Teror Kriminal di Ekuador, Negara Paling Tak Aman di Amerika Latin
CNN Indonesia
Senin, 13 Okt 2025 06:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jaksa anti-narkoba Ekoador Cesar Suarez saat tewas ditembak geng kartel narkoba. (AFP/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --
Iring-iringan mobil Presiden Ekuador Daniel Noboa yang sedang membawa bantuan menuju Provinsi Cañar, tiba-tiba dikepung oleh sekitar 500 massa pada Selasa (7/10).
Mereka bukan hanya mengepung tapi juga melemparkan batu. Dilansir Reuters, Menteri Lingkungan Hidup dan Energi Ines Manzano mengungkapkan ada "tanda-tanda kerusakan akibat peluru" di kendaraan presiden.
Atas kejadian itu, Manzano secara resmi mengajukan laporan upaya pembunuhan terhadap Noboa. Ia juga memastikan Noboa tidak terluka dan lima orang telah ditahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini bukan serangan yang pertama terhadap orang nomor satu di Ekuador. Pada akhir September lalu juga terjadi, di tengah demo besar-besaran yang menuntut kesejahteraan hidup mereka, antara lain memprotes harga bahan bakar minyak (BBM).
Kisah penyerangan terhadap sang presiden, menyimpan sisi kelam di negara di ujung barat Amerika Latin itu. Dalam tiga tahun terakhir, Ekuador disebut sebagai negara paling tidak aman di Amerika Latin. Pemicunya adalah geng kriminal yang makin merajalela, terorganisir dan melakukan kejahatan tanpa ampun.
Salah satu keberanian para geng kriminal ini adalah mereka merangsek dan menyandera ke dalam stasiun televisi TC di kota Guayaquil, kota terbesar dan pusat ekonomi negara itu, pada 2024 silam. Mereka menyandera semua orang di studio televisi itu selama 15 menit.
Para anggota geng tersebut bersenjatakan berbagai jenis senjata api dan granat. Drama penyanderaan itu terekam dalam siaran langsung. Seantero Ekuador terguncang. Insiden ini menjadi berita di berbagai media di seluruh dunia.
Presiden Noboa yang kala itu belum lama dilantik, harus mengakui kondisi negaranya yang jatuh kungkungan para penjahat.
"Ekuador tenggelam dalam "konflik bersenjata internal", kata Presiden Daniel Noboa, kala itu.
Bukan saja penyanderaan awak stasiun televisi tapi juga penyerbuan penjara, menahan sipir, dan menculik anggota kepolisian juga penjarahan besar-besaran di ibu kota, Quito. Berbagai peristiwa kriminal itu terjadi hanya beberapa hari setelah presiden mengumumkan keadaan darurat.
Masih di tahun 2024, tepatnya pada Desember, negeri itu juga diguncang perkara kriminal yang mengerikan. Empat bocah laki-laki Ekuador pergi bermain sepak bola, tetapi tidak pernah kembali.
Beberapa pekan kemudian mayat ditemukan telah dimutilasi. Kasus empat anak itu kemudian dikenal dengan sebutan "Los Cuatro de Guayaquil" atau "Guayaquil Four". Guayaquil adalah kota terbesar di sana yang kini jadi pusat perdagangan narkoba.
Mereka empat anak Ekuador yang ditahan anggota tentara dan kemudian hilang. Mengutip BBC, Ayah dari para remaja itu mengatakan bahwa seorang pria yang tidak pernah menyebutkan identitasnya menghubungi istrinya dan memberi tahu bahwa anak-anaknya telah ditahan oleh militer.
Kasus "Guayaquil Four"-yang muncul hanya beberapa pekan sebelum pemilihan presiden pada 9 Februari lalu, telah memicu perdebatan mengenai kebijakan kekerasan ala Noboa, yang mencakup penerapan keadaan darurat dan penangguhan hak-hak sipil tertentu.
Hal ini juga memicu protes di negara tersebut yang, walaupun terbatas, telah menarik perhatian organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang komisi HAM-nya telah mendesak Ekuador untuk menyelidiki kasus tersebut.
Survei Gallup pada tahun 2022 menempatkan Ekuador sebagai negara peringkat pertama negara paling tidak aman di Amerika Latin. Hal itu dipicu oleh meningkatnya kekerasan geng, perdagangan narkoba, dan kerusuhan sipil pada tahun 2022.
Hampir dua dari tiga (64%) warga Ekuador yang diwawancarai tahun lalu mengatakan mereka tidak merasa aman berjalan sendirian di malam hari di tempat tinggal mereka.
Situasi ini merupakan perubahan yang cepat dan dramatis bagi negara di Andes ini. Hanya lima tahun yang lalu, Ekuador berada di peringkat negara teraman di kawasan ini, dengan mayoritas penduduknya (52%) merasa aman berjalan sendirian di malam hari.
Dikutip dari situs Gallup, status Ekuador sebagai negara paling tidak aman di Amerika Latin pada tahun 2022 bukanlah prestasi yang mudah di kawasan yang negara-negaranya secara rutin menempati peringkat paling tidak aman di dunia.
Venezuela telah menduduki peringkat paling tidak aman di kawasan ini-dan seringkali di dunia-di sebagian besar tahun penyelenggaraan Jajak Pendapat Dunia. Namun, situasi keamanan di Venezuela membaik pada tahun 2022, dengan 53% merasa tidak aman berjalan sendirian di malam hari, turun dari 67% pada tahun sebelumnya.
Situs perjalanan pun memberikan peringatan bagi wisatawan yang ingin melancong ke negara yang punya hutan hujan luas ini.
"Bersikaplah sangat hati-hati di Ekuador karena tingginya tingkat kejahatan, pengumuman ini ditulis pada 6 Oktober 2025," demikian peringatan dari situs travel.gc.ca.
Pada tahun 2023, polisi mencatat sekitar 8.000 kematian akibat kekerasan. Angka ini delapan kali lebih banyak dibandingkan tahun 2018 dan menempatkan Ekuador di atas negara-negara seperti Meksiko dan Kolombia. Dari kasus ribuan itu hanya ratusan saja yang berhasil diungkap.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Selama beberapa tahun terakhir, Ekuador telah menjadi pusat baru dalam perdagangan narkoba global. Terletak di antara dua produsen kokain terbesar dunia, Kolombia dan Peru, Ekuador secara historis cukup berhasil membatasi paparannya terhadap dampak terburuk perdagangan narkoba regional.
Namun, meningkatnya produksi kokain di Kolombia, pemotongan anggaran penjara Ekuador, dan penghapusan Kementerian Kehakiman, di antara faktor-faktor lainnya, menyebabkan negara tersebut kini kurang mampu mengendalikan dampak perdagangan narkoba internasional.
Tingkat kejahatan telah melonjak akhir-akhir ini, begitu pula populasi penjara. Ratusan narapidana telah dibunuh, setidaknya belasan polisi tewas akibat meningkatnya kekerasan geng, dan beberapa warga Ekuador telah menyaksikan mayat-mayat tanpa kepala tergantung di jembatan.
Akibatnya, Presiden Guillermo Lasso telah memberlakukan sejumlah keadaan darurat untuk membendung kekerasan, termasuk pada akhir Juni 2022, tepat sebelum kerja lapangan World Poll dimulai.
Yang mengkhawatirkan bagi pemerintah, krisis ini tidak hanya terbatas pada rasa tidak aman. Krisis ini juga terkait dengan memudarnya kepercayaan terhadap kemampuan negara untuk menegakkan ketertiban umum.
Kepercayaan masyarakat Ekuador terhadap kepolisian setempat dan sistem peradilan berada pada titik terendah yang pernah dialami negara ini dalam lebih dari satu dekade. Sekitar dua dari lima (41%) masyarakat Ekuador pada tahun 2022 menyatakan kepercayaan terhadap kepolisian setempat, dan bahkan lebih sedikit lagi yang merasa percaya terhadap sistem peradilan (24%).
Padahal, antara tahun 2011 dan 2021, mayoritas warga Ekuador memiliki kepercayaan terhadap polisi, rata-rata 60% selama periode tersebut.
Presiden Daniel Noboa, mengumumkan keadaan darurat. Sejak itu, polisi telah menangkap lebih dari 16.000 orang. Namun kondisi belum juga membaik. Ia ingin memperkenalkan langkah-langkah lebih lanjut seperti kontrol senjata yang lebih ketat dan hukuman penjara yang lebih berat. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan banyak warga Ekuador telah berubah karena meningkatnya kekerasan geng.
Gabriela Almeida, seorang dokter, mengatakan dia melihat "semakin banyak pasien yang mengalami kecemasan, dan orang-orang yang menderita serangan panik."
Almeida sendiri menghindari keluar malam.
"Ada penculikan di dekat sini, empat blok dari sini. Ketika saya remaja, saya ingat melihat apa yang terjadi di Kolombia," katanya tentang kekerasan terkait narkoba di negara tetangga.
"Kami tidak pernah menyangka hal seperti itu bisa terjadi di negara kami," katanya, seraya menambahkan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk beremigrasi ke Spanyol karena di Ekuador "kami sedang mengalami mimpi buruk."
Jakarta, CNN Indonesia --
Iring-iringan mobil Presiden Ekuador Daniel Noboa yang sedang membawa bantuan menuju Provinsi Cañar, tiba-tiba dikepung oleh sekitar 500 massa pada Selasa (7/10).
Mereka bukan hanya mengepung tapi juga melemparkan batu. Dilansir Reuters, Menteri Lingkungan Hidup dan Energi Ines Manzano mengungkapkan ada "tanda-tanda kerusakan akibat peluru" di kendaraan presiden.
Atas kejadian itu, Manzano secara resmi mengajukan laporan upaya pembunuhan terhadap Noboa. Ia juga memastikan Noboa tidak terluka dan lima orang telah ditahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini bukan serangan yang pertama terhadap orang nomor satu di Ekuador. Pada akhir September lalu juga terjadi, di tengah demo besar-besaran yang menuntut kesejahteraan hidup mereka, antara lain memprotes harga bahan bakar minyak (BBM).
Kisah penyerangan terhadap sang presiden, menyimpan sisi kelam di negara di ujung barat Amerika Latin itu. Dalam tiga tahun terakhir, Ekuador disebut sebagai negara paling tidak aman di Amerika Latin. Pemicunya adalah geng kriminal yang makin merajalela, terorganisir dan melakukan kejahatan tanpa ampun.
Salah satu keberanian para geng kriminal ini adalah mereka merangsek dan menyandera ke dalam stasiun televisi TC di kota Guayaquil, kota terbesar dan pusat ekonomi negara itu, pada 2024 silam. Mereka menyandera semua orang di studio televisi itu selama 15 menit.
Para anggota geng tersebut bersenjatakan berbagai jenis senjata api dan granat. Drama penyanderaan itu terekam dalam siaran langsung. Seantero Ekuador terguncang. Insiden ini menjadi berita di berbagai media di seluruh dunia.
Presiden Noboa yang kala itu belum lama dilantik, harus mengakui kondisi negaranya yang jatuh kungkungan para penjahat.
"Ekuador tenggelam dalam "konflik bersenjata internal", kata Presiden Daniel Noboa, kala itu.
Bukan saja penyanderaan awak stasiun televisi tapi juga penyerbuan penjara, menahan sipir, dan menculik anggota kepolisian juga penjarahan besar-besaran di ibu kota, Quito. Berbagai peristiwa kriminal itu terjadi hanya beberapa hari setelah presiden mengumumkan keadaan darurat.
Masih di tahun 2024, tepatnya pada Desember, negeri itu juga diguncang perkara kriminal yang mengerikan. Empat bocah laki-laki Ekuador pergi bermain sepak bola, tetapi tidak pernah kembali.
Beberapa pekan kemudian mayat ditemukan telah dimutilasi. Kasus empat anak itu kemudian dikenal dengan sebutan "Los Cuatro de Guayaquil" atau "Guayaquil Four". Guayaquil adalah kota terbesar di sana yang kini jadi pusat perdagangan narkoba.
Mereka empat anak Ekuador yang ditahan anggota tentara dan kemudian hilang. Mengutip BBC, Ayah dari para remaja itu mengatakan bahwa seorang pria yang tidak pernah menyebutkan identitasnya menghubungi istrinya dan memberi tahu bahwa anak-anaknya telah ditahan oleh militer.
Kasus "Guayaquil Four"-yang muncul hanya beberapa pekan sebelum pemilihan presiden pada 9 Februari lalu, telah memicu perdebatan mengenai kebijakan kekerasan ala Noboa, yang mencakup penerapan keadaan darurat dan penangguhan hak-hak sipil tertentu.
Hal ini juga memicu protes di negara tersebut yang, walaupun terbatas, telah menarik perhatian organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang komisi HAM-nya telah mendesak Ekuador untuk menyelidiki kasus tersebut.
Survei Gallup pada tahun 2022 menempatkan Ekuador sebagai negara peringkat pertama negara paling tidak aman di Amerika Latin. Hal itu dipicu oleh meningkatnya kekerasan geng, perdagangan narkoba, dan kerusuhan sipil pada tahun 2022.
Hampir dua dari tiga (64%) warga Ekuador yang diwawancarai tahun lalu mengatakan mereka tidak merasa aman berjalan sendirian di malam hari di tempat tinggal mereka.
Situasi ini merupakan perubahan yang cepat dan dramatis bagi negara di Andes ini. Hanya lima tahun yang lalu, Ekuador berada di peringkat negara teraman di kawasan ini, dengan mayoritas penduduknya (52%) merasa aman berjalan sendirian di malam hari.
Dikutip dari situs Gallup, status Ekuador sebagai negara paling tidak aman di Amerika Latin pada tahun 2022 bukanlah prestasi yang mudah di kawasan yang negara-negaranya secara rutin menempati peringkat paling tidak aman di dunia.
Venezuela telah menduduki peringkat paling tidak aman di kawasan ini-dan seringkali di dunia-di sebagian besar tahun penyelenggaraan Jajak Pendapat Dunia. Namun, situasi keamanan di Venezuela membaik pada tahun 2022, dengan 53% merasa tidak aman berjalan sendirian di malam hari, turun dari 67% pada tahun sebelumnya.
Situs perjalanan pun memberikan peringatan bagi wisatawan yang ingin melancong ke negara yang punya hutan hujan luas ini.
"Bersikaplah sangat hati-hati di Ekuador karena tingginya tingkat kejahatan, pengumuman ini ditulis pada 6 Oktober 2025," demikian peringatan dari situs travel.gc.ca.
Pada tahun 2023, polisi mencatat sekitar 8.000 kematian akibat kekerasan. Angka ini delapan kali lebih banyak dibandingkan tahun 2018 dan menempatkan Ekuador di atas negara-negara seperti Meksiko dan Kolombia. Dari kasus ribuan itu hanya ratusan saja yang berhasil diungkap.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Pusat Baru Berdagangan Narkoba
Mobil Presiden Ekuador Daniel Noboa saat diserang massa di Ekuador. (AFP/HANDOUT)
Selama beberapa tahun terakhir, Ekuador telah menjadi pusat baru dalam perdagangan narkoba global. Terletak di antara dua produsen kokain terbesar dunia, Kolombia dan Peru, Ekuador secara historis cukup berhasil membatasi paparannya terhadap dampak terburuk perdagangan narkoba regional.
Namun, meningkatnya produksi kokain di Kolombia, pemotongan anggaran penjara Ekuador, dan penghapusan Kementerian Kehakiman, di antara faktor-faktor lainnya, menyebabkan negara tersebut kini kurang mampu mengendalikan dampak perdagangan narkoba internasional.
Tingkat kejahatan telah melonjak akhir-akhir ini, begitu pula populasi penjara. Ratusan narapidana telah dibunuh, setidaknya belasan polisi tewas akibat meningkatnya kekerasan geng, dan beberapa warga Ekuador telah menyaksikan mayat-mayat tanpa kepala tergantung di jembatan.
Akibatnya, Presiden Guillermo Lasso telah memberlakukan sejumlah keadaan darurat untuk membendung kekerasan, termasuk pada akhir Juni 2022, tepat sebelum kerja lapangan World Poll dimulai.
Yang mengkhawatirkan bagi pemerintah, krisis ini tidak hanya terbatas pada rasa tidak aman. Krisis ini juga terkait dengan memudarnya kepercayaan terhadap kemampuan negara untuk menegakkan ketertiban umum.
Kepercayaan masyarakat Ekuador terhadap kepolisian setempat dan sistem peradilan berada pada titik terendah yang pernah dialami negara ini dalam lebih dari satu dekade. Sekitar dua dari lima (41%) masyarakat Ekuador pada tahun 2022 menyatakan kepercayaan terhadap kepolisian setempat, dan bahkan lebih sedikit lagi yang merasa percaya terhadap sistem peradilan (24%).
Padahal, antara tahun 2011 dan 2021, mayoritas warga Ekuador memiliki kepercayaan terhadap polisi, rata-rata 60% selama periode tersebut.
Presiden Daniel Noboa, mengumumkan keadaan darurat. Sejak itu, polisi telah menangkap lebih dari 16.000 orang. Namun kondisi belum juga membaik. Ia ingin memperkenalkan langkah-langkah lebih lanjut seperti kontrol senjata yang lebih ketat dan hukuman penjara yang lebih berat. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan banyak warga Ekuador telah berubah karena meningkatnya kekerasan geng.
Gabriela Almeida, seorang dokter, mengatakan dia melihat "semakin banyak pasien yang mengalami kecemasan, dan orang-orang yang menderita serangan panik."
Almeida sendiri menghindari keluar malam.
"Ada penculikan di dekat sini, empat blok dari sini. Ketika saya remaja, saya ingat melihat apa yang terjadi di Kolombia," katanya tentang kekerasan terkait narkoba di negara tetangga.
"Kami tidak pernah menyangka hal seperti itu bisa terjadi di negara kami," katanya, seraya menambahkan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk beremigrasi ke Spanyol karena di Ekuador "kami sedang mengalami mimpi buruk."