Jakarta, CNN Indonesia --
Kota Nuuk di Greenland, pulau terbesar di dunia yang 80 persen wilayahnya tertutup salju itu, menjadi kawasan dengan durasi puasa terlama.
Waktu puasa di sana mencapai 17 jam 52 menit. Bandingkan dengan waktu di Indonesia yang rata-rata berpuasa hanya 13 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 2019 Greenland bahkan punya durasi puasa lebih panjang lagi yaitu antara 19-21 jam.
Urutan selanjutnya, kawasan yang juga tak jauh dari Greenland yaitu Helsinki, Finlandia dengan durasi berpuasa selama 17 jam 9 menit.
Kemudian durasi berpuasa di Oslo, Norwegia mencapai 16 jam 54 menit. Dilajutkan dengan durasi berpuasa di Madrid, Spanyol dan Paris, Perancis yang mencapai 15-16 jam.
Greenland, kawasan bersalju yang diincar Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu, berada di Lautan Arktik dan Atlantik, di mana letaknya terdapat di bagian utara dunia.
Meskipun luas, namun penduduk Greenland tidak banyak hanya 57.000 saja. Angka ini membuat Greenland menjadi negara yang paling jarang penduduk dengan kepadatan penduduk hanya 0,026 orang per kilometer persegi.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Data dari The Association of Religion Data Archieves menyebutkan populasi umat Islam di Greenland sangat kecil, hanya 0,02 persen dari seluruh populasi.
Bahkan secara umum, warga Greenland tidak begitu mengenal komunitas Islam. Misalnya, dari catatan media di sana, rata-rata hanya mengabarkan beberapa editorial yang menyentuh aspek doktrin, sejarah, atau hukum Muslim sebagai selingan.
Pembaca di Greenland juga kadang-kadang diberi informasi tentang peristiwa seputar komunitas Muslim yang berkembang di Denmark.
Salah satu pertemuan substansial paling awal antara penduduk Greenland dan Islam terjadi pada tahun 1967, ketika dilaporkan dalam surat kabar Atuagagdliutit yang terbit 11 Mei 1967, ada mahasiswa di seminari Lutheran Nuuk mengajar siswa lain tentang Islam.
Penulis Dr Rebecca Jane Morgan, yang menyebut dirinya sejarawan agama dan politik trans dari Wales Selatan, menuliskan pada situsnya, rebeccajanemorgan.medium.com, bahwa pada tahun 1950-an hingga 1990-an, penyebutan Islam dan Muslim (atau 'Muhammedanske') dalam pers Greenland sebagian besar berbentuk catatan perjalanan dan profil negara.
Perkenalan warga Greenland dengan Islam pada abad ke-21, sangat dipengaruhi oleh konteks politik imigrasi Muslim dan sentimen anti-Muslim di Denmark, khususnya setelah surat kabar Denmark Jyllands-Posten menerbitkan kartun karya Kurt Westergaard yang menggambarkan Nabi Muhammad pada tahun 2005.
Namun, ada juga kabar bahwa Greenland punya dua Muslim yang berpuasa di sana yaitu Wassam Azaqeer. Wassam asal Lebanon yang pindah ke Greenland pada tahun 2000-an dan membuka restoran populer di Nuuk.
Kisahnya sebagai 'satu-satunya Muslim di negara bagian ini' menarik perhatian internasional pada tahun 2011 melalui laporan TV Arab yang menyatakan bahwa restoran Azaqeer dikunjungi oleh sekitar 200 pelanggan per hari.
Penyebab utama ketertarikan adalah kenyataan bahwa, karena Ramadan (bulan suci di mana umat Muslim berpuasa dari matahari terbit hingga matahari terbenam) terjadi selama musim panas ketika kegelapan hanya berlangsung singkat di Nuuk, Azaqeer harus berpuasa kala itu hingga 21 jam setiap harinya.
Meskipun terkadang ia mempertimbangkan untuk kembali ke Lebanon untuk Ramadan, Azaqeer biasanya memutuskan untuk tinggal, dengan alasan bahwa jika ia pergi, tidak akan ada seorang pun di seluruh Greenland yang berpuasa.
Warga Islam kedua yang berpuasa di Greenland adalah Ahmed Akkari. Akkari pindah ke Greenland pada tahun 2008 untuk bekerja selama dua tahun sebagai guru sekolah di kota Narsaq di selatan, di mana ia mengatakan bahwa ia memiliki "banyak waktu untuk membaca dan menulis."
Di sisi lain, ia memilih Greenland karena ingin menajuh dari apa yang disebutnya sebagai kaum "Islamis munafik" yang memanfaatkan agama hanya demi status. Meski demikian, Akkari tetap seorang Muslim yang taat.
Pada tahun 2014 ia menerbitkan memoarnya, Min Afsked med Islamismen (Perpisahanku dengan Islamisme), di mana ia sepenuhnya menolak Islamisme yang penuh kekerasan. Namun kabar keduanya tak diketahui lagi, apakah tetap di Greenland atau sudah pindah.
Tiga pilihan puasa
Namun menurut Rebecca, umat Islam lainnya di wilayah Arktik dan sub-Arktik memilih untuk tidak menjalankan puasa ketat dari matahari terbit hingga matahari terbenam, seperti dilaporkan dengan penuh minat oleh surat kabar Greenland Sermitsiaq yang mengutip Abdifatah Hassan dari Pusat Islam untuk Norwegia Utara di Tromsø.
Karena tidak ada matahari terbenam sama sekali di puncak musim panas, itu artinya umat Islam memiliki tiga pilihan: Pertama, mereka dapat membagi hari menjadi dua slot 12 jam dan berpuasa di salah satu slot tersebut.
Kedua, mereka dapat berpuasa sesuai dengan matahari terbit dan terbenam di kota-kota suci Mekah atau Madinah.
Ketiga, mereka dapat mengatur waktu puasa mereka sesuai dengan matahari terbit dan terbenam di tempat terdekat di mana hal itu terjadi.
"Islam mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda seperti agama arus utama lainnya," kata Rebecca.