5 Poin Pernyataan Perdana Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pidato pertamanya pada Kamis (12/3) sejak ditunjuk memimpin negara yang tengah digempur Amerika Serikat dan Israel itu.
Mojtaba ditunjuk untuk menggantikan mendiang sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah menjadi pemimpin tertinggi Iran sejak 1989. Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari lalu, yang memicu perang meluas di Timur Tengah hingga hari ini.
Serangan AS-Israel itu tak hanya menewaskan ayah Mojtaba, tapi juga ibu hingga istrinya. Menurut laporkan beberapa pejabat Iran, Mojtaba sendiri terluka imbas serangan AS-Israel yang menyasar kompleks tempat tinggal keluarga Khamenei di Teheran
Namun hingga kini masih terdapat ketidakpastian mengenai keberadaan dan kondisi fisiknya.
Berikut lima poin utama dari pernyataan perdana Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran:
1. Tak ada kejelasan kondisi Mojtaba
"Pesan pertama pemimpin tertinggi revolusi Islam, Yang Mulia Ayatollah Seyyed Mojtaba Hossein Khamenei!" ujar seorang pembawa acara televisi Iran sebelum membacakan pernyataan panjang tersebut.
Namun, pernyataan itu tidak disertai upaya untuk mengakhiri spekulasi mengenai kondisi Khamenei. Tidak ada video, rekaman suara, maupun foto terbaru dirinya yang ditampilkan.
Lihat Juga : |
Sebaliknya, pernyataan tersebut dibacakan dengan latar foto arsip Khamenei dan bendera Republik Islam Iran yang dibuat secara grafis.
2. Seruan balas dendam ke AS-Israel
Dalam pernyataan itu, Khamenei tidak memberi sinyal bahwa ia ingin berdamai dengan musuh-musuh Iran. Ia justru menegaskan tekad untuk membalas dendam dalam perang yang menewaskan ayah dan istrinya.
"Sebagian kecil dari balas dendam ini sejauh ini telah terwujud secara nyata, tetapi hingga sepenuhnya tercapai, hal ini akan tetap menjadi prioritas kami," kata Khamenei seperti dikutip AFP.
"Kami akan menuntut kompensasi dari musuh. Jika mereka menolak, kami akan mengambil sebanyak mungkin harta mereka sesuai yang kami tentukan, dan jika itu tidak memungkinkan, kami akan menghancurkan jumlah properti yang setara milik mereka," tambahnya.
Ia juga menyinggung serangan mematikan AS terhadap sebuah sekolah di Minab, selatan Iran, yang menewaskan 150 orang. Mojtaba menyebut serangan itu sebagai "kejahatan yang sengaja dilakukan musuh".
New York Times melaporkan penyelidikan awal militer Amerika Serikat juga menyimpulkan rudal AS tersebut menghantam sekolah akibat kesalahan penentuan target.
3. Pamer kemampuan bertahan Iran
Dalam pidato perdananya, Mojtaba juga menggemakan retorika mendiang ayahnya terkait kemampuan Iran untuk mengganggu stabilitas kawasan dengan menekan pasokan minyak serta memanfaatkan jaringan sekutu regional.
Ia menyerukan blokade Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, akan terus berlanjut.
"Kehendak rakyat adalah melanjutkan pertahanan yang efektif dan bersifat menangkal yang akan membuat musuh menyesali tindakannya," ucap Mojtaba.
Ia juga memperingatkan bahwa "kajian telah dilakukan untuk membuka front-front lain di mana musuh memiliki sedikit pengalaman dan akan sangat rentan," tanpa merinci lebih lanjut.
Front tersebut, kata dia, akan "diaktifkan" jika perang terus berlanjut.
4. Pesan ke negara tetangga Arab Cs
Khamenei menyatakan Iran berbagi perbatasan darat atau laut dengan sekitar 15 negara Timur Tengah dan "selalu menginginkan hubungan yang hangat dan konstruktif" dengan para tetangga tersebut.
Namun ia mendesak penutupan pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah. Ia mengatakan klaim Washington mengenai upaya menciptakan keamanan dan perdamaian hanyalah "kebohongan".
"Negara-negara ini harus menentukan sikap mereka terhadap pihak yang telah menyerbu tanah air kami yang tercinta dan membunuh rakyat kami," ujarnya.
5. Duka cita bagi keluarganya
Mojtaba memuji ayahnya sebagai "harta yang bersinar dan tokoh luar biasa dalam sejarah", serta mengatakan ia melihat langsung jasad sang ayatollah setelah "kesyahidan"-nya.
Ia menggambarkan tubuh ayahnya sebagai "gunung keteguhan".
Mojtaba juga menegaskan bahwa selain ayahnya, ia turut kehilangan "istri tercinta yang setia", saudara perempuannya, anak dari saudara tersebut, serta saudara iparnya dalam serangan itu.
Ia tidak menyebut ibunya, yang sebelumnya dilaporkan juga tewas. Kantor berita Fars News Agency namun pada Kamis menyatakan laporan tersebut tidak akurat dan bahwa ibunya masih hidup.
(rds)