Mosaic Defense, Taktik Rahasia Iran Bertahan Hadapi Gempuran AS-Israel
Strategi Mosaic Defense bertujuan mengurangi dampak serangan AS atau Israel yang menargetkan pimpinan dan sistem komando Iran.
Dikutip The Soufan Center, pendekatan ini menunjukkan Iran mengandalkan rasa kelelahan musuh dengan menguras sumber daya pertahanan AS, Israel, dan sekutunya melalui eskalasi asimetris.
Taktik "salami slicing" digunakan untuk melemahkan ekonomi lawan secara bertahap agar perang menjadi tidak populer di dalam negeri mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui sistem ini, unit Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang semi-otonom tidak menjadi satu-satunya pusat komando perang.
Alih-alih bergantung pada satu "otak" komando pusat yang kemungkinan besar bisa dilumpuhkan musuh, taktik Mosaic Defense ini memberikan kewenangan dan kemampuan militer ke berbagai titik geografis dan organisasi, dengan rantai komando yang saling tumpang tindih serta rencana kontinjensi yang telah disiapkan sebelumnya.
Menurut laporan Reuters, sumber-sumber Iran menjelaskan bahwa IRGC telah mendelegasikan kewenangan perang hingga ke tingkat yang jauh lebih rendah dalam struktur militer dan membangun "tangga suksesi" agar unit-unit tetap dapat beroperasi jika para komandan terbunuh.
Dalam wawancara televisi yang juga dikutip Reuters, Wakil Menteri Pertahanan Iran Reza Talaeinik mengatakan setiap tokoh dalam struktur komando telah menunjuk pengganti, hingga tiga tingkat di bawahnya yang siap mengambil alih posisi mereka.
Setiap unit pun memiliki kapasitas militer sendiri, termasuk intelijen, persenjataan, dan sistem komando.
Pendekatan ini terlihat sejak serangan balasan Iran pasca Operasi Epic Fury, operasi militer gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu yang memicu perang pecah.
Kondisi itu dinilai dapat menyulitkan opsi invasi darat AS atau Israel jika serangan udara tidak menghasilkan dampak yang diharapkan.
Selain desentralisasi, pilar utama strategi Iran adalah penggunaan rudal dalam perang kelelahan melawan AS dan Israel.
Meski kemampuan rudal sempat melemah setelah perang 12 hari akibat serangan Israel, Iran kemudian meningkatkan produksi dan mengisi kembali stoknya.
Iran disebut memiliki sekitar 2.500 rudal pada awal Operasi Epic Fury dan terus menggunakannya untuk menimbulkan biaya militer serta dampak ekonomi besar bagi lawannya.
Program rudal ini berkaitan erat dengan strategis perang asimetris Iran, di mana Teheran menyadari keterbatasan dalam perang konvensional melawan AS.
Ia mengandalkan ketimpangan biaya dengan menggunakan drone Shahed yang lebih murah dibanding rudal pencegat Patriot milik AS dan sekutunya.
Iran juga memanfaatkan jaringan proksi "Axis of Resistance," seperti Hizbullah, Houthi, Hamas, kelompok Palestina, dan milisi Irak.
Doktrin "mosaic defense" sendiri terbentuk selama puluhan tahun, terutama setelah Perang Iran-Irak pada 1980 hingga 1988 serta pengalaman konflik di Lebanon.
Pengalaman itu membentuk strategi Iran yang bertumpu pada perang proksi, taktik asimetris, dan penggunaan rudal balistik untuk menghadapi lawan dengan keunggulan teknologi dan jumlah personel.
Konsep mosaic defense diformalkan pada 2005 ketika IRGC merestrukturisasi sistem komandonya menjadi 31 komando terpisah.
Langkah ini terinspirasi dari operasi militer AS, di mana rezim tersentralisasi mudah dilumpuhkan melalui serangan kepemimpinan.
(rnp/rds)[Gambas:Video CNN]
