Baru 4 Bulan Menjabat, Presiden Peru Dimakzulkan Imbas Skandal Korupsi
Presiden sementara Peru Jose Jeri dimakzulkan parlemen setelah baru empat bulan menjabat, menyusul tuduhan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, pada Selasa (17/2).
Jeri (39) dituduh terlibat perekrutan tidak wajar sejumlah perempuan di pemerintahannya, serta praktik korupsi yang melibatkan seorang pengusaha asal China.
Namanya menjadi sorotan setelah program investigasi televisi Cuarto Poder mengungkap sejumlah perempuan diduga mendapat pekerjaan setelah bertemu dengannya. Jaksa menyebut total yang terlibat mencapai sembilan orang.
Ia juga diselidiki atas dugaan "sponsorship kepentingan ilegal" terkait pertemuan rahasia dengan pengusaha China yang memiliki hubungan bisnis dengan pemerintah.
Pekan lalu, jaksa mulai menyelidiki dugaan penyalahgunaan pengaruh dalam penunjukan jabatan pemerintah. Namun, Jeri membantah tuduhan tersebut.
Kongres dijadwalkan memilih pemimpin parlemen baru pada Rabu, yang otomatis akan menjadi presiden sementara hingga Juli. Salah satu kandidat yang mendaftar adalah Maria del Carmen Alva dari Popular Action.
Para pesaingnya antara lain anggota parlemen sayap kiri Jose Balcazar, politikus sosialis senior Edgar Raymundo, serta Hector Acuna, perwakilan partai yang terseret isu korupsi.
Situasi ini menambah ketidakpastian politik di tengah lemahnya kepercayaan publik terhadap parlemen.
"Sulit menemukan pengganti yang memiliki legitimasi politik di Kongres saat ini, yang dinilai menunjukkan kinerja lemah dan dicurigai sarat korupsi," kata analis politik Augusto Alvarez kepada Agence France-Presse, dikutip AFP.
Sejumlah pengamat menilai pemakzulan ini juga dipengaruhi dinamika politik menjelang pemilu yang diikuti lebih dari 30 kandidat.
Politikus sayap kanan Rafael Lopez Aliaga dari Popular Renewal termasuk tokoh yang paling vokal menuntut pencopotannya.
Jeri sebelumnya ditunjuk untuk menyelesaikan sisa masa jabatan presiden sebelumnya, Dina Boluarte, yang juga dimakzulkan di tengah protes korupsi dan kekerasan terkait kejahatan terorganisasi.
Saat itu, Jeri yang menjabat ketua parlemen ditunjuk menyelesaikan sisa masa jabatan hingga Juli, dan secara konstitusional tidak boleh mencalonkan diri dalam pemilu.
Sejak 2016, Peru telah memiliki tujuh presiden, beberapa di antaranya dimakzulkan, diselidiki, atau divonis bersalah.
Negara Amerika Selatan itu juga dilanda maraknya pemerasan yang menewaskan puluhan orang, terutama sopir bus yang ditembak karena perusahaan mereka menolak membayar uang perlindungan.
Dalam dua tahun terakhir, jumlah kasus pemerasan yang dilaporkan di Peru melonjak lebih dari sepuluh kali lipat, dari 2.396 kasus menjadi lebih dari 25.000 kasus pada 2025.
(rnp/rds)