Ledakan di Pelabuhan Iran Tewaskan 1 Orang dan 14 Luka-luka
Setidaknya satu orang tewas dan 14 lainnya luka-luka dalam ledakan di pelabuhan Bandar Abbas, Iran, pada Sabtu (31/1).
Reuters yang mengutip kantor berita Tasnim menjelaskan penyebab ledakan belum diketahui. Dilaporkan pula kabar dari media sosial yang menuduh seorang komandan angkatan laut Garda Revolusi menjadi sasaran ledakan tersebut "sama sekali tidak benar".
Media Iran mengatakan ledakan tersebut sedang diselidiki, tetapi tidak memberikan informasi lebih lanjut. Pihak berwenang Iran juga belum memberikan komentar.
Selain ledakan di pelabuhan, Teheran Times, media yang dikelola pemerintah, mengabarkan empat orang tewas di insiden ledakan gas di kota Ahvaz dekat perbatasan Irak. Informasi lanjutan tentang hal ini belum tersedia.
Dua pejabat Israel mengatakan kepada Reuters bahwa Israel tidak terlibat dalam ledakan hari Sabtu. Ledakan di pelabuhan ini terjadi saat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS), sekutu Israel, meningkat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa sebuah "armada" sedang menuju ke Iran. Beberapa sumber mengatakan pada Jumat bahwa Trump sedang mempertimbangkan opsi yang mencakup serangan terarah terhadap pasukan keamanan Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh para pemimpin AS, Israel dan Eropa mengeksploitasi masalah ekonomi Iran, menghasut kerusuhan, dan menyediakan sarana bagi orang-orang untuk "merusak negara".
Bandar Abbas, rumah bagi pelabuhan kontainer terpenting Iran, terletak di Selat Hormuz, jalur air vital antara Iran dan Oman yang menangani sekitar seperlima minyak dunia yang diangkut melalui laut.
Pelabuhan tersebut mengalami ledakan besar pada April lalu yang menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari 1.000 orang.
Komite investigasi pada saat itu menyalahkan ledakan tersebut karena kurangnya kepatuhan terhadap prinsip-prinsip pertahanan dan keamanan sipil.
Iran telah diguncang protes nasional yang meletus pada Desember karena kesulitan ekonomi dan telah menimbulkan salah satu tantangan terberat bagi penguasa ulama negara itu.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa sedikitnya 5.000 orang tewas dalam protes tersebut, termasuk 500 anggota pasukan keamanan.
(fea)