Jakarta, CNN Indonesia --
Pertemuan Perdana Menteri India Narendra Modi dan PM Benjamin Netanyahu di Israel pada Rabu (25/2) menjadi sorotan lantaran keduanya terlihat sangat mesra.
Modi terlihat begitu antusias ketika turun dari pesawatnya di Bandara Tel Aviv, hingga langsung memeluk erat Netanyahu yang menyambutnya langsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Netanyahu memuji gestur Modi dengan menyebut hal itu simbol "persahabatan yang luar biasa, baik secara pribadi maupun antara kedua negara dan bangsa".
"Pelukan pribadi Perdana Menteri Modi adalah sesuatu yang istimewa, yang dikenal sebagai 'pelukan Modi'. Hal ini terkenal di seluruh dunia, dan ketika Anda memeluk seseorang dengan erat, sungguh, Anda tahu bahwa itu bukan akting. Itu hal yang nyata," kata Netanyahu, seperti dikutip NDTV.
Kunjungan Modi ke Israel ini adalah yang pertama sejak 2017 sekaligus yang pertama sejak Israel meluncurkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina.
Meskipun India mengkritik perang brutal di Gaza serta ekspansi Israel di Tepi Barat, New Delhi juga tetap mempertahankan hubungannya dengan Israel bahkan semakin erat di era Modi. Kenapa?
Hubungan erat tersebut dibangun secara bertahap sejak normalisasi penuh pada 1992 dan semakin menguat dalam dua dekade terakhir.
Ada beberapa faktor utama yang memperkuat relasi India-Israel belakangan antara lain keamanan, pertahanan strategis, dan kedekatan personal Modi dengan Netanyahu, dan geopolitik.
Dalam bidang keamanan, India menghadapi ancaman terorisme lintas batas selama puluhan tahun, terutama terkait konflik di Kashmir dan serangan kelompok militan pro-Pakistan.
Serangan Hamas ke Israel dipandang New Delhi dalam kerangka yang sama: serangan teror oleh milisi oposisi.
Karena itu, India secara konsisten mengecam terorisme "dalam segala bentuk dan manifestasinya", termasuk dalam pernyataan resmi setelah serangan 7 Oktober 2023, yang menjadi pematik agresi Israel yang lebih brutal lagi ke Jalur Gaza Palestina.
Modi bahkan berulang kali menegaskan dukungan India ke Israel terutama dalam "melawan teroris".
Dikutip Indian Express, menurut Profesor Hubungan Internasional Institut Ilmu Politik Universitas Leiden Belanda, Nicolas Blarel, kunjungan Modi ke Israel dilakukan setelah India terlibat konfrontasi militer dengan Pakistan pada tahun lalu.
Situasi ini menggarisbawahi pentingnya memperkuat pertahanan dan keamanan India, terutama setelah Pakistan berulang kali menyatakan bersedia perang nuklir jika bentrok lagi dengan India.
Pakistan sendiri belakangan ini sedang bertikai dengan Afghanistan. Modi tampaknya ingin buru-buru memperkuat pencegahan dan memodernisasi peralatan militernya.
Baca di halaman berikutnya >>>
Mitra Intelijen
Dikutip Al Jazeera, Israel juga menjadi mitra penting India dalam Intelijen dan keamanan siber. Secara praktis, Israel adalah salah satu pemasok utama persenjataan bagi India.
India juga merupakan salah satu pembeli terbesar sistem pertahanan Israel dalam 10 tahun terakhir. Sejak 1990-an, kerja sama militer kedua negara juga meningkat tajam.
Israel memasok sistem pertahanan udara (misalnya Barak), Radar dan drone, hingga modernisasi avionik dan sistem tempur
Hubungan ini semakin dipublikasikan secara terbuka sejak era Perdana Menteri Narendra Modi, yang pada 2017 menjadi PM India pertama yang berkunjung ke Israel.
Ekonomi
Selain itu, kunjungan Modi ke Israel juga menggarisbawahi minat India pada proyek konektivitas dan integrasi ekonomi jangka panjang, terutama di Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa (IMEC).
IMEC, yang digadang-gadang jadi koridor perdagangan dan infrastruktur multimodal yang mengubungkan India ke Eropa lewat negara Teluk dan Israel, diumumkan dengan meriah saat KTT G20 di India. Namun, pelaksanaan kerja sama ini tak lama kemudian dibayangi perang.
Menurut Blarel, bagi New Delhi, menghidupkan kembali atau mempertahankan momentum di balik IMEC butuh keterlibatan dengan semua simpulnya, termasuk Israel dan beberapa mitra dekat Israel seperti Yunani dan Siprus.
India memandang IMEC sebagai mekanisme untuk menancapkan diri secara struktural dalam rantai pasok Timur Tengah dan Eropa, terutama setelah perjanjian perdagangan bebas (FTA) baru-baru ini diteken bersama Uni Emirat Arab dan Uni Eropa.
Dalam hal ini, kunjungan Modi ke Israel sama pentingnya dengan pen positioning ekonomi jangka panjang seperti halnya kesepakatan pertahanan.
Selain itu, Modi, menurut Blarel, juga kelihatan ingin menyeimbangkan hubungan India-Israel dengan India-BRICS. Anggota BRICS mayoritas sangat kritis terhadap perilaku Israel di Gaza.
Sebagai negara yang akan mengambil alih kepemimpinan BRICS dan berencana mengadakan KTT BRICS ke-18, Modi tampaknya ingin menjelaskan posisi strategis nasionalnya di forum tersebut.
Hubungan personal Modi
Di bawah Modi, hubungan India-Israel memang menjadi lebih terbuka dan simbolis.
Sejak Modi menorehkan sejarah sebagai PM India pertama yang berkunjung ke Israel pada 2017 lalu, ia dan Netanyahu terus menunjukkan kedekatan yang sangat kasat mata seperti penyambutan langsung di bandara, gestur pelukan (Modi hug), hingga interaksi publik kedua PM yang hangat dan informal
Dalam diplomasi, simbolisme seperti ini penting karena menandakan kepercayaan dan kenyamanan politik tingkat tinggi.
Ada faktor ideologis soal kedekatan Modi dan Netanyahu. Kedua PM dinilai memiliki sejumlah kesamaan yakni sama-sama pemimpin nasionalis dengan basis politik konservatif, retorika tegas soal keamanan dan terorisme, hingga penekanan kuat pada identitas nasional yakni Hindutva di India dan Zionisme di Israel.
Pemerintahan Modi (Partai BJP) juga memiliki pendekatan keamanan nasional yang tegas.
Sementara itu, India memandang Israel sebagai negara yang keras terhadap ancaman keamanan.
Retorika "melawan terorisme" menjadi titik temu politik kedua negara.
Secara historis, India mendukung perjuangan Palestina dan memiliki hubungan baik dengan negara-negara Arab.
Namun sejak 1990-an, India menerapkan kebijakan yang lebih pragmatis: menjalin hubungan kuat dengan Israel dengan tetap menjaga hubungan baik dengan Palestina dan negara Teluk Arab.