Dibidik Trump, Petro Kirim 30 Ribu Prajurit ke Perbatasan Venezuela

CNN Indonesia
Selasa, 06 Jan 2026 10:40 WIB
Pihak berwenang Kolombia mengerahkan 30.000 personel ke perbatasan Venezuela usai Amerika Serikat menggempur Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro.
Presiden Kolombia Gustavo Petro yang jadi target selanjutnya Presiden Donald Trump usai tahan Presiden Nicolas Maduro. (Foto: REUTERS/Luisa Gonzalez)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kolombia mengerahkan 30.000 personel ke perbatasan Venezuela usai Amerika Serikat menggempur Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro.

Radio pemerintah Kolombia Radio Nacional de Columbia melaporkan pemerintah memerintahkan pengerahan 30.000 pasukan ke wilayah perbatasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"[Dengan tujuan] mengantisipasi dan menanggapi peristiwa di daerah tersebut," demikian laporan radio itu, dikutip The National, Senin (5/1).

Direktur Departemen Administrasi Kepresidenan Kolombia, Angie Lizeth Rodriguez, membenarkan informasi tersebut. Ia mengatakan perintah itu dikeluarkan pada Minggu, sehari setelah agresi AS.

Perintah itu, lanjut Rodriguez, juga merupakan bagian dari strategi melindungi kedaulatan.

"Untuk pertahanan dan integritas wilayah serta untuk menjaga keamanan masyarakat perbatasan di tengah meningkatnya ketegangan regional," ujar Rodriguez.

Perbatasan Kolombia-Venezuela merupakan lokasi utama perdagangan narkoba dan senjata yang ramai di kawasan tersebut.

Tentara dan pasukan keamanan Kolombia sering bentrok dengan kelompok gerilya dan kriminal yang aktif di wilayah itu.

Pengerahan pasukan itu berlangsung usai AS membombardir Ibu Kota Caracas dan menculik Maduro beserta istri pada 3 Desember. Mereka langsung diterbangkan dari Venezuela ke Amerika Serikat.

Operasi AS dikecam komunitas internasional termasuk Presiden Kolombia Gustavo Petro. Mereka menilai tindakan itu melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara lain.

(isa/rds)


[Gambas:Video CNN]