Iran Chaos Demo, Kurdi Klaim Duduki Pangkalan Korps Garda Revolusi

CNN Indonesia
Rabu, 14 Jan 2026 20:20 WIB
Milisi Kurdi Iran merebut pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kala demonstrasi besar menentang pemerintah kian rusuh hingga 2.403 orang tewas.
Milisi Kurdi Iran merebut pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kala demonstrasi besar menentang pemerintah kian rusuh hingga 2.403 orang tewas. Ilustrasi. (Foto: via REUTERS/Majid Asgaripour)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok militan Kurdi Iran mengeklaim telah merebut sebuah pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Provinsi Kermanshah, Iran barat, Rabu (14/1).

Melalui pernyataan, Tentara Nasional Kurdistan (SMK), sayap militer Partai Kebebasan Kurdistan (PAK), menyatakan operasi tersebut menargetkan markas IRGC di Kermanshah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan itu disebut sebagai aksi balasan atas serangkaian bentrokan yang terjadi baru-baru ini sehingga menewaskan sejumlah milisi SMK.

Dikutip CNN, dalam pernyataannya, SMK mengeklaim melancarkan serangan dari dua arah dan berhasil menyusup ke pangkalan IRGC  tersebut.

SMK mengeklaim serangannya itu sampai membuat pasukan IRGC lengah. Kelompok itu juga menyebut serangan tersebut menimbulkan korban di pihak pasukan Iran.

CNN belum dapat memverifikasi klaim SMK secara independen.

Hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari otoritas Iran terkait klaim tersebut termasuk Kedutaan Besar Iran di London.

Sementara itu, presiden kelompok militan nasionalis sekaligus separatis di Iran PAK, Hussein Yazdanpana, menyatakan  kemenangan melawan rezim Iran "bergantung pada pemberontakan massal dan pembelaan diri yang sah terhadap para penindas."

Serangan ini berlangsung kala Iran juga tengah menghadapi demonstrasi besar-besaran di seluruh negeri memprotes rezim Ayatollah Ali Khamenei untuk mundur imbas krisis ekonomi yang makin memburuk.

Sebanyak2.403 orang meninggal dunia selama demonstrasi Iran berlangsung sejak 28 Desember lalu hingga hari ini.

Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, melaporkan jumlah korban tewas itu meliputi anak di bawah 18 tahun.

Jumlah ini menandai peningkatan signifikan korban jiwa dalam demo panas di Iran. Sebelumnya, HRANA melaporkan 1.850 meninggal dunia dalam unjuk rasa tersebut. CNN sejauh ini belum bisa memverifikasi secara independen laporan HRANA.

Demo di Iran yang berlangsung sejak 28 Desember lalu ini mulanya dipicu krisis ekonomi. Namun, demo meluas dan berubah menjadi desakan perubahan rezim Ayatollah Ali Khamenei.

Pemerintah Iran sampai memblokir internet dan komunikasi selama kurang lebih sepekan terakhir demi membungkam dan meredam demonstrasi.

(bac)


[Gambas:Video CNN]