Parpol-parpol Greenland Ogah di Bawah Kekuasaan AS dan Trump

CNN Indonesia
Sabtu, 10 Jan 2026 19:15 WIB
Partai-partai politik Greenland ogah di bawah kendali Washington saat Presiden AS Donald Trump buka opsi militer demi caplok kawasan itu. (AFP/Odd Andersen)
Jakarta, CNN Indonesia --

Partai-partai politik Greenland ogah berada di bawah kendali Washington setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengisyaratkan penggunaan kekuatan untuk merebut wilayah otonom Denmark yang kaya mineral tersebut.

Pernyataan itu muncul pada Jumat (9/1) malam setelah Trump mengulangi pernyataannya bahwa Washington "akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak suka".

Ibu-ibu kota Eropa telah berupaya keras untuk menyusun respons terkoordinasi setelah Gedung Putih mengatakan pekan ini bahwa Trump ingin membeli Greenland dan menolak untuk mengesampingkan tindakan militer.

"Kami tidak ingin menjadi orang Amerika, kami tidak ingin menjadi orang Denmark, kami ingin menjadi orang Greenland," kata para pemimpin dari lima partai di parlemen Greenland.

"Masa depan Greenland harus ditentukan oleh orang Greenland sendiri," bunyi pernyataan mereka seperti diberitakan AFP, Sabtu (10/1).

"Tidak ada negara lain yang dapat ikut campur dalam hal ini. Kami harus menentukan masa depan negara kami sendiri - tanpa tekanan untuk membuat keputusan yang tergesa-gesa, tanpa penundaan, dan tanpa campur tangan dari negara lain," tegas mereka.

[Gambas:Video CNN]

Denmark dan sekutu Eropa lainnya mengaku terkejut atas ancaman Trump terhadap Greenland, pulau strategis antara Amerika Utara dan Arktik tempat AS memiliki pangkalan militer sejak Perang Dunia II.

Trump mengatakan mengendalikan pulau itu sangat penting bagi keamanan nasional AS mengingat meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di Arktik.

"Kami tidak akan membiarkan Rusia atau China menduduki Greenland. Itu lah yang akan mereka lakukan jika kami tidak melakukannya," klaim Trump.

"Jadi kami akan melakukan sesuatu dengan Greenland, baik dengan cara yang baik atau cara yang lebih sulit."

Baik Rusia dan China telah meningkatkan aktivitas militer di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tidak satu pun dari mereka yang mengklaim pulau es yang luas itu.

Greenland menarik perhatian internasional dalam beberapa tahun terakhir karena sumber daya alamnya yang melimpah, termasuk mineral langka dan perkiraan bahwa pulau itu dapat memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen telah memperingatkan bahwa invasi ke Greenland akan mengakhiri "segalanya", yang berarti pakta pertahanan NATO transatlantik dan struktur keamanan pasca Perang Dunia II.

Trump telah meremehkan kekhawatiran Denmark, sekutu setia AS yang bergabung dengan Amerika Serikat dalam invasi Irak 2003.

"Saya juga penggemar Denmark, harus saya akui. Dan Anda tahu, mereka sangat baik kepada saya," kata Trump.

"Tetapi Anda tahu, fakta bahwa mereka pernah mendarat di sana 500 tahun yang lalu tidak berarti mereka memiliki tanah itu."

Menteri Luar Negeri Marco Rubio dijadwalkan bertemu menteri luar negeri Denmark dan perwakilan dari Greenland pekan depan.

Invasi AS akan membuat Washington berkonfrontasi dengan sesama anggota NATO, Denmark, dan mengancam untuk menghancurkan seluruh aliansi militer, yang didasarkan pada klausul pertahanan diri bersama.

Serangkaian diplomasi sedang berlangsung ketika negara-negara Eropa mencoba mencegah krisis sekaligus menghindari kemarahan Trump, yang hampir mengakhiri tahun pertamanya kembali berkuasa.

Trump pernah menawarkan untuk membeli Greenland pada 2019 selama masa jabatan presiden pertamanya, tetapi tawaran itu ditolak.

(afp/chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK