Prediksi 'Kartu AS' yang Akan Dikeluarkan Iran Jika Diserang AS

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 20:25 WIB
Iran disebut memiliki sejumlah strategi menghadapi ancaman serangan Amerika Serikat usai Presiden Donald Trump mengirim armada kapal induk ke Timur Tengah. (Foto: Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali sesumbar akan menyerang Iran menyusul demonstrasi berdarah di negara Timur Tengah itu.

Trump bahkan sudah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke perairan Timur Tengah pada pekan lalu. Dia bahkan mengirim armada tambahan dengan klaim latihan tempur.

"Ada armada bagus lain yang berlayar dengan indah menuju Iran saat ini," kata Trump pada Selasa (27/1).

Meski mendapat ancaman AS, Iran menyatakan siap perang jika mereka memprovokasi.

Tahun lalu, AS pernah menyerang Iran dalam rangka membantu sekutunya Israel saat perang 12 hari. Washington mengeklaim telah menghancurkan sejumlah fasilitas nuklir Iran dan dengan demikian melemahkan pertahanan mereka.

Namun, Iran membantah fasilitas nuklir mereka rusak.

Lalu, apa yang akan kemungkinan dilakukan rezim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei jika AS benar-benar menyerang Iran?

Salah satu respons Iran jika AS menyerang adalah kemungkinan memblokade Selat Hormuz. Jalur ini jadi rute perdagangan vital pasokan minyak dunia.

Jika Selat Hormuz ditutup, harga energi akan melonjak tajam, terutama di negara-negara yang mengandalkan impor minyak dari negara di Timur Tengah.

Para pengusaha energi siaga tinggi sejak Israel melancarkan serangan serangan mendadak pada 13 Juni tahun lalu. Mereka takut perang tersebut mengganggu distribusi minyak dan gas yang dikirim melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz terletak di utara Iran, sementara di bagian selatan berada di dekat Uni Emirat Arab dan Oman.

Di masa lalu, Iran pernah mengancam akan menutup selat tersebut, tetapi seruan itu tak pernah terlaksana hingga sekarang.

Jika betul-betul mau menutup selat tersebut, Iran harus melalui jalan cukup panjang.

Penutupan harus mendapat dukungan dari parlemen dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Setelah ini, DPR harus mengesahkan undang-undang terkait hal tersebut.

Anggota Komisi Keamanan Nasional Esmail Kosari mengatakan legislatif sudah satu sikap soal penutupan Selat Hormuz.

"Untuk saat ini sudah sampai pada kesimpulan bahwa kita harus menutup Selat Hormuz, tapi keputusan akhir dalam hal ini adalah tanggung jawab Dewan Keamanan Nasional Tertinggi," kata Kosari, dikutip Al Jazeera.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sementara itu, tak memberi jawaban tegas soal sikap yang bakal ditempuh pemerintah.

"Iran punya berbagai pilihan," ujar dia pada Minggu (25/1).

Penutupan Selat Hormuz tentu punya dampak bagi Iran. Menlu AS Marco Rubio bahkan pernah mengatakan jika tetap dilakukan, itu adalah bunuh diri ekonomi.

Penutupan Hormuz juga menyeret negara-negara Arab ke dalam perang demi melindungi kepentingan komersial mereka. Selain itu, penutupan akan berdampak buruk bagi China.

China membeli hampir 90 persen ekspor minyak Iran atau sekitar 1,6 juta barel per hari.

Selain menutup selat, Iran juga bisa mencoba memasang ranjau di sana. Tentara atau pasukan cadangan Korps Angkatan Bersenjata (IRGC) bisa memulai serangan atau merebut kapal di perairan itu.

(isa/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK