Apa yang Terjadi Setelah Nicolas Maduro Dipenjara di AS?
Selama ditahan di AS, kepemimpinan Venezuela jatuh ke wakil presiden Delcy Rodriguez.
Perempuan itu dilantik pada Senin di Majelis Nasional untuk menjadi plt presiden Venezuela. Namun, peneliti senior dari Atlantic Council's Democracy+Tech Initiative Iria Puyosa mengatakan Rodriguez tak bisa menjamin stabilitas yang diinginkan Trump.
Trump sejak di periode pertama memimpin AS tak mengakui pemerintahan Maduro. Beberapa bulan ini, tindakan dia terhadap Venezuela juga dianggap upaya melengserkan Maduro dari kursi kekuasaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump berambisi menguasai Venezuela dan mengambil cadangan minyak negara itu demi keuntungan Amerika Serikat.
"Rodríguez tak bisa menjamin stabilitas yang dibutuhkan untuk operasi bisnis yang ditekankan Trump beberapa kali selama pidatonya soal operasi tersebut," kata Puyosa.
Dia juga menduga Rodriguez tak mendapat dukungan dari semua faksi dalam partai yang berkuasa.
Selain itu, Puyosa memandan Rodriguez masih menjadi bagian rezim pemerintahan saat ini. Dia dikenal pembela garis keras Maduro dan orang kepercayaannya selama bertahun-tahun.
Rakyat Venezuela, menurut dia, tentu tak akan menerima begitu saja. Mereka akan melanjutkan perjuangan hingga kebebasan dan demokrasi pulih seutuhnya.
Skenario terburuk
Kepala Proyek Kontraterorisme di lembaga think tank Atlantic Council, Alex Plitsas, mengatakan situasi selanjutnya bergantung pada perhitungan para tokoh berpengaruh di pemerintahan Maduro.
Mereka yang dianggap penting adalah komandan militer, kepala intelijen, dan pendukung politik yang kini dihadapkan pada pilihan sulit.
"Menegosiasikan jalan keluar yang tertib atau menghadapi kehancuran bersama sistem yang runtuh," kata Plitsas, dikutip Atlantic Council.
Dalam skenario terbaik, lanjut dia, penangkapan Maduro akan memicu pembelotan elit. Para bawahan presiden Venezuela itu akan berhadapan dengan risiko hukum, sanksi, dan kehilangan dukungan.
Untuk mengantisipasi itu, mereka bisa mencari jaminan untuk perjalanan aman, amnesti terbatas, atau pengasingan di negara ketiga sebagai imbalan atas pengalihan kekuasaan kepada oposisi yang terpilih secara sah.
"Penyerahan kekuasaan melalui negosiasi semacam itu akan mencegah kekerasan massal, menstabilkan institusi, dan membuka jalan yang sempit tetapi layak menuju pemulihan ekonomi dan reintegrasi internasional," ucap Plitsas.
Skenario lain, kata Plitsas, adalah Amerika Serikat telah bekerja secara diam-diam dengan elemen-elemen pemerintah Venezuela yang akan mengambil alih kekuasaan.
Namun, skenario terburuk juga mengintai Venezuela dan bisa jadi jauh lebih suram.
"Jika sisa-sisa rezim menolak negosiasi dan terpecah belah, Venezuela bisa terjerumus ke dalam konflik gerilya yang berkepanjangan," tutur peneliti senior itu.
Kelompok bersenjata, unit militer yang terlibat dalam kriminalisasi, dan faksi terkait narkoba bisa melancarkan perang asimetris. Jika ini terjadi, Plitsas memandang sebagian wilayah Venezuela akan menjadi zona sengketa.
Pada gilirannya warga sipil pun kian menderita meski rezim Maduro secara resmi runtuh.
(isa/bac)
