Setelah menekan rezim Maduro selama beberapa bulan terakhir, Trump akhirnya memerintahkan pasukan elite Delta Force melancarkan operasi militer khusus untuk menangkap Maduro di Venezuela dan menggeretnya ke Negeri Paman Sam untuk diadili akhir pekan lalu.
Kini, Maduro berada di pusat penahanan metropolitan (MDC) Brooklyn, New York, yang kerap disebut "Hell on Earth" karena menjadi salah satu penjara paling mencekam dan buruk bagi narapidana.
Operasi yang mengejutkan ini ternyata telah dipersiapkan AS dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Misi ini pun menjadi yang paling berisiko dilakukan pasukan AS sejak anggota Navy SEAL Team 6 menewaskan Osama bin Laden di Pakistan pada 2011.
Tim CIA itu bergerak di sekitar Caracas dan berhasil tetap tak terdeteksi selama berbulan-bulan berada di negara tersebut.
Agen CIA juga dibantu oleh sejumlah informan-informan lokal yang berada dekat dengan Maduro untuk mendapatkan informasi terkait pergerakan harian sang presiden.
CIA bahkan bisa mengerahkan armada drone siluman yang diam-diam terbang di atas ibu kota Caracas, memungkinkan badan intelijen AS itu memetakan secara rinci rutinitas Maduro hingga ke detail terkecil.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengatakan dalam konferensi pers bahwa berkat intelijen yang dikumpulkan tim tersebut, AS bisa mengetahui setiap pergerakan Maduro, apa yang ia makan, bahkan hewan peliharaan yang ia miliki.
Informasi detail yang terlihat remeh ini justru menjadi krusial bagi operasi militer selanjutnya yakni di hari H penggerebekan pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS.
Operasi yang dinamakan Operation Absolute Resolve itu pun dinilai sangat berhasil karena sangat presisi secara taktis dan dieksekusi dengan cepat. Operasi ini berhasil mengekstraksi Maduro dari negaranya tanpa menimbulkan korban jiwa di pihak Amerika.
Berbeda dengan intervensi AS di masa lalu yang kerap berantakan baik oleh militer di Panama maupun CIA di Kuba, operasi penangkapan Maduro ini nyaris sempurna, menurut sejumlah pejabat yang mengetahui detailnya dan berbicara dengan syarat anonim.
Menjelang hari H misi berlangsung, pasukan Delta Force berlatih mengekstraksi target di dalam replika berskala penuh kompleks Maduro yang dibangun oleh Komando Operasi Khusus Gabungan di Kentucky. Mereka berlatih menerobos pintu baja dengan kecepatan yang terus ditingkatkan.
Militer AS juga bersiaga selama berhari-hari, menunggu kondisi cuaca yang mendukung serta waktu yang meminimalkan risiko korban sipil.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Maduro berpindah-pindah di antara enam hingga delapan lokasi dan AS tidak selalu mengetahui tempat ia bermalam hingga larut malam.
Sementara itu, militer AS membutuhkan konfirmasi bahwa Maduro berada di kompleks yang telah mereka latih untuk diserbu untuk bisa mengeksekusi misi operasinya.
Dalam beberapa hari menjelang penggerebekan, AS mengerahkan semakin banyak pesawat Operasi Khusus, pesawat peperangan elektronik, drone Reaper bersenjata, helikopter pencarian dan penyelamatan, serta jet tempur ke kawasan tersebut.
Trump pun akhirnya memberi otorisasi kepada militer AS untuk melanjutkan operasi sejak 25 Desember, tetapi menyerahkan penentuan waktu persisnya kepada Pentagon dan perencana Operasi Khusus guna memastikan kesiapan pasukan serta kondisi lapangan yang optimal.
Menurut seorang pejabat AS, militer AS memilih periode libur akhir tahun karena banyak pejabat pemerintah sedang berlibur dan sejumlah besar personel militer Venezuela juga cuti.
Cuaca buruk yang tidak lazim sempat menunda operasi selama beberapa hari. Namun, awal pekan itu cuaca membaik, dan para komandan meninjau "jendela peluang" target yang bergerak dari hari ke hari. Trump memberikan perintah final pada Jumat (2/1) pukul 22.46 waktu setempat.
Seandainya cuaca tidak membaik, misi ini bisa saja ditunda hingga pertengahan Januari, kata seorang pejabat.
Operasi resmi dimulai sekitar pukul 16.30 pada Jumat, ketika pejabat AS memberikan persetujuan awal untuk meluncurkan sejumlah serangan udara. Namun, itu belum berarti seluruh misi disahkan.
Selama enam jam berikutnya, para pejabat terus memantau kondisi di lapangan, termasuk cuaca dan keberadaan Maduro.
Trump menghabiskan malam itu di teras Mar-a-Lago, klubnya di Florida, makan malam bersama para ajudan dan menteri kabinet. Para ajudannya mengatakan ia akan dihubungi sekitar pukul 22.30 untuk persetujuan akhir.
Trump memberi persetujuan melalui telepon, lalu bergabung dengan para pejabat keamanan nasional senior di lokasi aman di kawasan tersebut.
Sementara itu di Venezuela, upaya dimulai dengan operasi siber yang memutus aliran listrik di sebagian besar Caracas, menyelimuti kota dalam kegelapan agar pesawat, drone, dan helikopter dapat mendekat tanpa terdeteksi.
Lebih dari 150 pesawat militer, termasuk drone, jet tempur, dan pembom, terlibat dalam misi tersebut, lepas landas dari 20 pangkalan militer dan kapal Angkatan Laut AS.
Saat pesawat mendekati Caracas, badan militer dan intelijen memastikan kejutan taktis tetap terjaga: Maduro tidak mendapat peringatan tentang operasi tersebut.
Dini hari Sabtu, ledakan dahsyat mengguncang Caracas ketika pesawat tempur AS menyerang radar dan baterai pertahanan udara. Meski sejumlah ledakan yang beredar di media sosial tampak dramatis, seorang pejabat AS mengatakan sebagian besar target adalah instalasi radar dan menara transmisi radio.
Sedikitnya 40 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk personel militer dan warga sipil, menurut seorang pejabat senior Venezuela yang berbicara secara anonim berdasarkan laporan awal.
Jenderal Caine kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa pesawat tempur, pembom, dan drone masuk ke wilayah Venezuela untuk melumpuhkan pertahanan udara, membuka jalur aman bagi helikopter yang membawa pasukan Operasi Khusus.
Meski pertahanan udara Venezuela berhasil ditekan, helikopter AS tetap ditembaki saat mendekati kompleks Maduro sekitar pukul 02.01 waktu setempat. Jenderal Caine mengatakan helikopter membalas dengan "kekuatan luar biasa".
Salah satu helikopter terkena tembakan. Dua pejabat AS mengatakan sekitar setengah lusin tentara terluka dalam keseluruhan operasi.
Pasukan Delta Force yang ditugaskan menangkap Maduro diterbangkan ke target yang terletak di pangkalan militer dengan pengamanan paling ketat di Venezuela.
Pasukan Delta Force bahkan diterjunkan ke lokasi oleh unit penerbangan Operasi Khusus Angkatan Darat AS, Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160, yang mengoperasikan helikopter MH-60 dan MH-47 yang dimodifikasi.
Unit yang dijuluki Night Stalkers ini mengkhususkan diri pada misi berisiko tinggi yang bisa terbang rendah, dan operasi malam hari seperti penyusupan, evakuasi, dan penggerebekan. Dalam beberapa bulan terakhir, unit ini melakukan misi latihan di dekat pesisir Venezuela.
Setibanya di darat, Delta Force bergerak cepat menyisir gedung untuk menemukan Maduro.
Sekitar 2.100 kilometer jauhnya, di sebuah ruangan di Mar-a-Lago, Trump dan para ajudan utama menyaksikan jalannya penggerebekan secara langsung melalui kamera yang dipasang di pesawat di atas lokasi.
Sambil Jenderal Caine menjelaskan peristiwa di layar, Trump melontarkan berbagai pertanyaan tentang perkembangan operasi.
"Saya menontonnya benar-benar seperti sedang menonton acara televisi," kata Trump kepada Fox News pada Sabtu pagi.
Trump menyaksikan pasukan Delta Force menggunakan bahan peledak untuk memasuki gedung. Seorang pejabat AS mengatakan pasukan Operasi Khusus membutuhkan waktu tiga menit sejak pintu dijebol hingga mencapai lokasi Maduro.
Trump mengatakan bahwa ketika pasukan AS mencapai kamar Maduro, pemimpin Venezuela itu dan istrinya berusaha melarikan diri ke sebuah ruangan berpintu baja, tetapi berhasil dicegah.
"Ia berusaha mencapai tempat aman," kata Trump, seraya menambahkan bahwa pintu itu sangat tebal dan berat, namun Maduro tidak berhasil menutupnya.
Sekitar lima menit setelah memasuki gedung, Delta Force melaporkan bahwa Maduro telah ditangkap
Militer juga membawa seorang negosiator sandera dari FBI sebagai antisipasi jika Maduro mengunci diri di ruang aman atau menolak menyerah. Namun, negosiasi itu tidak diperlukan.
Pasukan Delta segera menaikkan pasangan tersebut ke helikopter yang kembali ke kompleks. Pada pukul 04.29 waktu Caracas, Maduro dan istrinya dipindahkan ke USS Iwo Jima, kapal perang AS di Karibia yang ditempatkan sekitar 160 kilometer dari pantai Venezuela selama operasi.
Dari Iwo Jima, keduanya diterbangkan ke pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantánamo, tempat sebuah pesawat pemerintah Boeing 757 milik FBI telah menunggu untuk membawa Maduro ke bandara yang dikuasai militer di utara Manhattan.
Trump terus menyaksikan hingga pasukan Operasi Khusus keluar dari wilayah Venezuela dan terbang di atas laut, kata seorang pejabat.
Trump mengatakan Amerika Serikat siap melancarkan gelombang serangan kedua terhadap Venezuela jika diperlukan, meski ia menilai hal itu tidak akan diperlukan. Ia juga memperingatkan para pemimpin Venezuela lainnya bahwa ia bersedia mengejar mereka juga.