Reza Pahlavi Desak Militer Iran Membelot Lawan Khamenei
Putra sulung dari raja (shah) terakhir Iran, Reza Pahlavi, menyerukan militer Iran untuk membelot dari rezim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan melindungi warga negara di tengah gelombang protes berdarah yang masih berlangsung.
Putra Mahkota yang kini hidup di pengasingan usai sang ayah, Shah Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan saat Revolusi Islam 1979 itu bahkan meminta militer Iran ikut berdemonstrasi yang terus meluas di seluruh negeri.
Lihat Juga : |
"Kalian adalah militer nasional Iran, bukan militer Republik Islam. Kalian memiliki kewajiban untuk melindungi nyawa sesama warga negara. Waktu kalian tidak banyak. Bergabunglah dengan mereka secepat mungkin," tulis Pahlavi melalui akun X pada Selasa (13/1).
Pahlavi dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu wajah paling dikenal dari oposisi Iran.
Pahlavi sudah tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Iran sejak ayahnya tumbang. Namun, ia tetap vokal menentang rezim Republik Islam Iran dari luar negeri.
Ia juga mendesak rakyat Iran untuk terus memprotes rezim yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi lebih dari 46 tahun lalu itu.
"Dunia tidak hanya melihat dan mendengar suara serta keberanian kalian, tetapi kini juga mulai merespons," ujarnya seperti dikutip CNN.
Pahlavi turut menyoroti pesan dukungan terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada para demonstran Iran, seraya mengulangi pernyataan Trump yang menenangkan rakyat Iran bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan."
Data yang dikeluarkan HRNA menyebut sebanyak 2.403 orang meninggal dunia dalam demonstrasi di Iran, Selasa (13/1)
HRNA merupakan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat. Mereka juga melaporkan jumlah korban tewas itu meliputi anak di bawah 18 tahun.
Jumlah ini menandai peningkatan signifikan korban jiwa dalam demo panas di Iran. Sebelumnya, HRANA melaporkan 1.850 meninggal dunia dalam unjuk rasa tersebut. CNN sejauh ini belum bisa memverifikasi secara independen laporan HRANA.
CNN Indonesia sejauh belum bisa mendapat data pembanding soal jumlah korban tewas akibat demonstrasi dari media-media resmi di Iran seperti IRNA, Mehr News, hingga Fars, karena internet masih mati total sehingga lamannya tidak bisa dibuka.
Demo di Iran yang berlangsung sejak 28 Desember lalu ini mulanya dipicu krisis ekonomi. Namun, demo meluas dan berubah menjadi desakan perubahan rezim Ayatollah Ali Khamenei.
Pemerintah Iran sampai memblokir internet dan komunikasi selama kurang lebih sepekan terakhir demi membungkam dan meredam demonstrasi.
Putra sulung dari shah terakhir Iran yang hidup di pengasingan dan digulingkan dalam Revolusi Islam 1979,
(rds)