasuh oleh perempuan dari suku-suku Badui.
Hal ini tidak hanya dilakukan demi mendapatkan udara segar dan menyehatkan tubuh sang anak, tetapi juga untuk menyerap bahasa Arab yang murni serta kemuliaan hidup nomaden yang masih melekat kuat di kalangan Badui.
Nabi Muhammad SAW, yang berasal dari keluarga terhormat Quraisy namun lahir dalam kondisi yatim, juga mengalami tradisi ini, dikutip dari buku Muhammad karya Martin Lings.
Sang ibu, Aminah, memutuskan untuk menyerahkan putranya kepada perempuan dari suku Bani Sa'd ibn Bakr, salah satu cabang dari suku Hawazin yang memiliki reputasi tinggi dalam merawat anak-anak.
Dari sini kisah unik tentang masa kecil Nabi Muhammad di tengah masyarakat Badui dimulai.
Halimah dari Bani Sa'd
Halimah binti Abu Dzu'ayb, seorang perempuan dari Bani Sa'd, datang ke Makkah bersama suaminya, Harits, untuk mencari bayi yang bisa mereka susui dan asuh.
Namun karena kondisi ekonomi mereka yang sangat miskin dan Nabi Muhammad adalah anak yatim dan dianggap tidak menjanjikan imbalan materi, Halimah adalah orang terakhir yang memilih beliau.
Bahkan, ia memilih Nabi Muhammad karena tidak ada bayi-bayi lain dari orang Quraisy yang tersisa untuk dititipkan ke kabilah di sana. Namun, keputusan itu menjadi titik balik hidup mereka.
Begitu Halimah membawa bayi Muhammad, berkah demi berkah mulai menghampiri keluarganya.
Susu di payudaranya yang sebelumnya kering tiba-tiba berlimpah, membuat Muhammad dan anak kandung Halimah kenyang dan tidur nyenyak.
Diriwayatkan pula, unta betina tua mereka pun tiba-tiba menghasilkan susu.
Bahkan keledai Halimah yang semula lemah, tiba-tiba menjadi bertenaga dan mampu berjalan cepat melebihi keledai-keledai milik perempuan-perempuan lain.
Setelah sampai di kampung halaman, ternak mereka juga mengalami keajaiban.
Setiap malam, kambing-kambing mereka pulang dengan perut kenyang dan penuh susu, padahal ternak tetangga tetap kelaparan.
Keajaiban ini terus berlangsung selama Nabi Muhammad tinggal bersama mereka.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Masa Pertumbuhan dan Peristiwa Ajaib
Situasi chaos di Suriah saat perang Arab Badui vs Druze. (AFP/-)
Selama diasuh oleh Halimah, Nabi Muhammad tumbuh dengan sehat dan cepat.
Ketika usianya mencapai dua tahun, Halimah dan suaminya mengembalikannya kepada Aminah.
Namun karena khawatir terhadap penyakit di Makkah, mereka meminta izin untuk membawa Muhammad kembali, dan Aminah pun mengizinkan.
Di tengah masa kedua tinggalnya dengan Halimah, terjadi sebuah peristiwa mengejutkan.
Anak kandung Halimah datang berlari dan mengatakan bahwa dua pria berpakaian putih telah membuka dada Muhammad dan mengotak-atik isinya.
Ketika Halimah dan Harits menemui Muhammad, ia memang terlihat pucat tetapi tidak terluka sedikit pun.
Peristiwa ini kemudian dijelaskan oleh Nabi Muhammad bahwa malaikat telah membersihkan hatinya dari sesuatu yang gelap dengan air salju dari wadah emas.
Akhir masa asuhan
Karena ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa Muhammad, Halimah akhirnya memutuskan untuk mengembalikannya secara permanen kepada Aminah di Makkah.
Meski semula enggan, Aminah menerima putranya kembali dan menanggapi pengalaman luar biasa itu dengan keyakinan bahwa "hal besar" akan terjadi dalam hidup Muhammad.
Warisan suku Badui dalam diri Nabi
Pengasuhan Nabi Muhammad oleh suku Badui memberi pengaruh besar pada kepribadiannya.
Di sana beliau menghirup udara gurun yang membentuk fisik yang tangguh, menyerap bahasa Arab murni yang kemudian menjadi senjatanya dalam menyampaikan wahyu, dan tumbuh dalam suasana kebebasan yang memperkuat jiwa dan kepemimpinannya.
Dengan demikian, suku Badui bukan hanya menjadi bagian dari kisah masa kecil Rasulullah, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk karakter dasar seorang Nabi yang kemudian akan membawa perubahan besar bagi dunia.