Somalia Ngamuk Menlu Israel ke Somaliland: Penyusupan Tanpa Izin!

CNN Indonesia
Rabu, 07 Jan 2026 09:53 WIB
Somalia bereaksi keras usai Menlu Israel Gideon Saar mengunjungi Somaliland, wilayah di Somalia yang ingin merdeka dan belakangan diakui Tel Aviv sebagai negara
Somalia bereaksi keras usai Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengunjungi Somaliland, wilayah di Somalia yang ingin merdeka dan belakangan diakui Tel Aviv sebagai negara. (Foto: AFP/JALAA MAREY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Somalia bereaksi keras usai Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengunjungi Somaliland, wilayah di Somalia yang ingin merdeka dan belakangan diakui Tel Aviv sebagai negara.

Kementerian Luar Negeri Somalia menilai kunjungan Saar ke Somaliland merupakan tindakan ilegal dan "penyusupan tanpa izin" ke negara di Tanduk Afrika itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pernyataannya, Kemlu Somalia menyatakan pihaknya "berhak mengambil semua langkah diplomatik dan hukum yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan, persatuan nasional, dan keutuhan wilayahnya".

Sementara itu, Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika dalam pertemuan khusus pada Selasa juga mengecam "dengan keras" pengakuan Israel tersebut dan menyerukan agar keputusan itu "segera dicabut".

Liga Arab dalam pernyataannya menegaskan bahwa "setiap bentuk hubungan resmi atau semi-resmi" dengan pejabat Somaliland yang diperlakukan terpisah dari Somalia merupakan "pelanggaran terang-terangan terhadap persatuan dan kedaulatan Somalia".

Langkah tersebut, tambah Liga Arab, berpotensi "merusak perdamaian dan keamanan kawasan serta memperburuk ketegangan politik di Somalia, Laut Merah, Teluk Aden, dan Tanduk Afrika".

Setelah pengakuan Israel terhadap Somaliland, kelompok militan Islam Al-Shabaab bahkan berpihak kepada pemerintah Somalia yang menjadi musuh selama dua dekade terakhir.

Al-Shabaab menyatakan akan melawan setiap upaya Israel menggunakan Somaliland sebagai basis.

Israel bulan lalu mengumumkan secara resmi pengakuannya terhadap Somaliland, sebuah langkah pertama bagi republik yang memproklamasikan diri itu sejak menyatakan kemerdekaan dari Somalia pada 1991.

Somaliland memiliki posisi strategis di Teluk Aden serta mata uang, paspor, dan angkatan bersenjata sendiri. Namun, wilayah itu selama ini kesulitan memperoleh pengakuan internasional, di tengah kekhawatiran akan memicu kemarahan Somalia dan mendorong gerakan separatis lain di Afrika.

Pada Selasa, Menlu Israel Gideon Saar dan delegasinya disambut pejabat tinggi pemerintah setempat di bandara. Ia mengatakan pengakuan terhadap Somaliland merupakan "hal yang secara moral benar untuk dilakukan".

Presiden Somaliland Abdirahman Abdullahi Mohamed turut memuji keputusan Israel yang disebutnya "berani" dan mengatakan langkah tersebut akan membuka peluang ekonomi serta pembangunan.

"Ini mendorong kemitraan kepentingan strategis kedua negara," ujarnya dalam konferensi pers bersama.

Para analis menilai kesepakatan dengan Somaliland dapat memberi Israel akses yang lebih luas ke Laut Merah, sehingga memungkinkan serangan terhadap pemberontak Houthi di Yaman.

Letak Somaliland yang berdampingan dengan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia menjadikannya mitra strategis bagi sejumlah negara asing.

Pengakuan Israel mendapat dukungan Amerika Serikat, namun dikritik oleh Mesir, Turki, enam negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berbasis di Arab Saudi. Uni Eropa menegaskan bahwa kedaulatan Somalia harus dihormati.

Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menyebut keputusan Israel sebagai "ancaman" terhadap stabilitas di Tanduk Afrika yang memang sudah rawan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia mengatakan Somaliland disebut telah menerima tiga syarat dari Israel: pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer di Teluk Aden, serta bergabung dalam Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

(rds)


[Gambas:Video CNN]