Trump Persulit Jalur Diplomasi: Iran Harus Menyerah Tanpa Syarat!
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memaksa Iran untuk menyerah tanpa syarat usai perang berlangsung lebih dari sepekan.
"Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat!" tulis Trump dalam akun Truth Social, Jumat (6/3).
Desakan Trump dinilai dapat mempersulit upaya diplomatik untuk segera mengakhiri konflik. Sebab, pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan sejumlah negara telah memulai upaya mediasi untuk menghentikan perang.
Trump menambahkan setelah tuntutannya dipenuhi dan terpilih pemimpin tertinggi yang dapat diterima AS, maka pihaknya dan sekutu akan membantu Iran bangkit kembali secara ekonomi.
Beberapa jam sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan sejumlah negara telah mulai melakukan upaya mediasi, meski tidak menyebutkan negara mana saja.
"Kami berkomitmen pada perdamaian yang berkelanjutan di kawasan, tetapi tidak akan ragu membela martabat dan kedaulatan negara kami," katanya.
Pernyataan serampangan Trump memicu kegelisahan di pasar keuangan global. Indeks saham Eropa dan AS anjlok tajam, sementara harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2023 gara-gara aliran pasokan energi terganggu.
Sebelumnya, Trump juga mendesak ingin punya peran dalam menentukan siapa pemimpin tertinggi baru Iran untuk menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pemerintah AS sudah mulai mempertimbangkan sejumlah kandidat.
Namun, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani menegaskan pemimpin baru Iran akan dipilih sesuai konstitusi negara tersebut, tanpa campur tangan asing.
Iran mencatat sedikitnya 1.332 warga sipil tewas dalam perang melawan AS dan Israel, sementara ribuan lainnya terluka.
Iravani menegaskan AS dan Israel sengaja menargetkan infrastruktur sipil. Sementara pihaknya menargetkan lokasi militer, bukan area warga sipil.
Ia juga mengatakan Iran tidak menargetkan fasilitas non-militer di negara-negara tetangga, serta sedang menyelidiki tuduhan itu.
Kepada Reuters, dua pejabat AS mengatakan penyelidik militer menduga pasukan AS kemungkinan bertanggung jawab atas serangan yang mengenai sebuah sekolah perempuan di Iran pada hari pertama perang dan menewaskan ratusan anak-anak. Namun penyelidikan masih berlangsung.
Serangan Iran juga telah menewaskan 11 orang di Israel, sementara enam tentara AS dilaporkan tewas sejak konflik dimulai.
Perang Iran melawan AS dan Israel pecah pada 28 Februari lalu.
Konflik terjadi lantaran serangan provokasi Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terlebih dahulu ke Teheran, saat negosiasi program nuklir Iran sedang berjalan.