Trump Diklaim Incar Para Pemimpin Iran dalam Rencana Serangan AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut sedang mempertimbangkan opsi untuk menargetkan para pemimpin Iran.
Sejumlah sumber yang mengetahui hal tersebut mengatakan kepada CNN bahwa Trump membuka peluang untuk menyerang para pemimpin Iran serta pejabat keamanan. Mereka yang diincar adalah yang diyakini bertanggung jawab atas tewasnya ribuan orang dalam demo Iran.
"Sumber-sumber mengatakan opsi yang sedang dipertimbangkannya saat ini meliputi serangan udara yang ditujukan kepada para pemimpin Iran dan para pejabat keamanan yang dipercaya bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut," demikian laporan CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump juga disebut kembali menargetkan situs nuklir Iran, serta lembaga-lembaga pemerintah.
Menurut para sumber, Trump hingga kini belum membuat keputusan final, namun sudah berniat melancarkan serangan lebih besar dari sebelumnya mengingat kelompok tempur kapal induk AS telah bertengger di Timur Tengah.
Sejak awal pekan ini, USS Abraham Lincoln bersama kapal-kapal-kapal perusak berpeluru kendali dikabarkan telah beroperasi di perairan Timur Tengah. Satu skuadron jet tempur F-15E Strike Eagle juga telah dikirim ke kawasan.
Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu (28/1), Trump melontarkan kembali ancamannya terhadap Iran, yang mendesak Teheran berunding kembali dan membuat kesepakatan soal program nuklir jika tak mau diserang lebih parah dari tahun lalu.
Para sumber mengatakan Trump geregetan dengan Iran karena Teheran tidak melanjutkan negosiasi nuklir, padahal sudah sempat berkontak pada awal bulan lalu.
"Sempat ada diskusi singkat mengenai pertemuan tatap muka, tapi hal itu tidak pernah terwujud, kata seorang sumber," lapor CNN.
"Menurut orang lain yang mengetahui masalah ini, belum ada negosiasi langsung yang serius antara AS dan Iran karena Trump telah meningkatkan ancaman aksi militer dalam beberapa hari terakhir," lanjut CNN.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (28/1) menegaskan tidak ada diplomasi yang akan berhasil jika dibarengi dengan tekanan militer dan ancaman.
"Posisi kami jelas: melakukan diplomasi lewat ancaman militer tidak akan efektif atau bermanfaat. Jika mereka mau negosiasi berjalan lancar, tidak boleh ada ancaman, tuntutan berlebihan, dan isu-isu yang tidak rasional," pungkas Araghchi, seperti disiarkan kantor berita IRNA.
Seorang sumber AS menjelaskan Trump kepalang jengkel dengan Iran karena Teheran menolak tuntutannya untuk menghentikan pengayaan uranium. Iran juga masih keukeuh melarang badan pengawas nuklir PBB memeriksa situs nuklir mereka.
Lebih lanjut, penolakan Iran terhadap tuntutan untuk membatasi jangkauan rudal balistik juga membuat Trump gusar. Bagi Iran, Trump banyak mau padahal topik utama pembicaraan mereka adalah soal program nuklir.
Meski negosiasi buntu, Trump disebut masih bersedia berdialog dengan Iran selama "mereka mengetahui apa syarat-syaratnya."
"Jadi jika mereka ingin menghubungi kami dan mereka tahu apa persyaratannya, maka kami bersedia berdiskusi," kata seorang pejabat, tanpa merinci apa syarat yang dimaksud.
Trump tampaknya mulai memperlihatkan niat sebenarnya terhadap Iran, yakni memusnahkan program nuklir dan rudal Teheran. Trump awalnya menggunakan dukungan kepada rakyat Iran sebagai alasan melancarkan serangan.
Trump pada saat yang sama juga kelihatan mau menggunakan momentum ini untuk menggulingkan rezim teokratis Iran. Pekan lalu, ia mengisyaratkan ingin melihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei disingkirkan dari kekuasaan.
"Sudah saatnya mencari pemimpin baru di Iran," kata Trump kepada Politico.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu mengatakan kepada parlemen bahwa rezim Iran tampaknya "lebih lemah dari sebelumnya." Namun, salah satu sumber menilai lemahnya pemerintah Iran tidak menjamin kejatuhan rezim Teheran.
"Bahkan jika Anda menyingkirkan Ayatollah, para penggantinya juga semuanya garis keras," ujarnya.
Tidak ada pula indikasi bahwa dinas keamanan Iran berniat melawan Khamenei.
Dua pejabat AS mengatakan Trump menyadari bahwa serangan militer ke Iran akan jauh lebih sulit dari operasi AS di Venezuela. Makanya Trump mengerahkan kelompok kapal perang yang lebih besar ke Iran.
Iran punya beragam sistem pertahanan udara, rudal balistik, dan drone serang satu arah. Teheran bahkan punya jet tempur AS dan Rusia, yang sudah tua namun berpengalaman dalam pertempuran.
Meski jumlahnya jauh lebih kecil dan kuno dari AS, kemampuan militer Iran tetap tak bisa diremehkan.
"Anda sedang bicara tentang rezim yang telah berkuasa dalam waktu yang sangat lama. Jadi butuh banyak pertimbangan yang cermat jika kemungkinan (penggulingan) itu terjadi," kata Rubio pada Rabu, kala mengakui kompleksnya operasi ke Iran.
Pada Juni 2025 lalu, Iran dan Israel berperang 12 hari. Saat itu, para perwira pangkat tinggi Iran tewas dibunuh. Khamenei juga jadi target utama Negeri Zionis.
Namun, Israel tidak pernah bisa mengidentifikasi Khamenei apalagi melacak keberadaannya. Hal itu pun diakui oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
"Khamenei memahami hal ini. Dia pergi jauh ke bawah tanah hingga kedalaman yang amat dalam. Dia bahkan memutus kontak dengan para komandan," kata Katz kepada Kan News.
"Jadi pada akhirnya itu tidak realistis (untuk membunuh Khamenei)," ucapnya.
(blq/dna)

