Presiden Iran Setuju Berunding dengan Trump Bahas Negosiasi Nuklir

CNN Indonesia
Selasa, 03 Feb 2026 16:40 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Foto: AFP/ATTA KENARE
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Iran Mahmoud Pezeshkian mengatakan siap kembali berunding dengan pemerintah Amerika Serikat terkait program nuklir demi kepentingan nasional, usai bertubi-tubi mendapat ancaman Presiden Donald Trump.

Namun, Pezeshkian mengajukan syarat bahwa negosiasi itu harus berlangsung tanpa ancaman.

"Saya sudah menginstruksikan Menteri Luar Negeri saya, dengan syarat kondisi lingkungan yang sesuai, yang bebas dari ancaman dan harapan yang tidak masuk akal, untuk melakukan negosiasi yang adil dan merata," kata Pezeshkian pada Selasa (3/2), dikutip AFP.

Dia lalu berujar, "Pembicaraan akan diadakan dalam kerangka kepentingan nasional kita."

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengatakan kesepakatan nuklir dengan AS bisa tercapai.

"Jadi saya melihat kemungkinan adanya pembicaraan lain jika tim negosiasi AS mengikuti apa yang dikatakan Presiden Trump: untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata guna memastikan tidak ada senjata nuklir," kata Araghchi.

"Jadi, jika memang demikian, saya yakin kita bisa mencapai kesepakatan," imbuh dia.

Pernyataan Pezeshkian muncul usai Trump mengatakan AS sangat berharap bisa mencapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklir.

"Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," kata Trump.

AS dan sekutunya Israel memandang program nuklir Iran berbahaya karena bisa berpotensi menghasilkan senjata. Namun, pemerintahan yang berbasis di Teheran itu berulang kali menegaskan program mereka ditujukan untuk perdamaian.

Washington juga meminta Teheran mengurangi produksi rudal mereka.

[Gambas:Video CNN]

Ultimatum Trump ke Iran sejalan dengan pengerahan kapal induk dan kapal perang AS di perairan Timur Tengah. Ketegangan AS-Iran meningkat tajam selama beberapa pekan terakhir sejak demonstrasi massal atau pada Desember lalu.

Jika, Iran tak kunjung menyepakati negosiasi, AS akan membuat nasib negara itu lebih buruk dari Venezuela. AS meluncurkan agresi ke Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro beserta ibu negaranya.

(isa/dna/bac)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK