Pangeran Saudi Diduga ke AS Bahas Soal Iran

CNN Indonesia
Jumat, 30 Jan 2026 18:15 WIB
Pangeran Arab Saudi dan Israel bertandang ke Amerika Serikat di tengah rencana Presiden Donald Trump melancarkan serangan ke Iran. (Foto: AFP/GEOFFROY VAN DER HASSELT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat disebut berupaya membujuk Arab Saudi demi mendukung rencana Presiden Donald Trump melancarkan serangan ke Iran

Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman dikabarkan berada di Washington untuk bertemu dengan sejumlah pejabat AS guna membahas masalah Iran. Khalid bin Salman adalah adik Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang merupakan pemimpin de facto Saudi.

Pangeran Khalid secara luas dipahami sebagai penasihat terdekat Mohammed bin Salman.

Dikutip Reuters, kepala intelijen militer Israel, Jenderal Shlomi Binder, juga dilaporkan melakukan sejumlah pertemuan terpisah dengan pejabat-pejabat senior di Pentagon, CIA, dan Gedung Putih pada Selasa (27/1) dan Rabu (28/1) untuk membahas masalah Iran.

Pertemuan pejabat Saudi dan Israel ini berlangsung ketika sebuah laporan dari Middle East Eye (MEE) menyoroti upaya AS membujuk Riyadh agar mendukung serangan terhadap Iran.

Seorang pejabat AS yang mengetahui poin-poin pembahasan untuk kunjungan Pangeran Khalid, serta dua pejabat Arab yang memahami dinamika diplomasi mengatakan AS dan para mitra Teluknya tampak saling berbicara tanpa titik temu soal ambisi Trump terhadap Iran ini.

Pemerintahan Trump menekan Riyadh agar sejalan mendukung serangan, sementara Arab Saudi bersama Oman, Qatar, dan Turki menolak dan lebih mendorong jalur perundingan.

Axios pertama kali melaporkan rencana kunjungan Pangeran Khalid ke Washington tersebut, bersamaan dengan kunjungan kepala intelijen militer Israel.

Sementara itu, pejabat AS yang mengetahui agenda pembahasan kunjungan Pangeran Khalid mengatakan bahwa diskusi pemerintahan Trump akan mencakup bagaimana serangan militer dapat mengurangi ancaman Iran terhadap mitra-mitra kawasan melalui kelompok proksi dan persenjataan rudal balistiknya.

AS juga akan meyakinkan Riyadh mengenai komitmennya terhadap pertahanan dan keamanan jangka panjang Saudi.

Dua pejabat Arab mengatakan kepada MEE bahwa ada ekspektasi AS menawarkan sejumlah "janji" kepada Arab Saudi, meski mereka tidak merinci apa yang dapat ditawarkan Trump untuk mengamankan dukungan Riyadh terhadap serangan tersebut.

Meski demikian, seorang pejabat Arab mengatakan Saudi mungkin bisa diyakinkan untuk memberi persetujuan diam-diam terhadap serangan AS. Sebab, pejabat lain menyebut Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah menegaskan Riyadh sepenuhnya menentang aksi militer.

Belum jelas apakah Trump mengincar komitmen publik dari negara-negara Teluk. Namun, jika iya ini akan bertentangan dengan pernyataan para pemimpin negara Arab sebelumnya.

Selain itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga telah secara terbuka menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorinya digunakan untuk menyerang Iran.

AS telah mengindikasikan akan melancarkan serangan militer ke Iran jika Teheran tidak segera melanjutkan perundingan soal program nuklir.

AS mulai membidik Iran setelah demo berdarah pecah di negara itu buntut krisis ekonomi.

Awalnya AS menggunakan kematian pedemo sebagai dalih menyerang Iran, namun kini Washington mengubah alasannya ke program nuklir Teheran.

Sejak awal pekan ini, kapal-kapal perang AS sudah mengepung Iran. Iran telah menegaskan siap berperang habis-habisan jika diserang.

[Gambas:Video CNN]

Menurut laporan Axios, AS dan Israel sudah berbagi informasi intelijen mengenai target-target yang mau mereka serang di Iran.

Laporan CNN baru-baru ini menyatakan Trump mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk menyerang para pemimpin Iran.

Mengantisipasi serangan AS, Iran menelepon negara-negara tetangganya dan mendesak mereka untuk tidak memfasilitasi serangan Washington. Saudi dan negara-negara Teluk telah berjanji tak akan mengizinkan teritori mereka dipakai menyerang Iran.

(blq/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK