Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengerahkan mobilisasi militernya secara besar-besaran setelah sejumlah serangan yang dituding dilakukan Amerika Serikat (AS) ke sejumlah fasilitas di ibu kota negara itu, Caracas, pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat. Bukan cuma militer, rakyat pun diserukan untuk membela negara mempertahankan kedaulatan.
Mengutip dari AFP, CNN, dan sejumlah media massa ternama di AS menyatakan militer Negeri Paman Sam itu berada di balik serangkaian serangan berujung ledakan di Caracas akhir pekan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, hingga berita ini ditulis sekitar pukul 15.21 WIB, baik kantor presiden AS alias Gedung Putih--, maupun Kemenhan AS atau Pentagon belum memberikan pernyataan resmi. Mengutip dari AFP, media massa di AS seperti CBS News dan Fox News, melaporkan bahwa pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang tak mau disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa militer negaranya terlibat dalam serangan di Caracas.
Sementara itu, Maduro telah menetapkan keadaan darurat usai ibu kota Caracas diserang yang berujung meledaknya sejumlah fasilitas di ibu kota negaranya.
"Republik Venezuela menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional atas agresi militer berat yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah Venezuela dan penduduknya di Caracas," demikian pernyataan pemerintahan Maduro dikutip dari kantor berita Venezuela AVN.
Selain itu, Maduro memerintahkan Komando Pertahanan Komprehensif Venezuela serta badan-badan pemerintahan di seluruh negara bagian ikut terjun membela negara.
Mengutip dari AFP, pemerintahan Maduro juga memanggil 'mobilisasi' rakyat Venezuela setelah serangan AS itu untuk mempertahankan kedaulatan negara mereka.
"Pemerintah Venezuela meminta mobilisasi populasi setelah serangan AS," demikian diwartakan AFP.
Aktivasi pertahanan semesta itu dilakukan setelah Maduro menandatangani perintah pelaksanaan "Dekrit yang menyatakan Keadaan Gangguan Eksternal".
Seperti dilansir Reuters, serangan bukan hanya terjadi di Caracas tetapi juga di Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.
Sebelumnya, serangkaian ledakan hebat dilaporkan mengguncang ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat. Berdasarkan sejumlah kesaksian, Reuters memberitakan sejumlah warga mendengar ledakan dan melihat asap hitam di beberapa penjuru kota Caracas mulai sekitar pukul 02.00 waktu setempat atau pukul 14.00 WIB.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan yang kian meruncing antara pemerintahan Presiden Nicolas Maduro dengan Amerika Serikat (AS).
Kantor berita The Associated Press melaporkan sedikitnya terdengar tujuh ledakan beruntun disertai suara pesawat yang terbang rendah di atas langit ibu kota.
Sebelumnya, Maduro terus menuduh pemerintahan AS di bawah Donald Trump berupaya memaksakan kehendak melalui ancaman dan kekuatan militer demi menguasai cadangan minyak besar milik Venezuela.
Ketegangan di darat ini juga beriringan dengan operasi militer AS di laut. Pada malam Tahun Baru, militer AS dilaporkan menyerang lima kapal yang diduga melakukan penyelundupan narkoba, menewaskan sedikitnya lima orang.
Sejauh ini, total serangan kapal yang diketahui di Karibia dan Pasifik Timur telah mencapai 35 kasus dengan jumlah korban tewas sedikitnya 115 orang. Warga negara Venezuela dan Kolombia dilaporkan berada di antara daftar korban tewas tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak oposisi maupun pemerintah pusat belum memberikan keterangan resmi mengenai jumlah korban jiwa akibat ledakan di pangkalan militer Fortuna.