Sejak Kapan Indonesia Jalin Hubungan Diplomatik dengan Iran?
Serangan Israel yang dibantu Amerika Serikat ke Iran, membuat perhatian warga tertuju ke Iran.
Iran kemudian dinarasikan sebagai kekuatan yang berani melawan kesewenang-wenangan Amerika dan Israel. Apalagi setelah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khemeni gugur dalam serangan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia, Iran sudah lama dikenal terutama dari karya seninya.
Sejak kapan Indonesia dan Iran menjalin hubungan diplomatik?
Dilansir dari laman Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), hubungan bilateral Indonesia dan Iran merupakan kemitraan strategis yang telah berlangsung
lama dan stabil, didukung oleh kepentingan bersama di bidang ekonomi, energi, serta solidaritas terhadap isu-isu global dan kawasan.
"Sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada tahun 1950, kedua negara terus memperkuat sinergi dalam berbagai kerjasama strategis, antara lain bidang perdagangan, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan isu-isu global yang menjadi perhatian kedua negara, termasuk dukungan terhadap hak-hak Palestina dan penyelesaian konflik regional melalui jalur diplomasi. Kedekatan ini juga diwujudkan dalam dukungan dan kolaborasi di berbagai forum internasional, seperti PBB, OKI, D-8, hingga BRICS," demikian laman Kemenlu menjelaskan.
Penyerahan surat kepercayaan Duta Besar Iran kepada Presiden Sukarno terjadi pada pada Mei 1951, dengan Abdul Ahad Yekta sebagai Dubes pertama. Semenjak itu, hubungan kedua negara berjalan nyaris tanpa gangguan.
"Iran merupakan tempat lahirnya salah satu peradaban tertua dan paling berpengaruh di dunia,
Kekaisaran Persia, serta memegang posisi sentral dalam negosiasi internasional terkait isuisu Timur Tengah yang diperkuat oleh pengaruh politik dan militernya di kawasan," laman Kemenlu menambahkan.
Posisi geostrategis Iran menghubungkan Asia Tengah, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Kaukasus, serta mengelola jalur pelayaran vital di Teluk Persia dan Selat Hormuz, penting bagi perdagangan minyak dunia, di samping posisinya sebagai salah satu produsen minyak dan gas alam terbesar yang vital dalam mendukung ketahanan energi global.
Hal ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kerjasama bilateral yang berkelanjutan dan saling menguntungkan bagi kedua negara.
Namun jauh sebelum kedua negara memiliki hubungan diplomatik, bangsa Persia sudah hadir di Nusantara. Hal itu dibuktikan dengan makam-makam kuno seperti nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, makam Hussein Khair bin Amir Ali Astarabadi di Sumatera, dan makam Hussein Farsi di Jawa.
(imf/bac)[Gambas:Video CNN]

