Netanyahu Panik Langsung Rapat Darurat usai Trump Tunda Serang Iran

CNN Indonesia
Selasa, 24 Mar 2026 15:50 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu gelar rapat darurat usai Trump tunda serang fasilitas energi Iran. Foto: REUTERS/Nathan Howard
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar rapat darurat pada Senin (23/3) malam waktu setempat, usai Amerika Serikat disebut hampir mencapai kesepakatan dengan Iran.

Menurut laporan media Israel seperti dilansir Anadolu Agency, Netanyahu memanggil para pemimpin partai koalisi pemerintahannya untuk pertemuan mendesak.

Netanyahu disebut meminta pertemuan itu dalam waktu satu jam, tanpa memberi tahu agenda apa yang dibahas dalam rapat darurat tersebut.

Laporan media mengatakan pertemuan Netanyahu dan para pemimpin partai diduga terkait dengan perang yang sedang berlangsung, dan upaya AS untuk mengejar kemungkinan kesepakatan dengan Iran.

Sebelumnya Netanyahu mengeklaim bahwa dia telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin.

"Trump percaya ada peluang untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, untuk melindungi kepentingan vital kita," kata Netanyahu.

Awal pekan ini, Trump disebut mulai "melunak" terhadap Iran, dengan menunda rencana serangan militer fasilitas energi Iran selama lima hari. Padahal sebelumnya, Trump melontarkan ultimatum keras agar Teheran membuka blokade Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Trump mengeklaim penundaan serangan itu diambil setelah ada komunikasi "baik dan produktif" antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir.

"Saya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari," tulis Trump di platform Truth Social.

Dia bahkan mengeklaim AS dan Teheran memiliki titik kesepakatan besar dan membuka peluang tercapainya kesepakatan untuk meredam konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, Iran membantah klaim Trump. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengaku Teheran tak melakukan perundingan apa pun dengan Washington selama perang berlangsung.

"Iran tidak mengadakan negosiasi apa pun dengan AS dalam 24 hari terakhir perang yang dipaksakan," ungkap Baghaei.

Menurutnya, Iran dalam beberapa hari terakhir memang menerima pesan dari AS lewat negara-negara perantara yang dianggap "bersahabat". Pesan itu yakni permintaan untuk membuka negosiasi demi mengakhiri perang.

Namun Baghaei menegaskan Iran bakal merespons sesuai prinsip yang dipegang negara tersebut, termasuk memberi peringatan keras terkait potensi serangan terhadap infrastruktur vital. Dia menegaskan setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dibalas.

(dna)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK