Khawatir Serangan AS, Warga Iran Mulai Cari Tempat Perlindungan

CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 05:15 WIB
Warga Iran mulai cari tempat perlindungan hingga timbun kebutuhan pokok di tengah kekhawatiran serangan AS.
Ilustrasi. Warga di Iran mulai cari perlindungan di tengah ancaman serangan AS. Foto: REUTERS/Stringer
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Iran mulai mencari tempat perlindungan dan menimbun kebutuhan pokok, menyusul meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan serangan militer Amerika Serikat.

Ketegangan meningkat setelah beredar rumor mengenai ancaman serangan AS, menyusul pergerakan armada militer AS ke kawasan Timur Tengah sejak pekan lalu. 

"Saya terus menunggu serangan itu datang. Saya tidak bisa tidur sampai pagi. Saya terbangun berulang kali dan berusaha mendengar suara ledakan. Mari kita lihat apa yang terjadi malam ini," ujar seorang insinyur, Milad (43), seperti dikutip Middle East Eye.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keesokan harinya, seorang perempuan bernama Shohreh (68) yang rutin berolahraga pagi di taman dekat rumah di Teheran timur, mengatakan hampir semua temannya membicarakan kemungkinan serangan.

"Pagi ini, semua teman saya bilang serangan akan terjadi malam ini," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa meski menentang serangan asing terhadap Iran, banyak orang tampak putus asa akibat kekerasan yang dilakukan pemerintah.

"Mereka berpikir jika AS menyerang, semuanya akan baik-baik saja. Karena pembunuhan yang dilakukan Republik Islam, orang-orang menjadi putus asa. Mereka tidak lagi tahu mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan mereka," ujar dia.

Sementara itu, Arzoo (32), pegawai pemerintah yang menentang rezim, menggambarkan kecemasan sunyi di masyarakat.

"Tetangga saya di seberang jalan, di gedung tempat saya tinggal, sudah menutup jendelanya," kata Arzoo kepada Middle East Eye.

"Ia berkata, 'Tutup jendelanya. Kalau pengeboman terjadi, tidak ada bedanya antara rezim dan oposisi'," tambah dia.

Selain itu, Amin (75), pensiunan yang menderita penyakit ginjal, mengatakan ia membeli persediaan obat untuk tiga bulan dan menyimpan di rumah.

"Mungkin sebagian saran ini adalah manipulasi media, tetapi saya tetap membeli kebutuhan pokok sebagai langkah berjaga-jaga. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok," katanya.

Kekhawatiran serupa dirasakan diaspora Iran yang takut kehilangan kontak dengan keluarga akibat kemungkinan pemadaman internet nasional.

"Saya meminta orang tua saya meninggalkan Teheran sebelum perang baru dimulai," kata Fatemeh, warga Iran di Finlandia.

"Mereka menjawab tidak akan pergi ke mana pun karena memang tidak punya tempat tujuan. Karena itu saya meminta seorang teman dekat untuk mengunjungi mereka dan membeli kebutuhan dasar serta obat-obatan."

Di balik ketenangan yang rapuh, warga Iran terus bertanya-tanya apa yang harus dilakukan jika perang benar-benar dimulai.

Dalam sepekan terakhir, ketika AS kembali meningkatkan retorika perang, ancaman konflik berubah menjadi ketakutan nyata bagi warga Iran.

Pergerakan armada militer besar AS ke Timur Tengah, selain memicu kesepakatan senjata besar dengan Arab Saudi dan Israel, juga menimbulkan tekanan psikologis dan kekhawatiran mendalam di Iran.

Warga Iran masih terguncang oleh penindakan berdarah terhadap unjuk rasa yang pecah sejak 28 Desember lalu dan meluas ke berbagai kota.

Pemerintah Iran menyebut lebih dari 3.117 orang tewas, tetapi kelompok HAM memperkirakan jumlah korban jauh lebih besar bahkan lebih dari 6.500 orang dan mayoritas adalah warga sipil.

[Gambas:Video CNN]

(rnp/dna)