PM Australia Dievakuasi dari Rumah Dinas, Picu Operasi Besar Polisi

CNN Indonesia
Rabu, 25 Feb 2026 07:05 WIB
PM Australia Anthony Albanese dievakuasi dari kediaman dinasnya, The Lodge, di Canberra menyusul dugaan "insiden keamanan" pada Selasa (24/2). (Foto: AFP/HILARY WARDHAUGH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dievakuasi dari kediaman dinasnya, The Lodge, di Canberra menyusul dugaan "insiden keamanan" pada Selasa (24/2).

Insiden di kediaman resmi Albanese di Canberra itu memicu operasi besar kepolisian dan membuat perdana menteri dipindahkan ke lokasi lain selama beberapa jam.

Australian Federal Police (AFP) mengonfirmasi bahwa pada pukul 18.00 mereka merespons "dugaan insiden keamanan".

"Penyisiran menyeluruh terhadap fasilitas yang dilindungi telah dilakukan dan tidak ditemukan hal mencurigakan," demikian pernyataan AFP.

"Tidak ada ancaman terhadap masyarakat atau keselamatan publik saat ini."

AFP bertanggung jawab atas perlindungan anggota parlemen federal serta sejumlah gedung Persemakmuran, termasuk The Lodge dan Parliament House.

Juru bicara perdana menteri menyatakan "Kami mempercayai AFP untuk menjalankan tugasnya dan berterima kasih atas kerja mereka."

AFP menambahkan rincian lebih lanjut soal apa yang terjadi akan disampaikan kemudian.

Kejadian ini terjadi kala ancaman terhadap sejumlah anggota parlemen Australia meningkat.

AFP melaporkan ada peningkatan jumlah ancaman terhadap anggota parlemen dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pelecehan serta komunikasi yang bersifat menghina dan mengancam.

Pada pertengahan 2024, AFP juga pernah melaporkan bahwa ancaman terhadap keselamatan politikus federal meningkat dua kali lipat dalam dua tahun sebelumnya.

Politikus dari berbagai spektrum politik menghadapi ancaman, termasuk surat bernada mengancam yang dikirim kepada senator independen Lidia Thorpe dan Fatima Payman.

[Gambas:Video CNN]

Awal Februari lalu, seorang pria asal Melbourne didakwa atas dugaan ancaman pembunuhan dan komentar antisemit terhadap seorang anggota parlemen federal.

Polisi menyatakan pria berusia 33 tahun itu menggunakan media sosial dan email untuk menghubungi seorang anggota parlemen federal yang berbasis di New South Wales beberapa kali pada Januari. Ia beberapa kali melontarkan ancaman pembunuhan serta komentar antisemit.

Saat itu, Albanese mengatakan pengaturan keamanan bagi politikus federal terus dipantau.

"Kita hidup dalam situasi di mana jumlah ancaman terhadap wakil rakyat terpilih meningkat secara signifikan. Kita juga perlu melihat mengapa sebagian dari ini terjadi," ujar Albanese seperti dikutip ABC Net.

AFP membentuk tim investigasi keamanan nasional pada Oktober 2025 untuk "menindak kelompok dan individu yang menyebabkan tingkat kerusakan tinggi terhadap kohesi sosial Australia, termasuk yang menargetkan anggota parlemen federal."

Komisioner AFP Krissy Barrett mengungkapkan bahwa 21 orang telah didakwa secara nasional sejak tim tersebut dibentuk.

"Sebagian besar dakwaan ini berkaitan dengan ancaman terhadap anggota parlemen, pejabat tinggi, dan komunitas Yahudi," katanya dalam sidang komite anggaran Senat pada Februari.

Barrett juga menyampaikan bahwa ia menerima laporan harian yang "merangkum 24 jam terakhir terkait ancaman serta komunikasi ofensif dan menjijikkan kepada anggota parlemen."

"Anda bisa membayangkan seberapa panjang laporan itu pada hari-hari tertentu," ujarnya.

Dalam insiden terpisah, seorang pria divonis bersalah pada 10 Februari karena menggunakan media sosial untuk mengintimidasi, melecehkan, dan menghina Albanese. Pengadilan mendengar bahwa ancaman pembunuhan serta hinaan kasar juga ditujukan kepada perdana menteri dan istrinya.

Albanese dan para menteri seniornya berulang kali menyerukan agar ketegangan diturunkan di tengah meningkatnya konflik sosial yang memicu ketegangan domestik.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK